AS Serang Kapal Diduga Penyelundup Narkoba di Pasifik Timur, 2 Orang Tewas dan 1 Selamat
Wahyu Gilang Putranto February 10, 2026 03:32 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Militer Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan mematikan terhadap sebuah kapal di Samudra Pasifik bagian timur pada Senin (9/2/2026).

Dalam serangan tersebut, dua orang dilaporkan tewas dan satu orang lainnya selamat, menurut keterangan resmi militer AS.

Komando Selatan AS (US SOUTHCOM), yang membawahi operasi militer di Amerika Latin dan Karibia, menyebut serangan itu sebagai “serangan kinetik mematikan.”

Kapal yang diserang disebut melintas di jalur perdagangan narkoba yang dikenal di kawasan Pasifik timur.

Militer AS menuding kapal tersebut dioperasikan oleh organisasi yang terlibat dalam perdagangan narkoba internasional.

Namun, pernyataan resmi SOUTHCOM tidak menyertakan bukti konkret terkait dugaan keterlibatan kapal tersebut dalam penyelundupan narkoba.

Dalam pernyataannya, militer menyebut dua korban tewas sebagai “teroris narkoba.”

“Dua teroris narkoba tewas dan satu orang selamat dari serangan itu,” kata pernyataan US SOUTHCOM.

Militer AS menyatakan bahwa setelah serangan terjadi, pihaknya segera memberi tahu Penjaga Pantai AS.

Penjaga Pantai AS diminta untuk mengaktifkan misi pencarian dan penyelamatan bagi korban yang selamat.

Baca juga: Inter Miami Tur Pramusim ke Karibia, Lionel Messi Tampil Perdana di Puerto Riko

Seorang juru bicara Penjaga Pantai AS mengatakan bahwa koordinasi pencarian dan penyelamatan dialihkan kepada Pusat Koordinasi Penyelamatan Maritim Ekuador.

Penjaga Pantai AS disebut akan memberikan dukungan teknis dalam operasi pencarian tersebut.

SOUTHCOM tidak memberikan rincian mengenai kondisi medis korban selamat.

Militer juga tidak menjelaskan peluang keberhasilan evakuasi maupun kemungkinan korban tersebut bertahan hidup.

Serangan ini merupakan serangan ketiga yang diketahui publik sepanjang tahun 2026.

Serangan ini juga menjadi yang kedua dalam tahun ini yang menyisakan korban selamat.

Pada serangan sebelumnya di Januari 2026, dua orang dilaporkan tewas dan satu orang selamat.

Sejak September 2025, militer AS telah melakukan sedikitnya 38 serangan terhadap kapal-kapal di Pasifik timur dan Karibia.

Serangan-serangan tersebut menewaskan sedikitnya 130 orang, berdasarkan penghitungan organisasi media internasional.

Operasi ini merupakan bagian dari kampanye militer bernama Operasi Southern Spear.

Baca juga: AS Sita Kapal Tanker Keenam Terkait Venezuela di Laut Karibia, Caracas Segera Reformasi UU Minyak

Pemerintah AS menyatakan operasi tersebut bertujuan menekan perdagangan narkotika internasional.

Namun, pemerintah AS hanya memberikan sedikit bukti publik bahwa kapal-kapal yang diserang benar-benar mengangkut narkoba.

Washington juga belum memaparkan bukti keterkaitan langsung para korban dengan kartel narkoba.

Legalitas operasi ini menuai kritik tajam dari para ahli hukum internasional.

Sejumlah aktivis hak asasi manusia menuduh AS melakukan pembunuhan di luar proses hukum.

Mereka menilai AS bertindak sebagai hakim, juri, dan algojo di perairan internasional.

Sorotan juga muncul terkait laporan bahwa dalam beberapa serangan sebelumnya terdapat tembakan lanjutan.

Tembakan tersebut dilaporkan menewaskan korban yang sempat selamat dan berpegangan pada puing-puing kapal.

Para ahli hukum militer menyatakan bahwa membunuh korban selamat dari kapal karam dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.

Dalam unggahan terpisah, SOUTHCOM merilis video singkat berdurasi sekitar 10 hingga 11 detik.

Baca juga: China, Rusia, Iran Bersatu Bela Venezuela Lawan Trump di Tengah Blokade Karibia

Video tersebut memperlihatkan sebuah perahu kecil bermotor yang melaju cepat di laut.

Perahu itu tampak berada dalam bidikan militer sebelum terkena tembakan.

Beberapa detik kemudian, ledakan terlihat menghantam kapal tersebut.

Sebagian struktur kapal tampak masih utuh setelah ledakan.

Namun, kecepatan kapal terlihat menurun drastis usai serangan.

Operasi ini menambah daftar panjang kontroversi atas penggunaan kekuatan militer AS di perairan internasional.

Perdebatan mengenai aspek hukum dan kemanusiaan dari serangan-serangan tersebut masih terus berlangsung di Kongres AS dan komunitas internasional.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.