Anna tokoh utama dalam Anna Karenina, novel karya Leo Tolstoy, memilih mengakhiri hidup dengan tidur di rel kereta api.
Ia berdoa Bapa Kami sebelum menyerahkan tubuhnya untuk digilas kereta api.
Namun Evia bukanlah Anna.
Evia, mahasiswi Unima yang ditemukan meninggal dunia tak wajar di tempat kosnya di Tomohon, adalah cerita yang berbeda.
Meski polisi menyimpulkan ia bunuh diri, banyak orang -termasuk saya - tak percaya.
Ia terlalu tegar untuk bertindak konyol.
Fakta di lapangan memperlihatkan sejumlah kejanggalan.
Ah andai saja ada Poirot.
Tapi sudahlah. Saya berharap polisi dapat membongkar misteri di balik kasus ini.
Evia, gadis kepulauan yang percaya bahwa menjadi miskin bukanlah takdir.
Hidup, baginya, musti diperjuangkan. Dia percaya pendidikan adalah alat perjuangan untuk mengubah hidup.
Evia ingin ke puncak, dan ia tak mau sendirian.
Ia ingin membawa orang tuanya, sang adik, bahkan teman - temannya ke sana.
Evia juga sosok berani. Ia mahasiswi yang berani melawan relasi kuasa.
Kasus pelecehan seksual terhadap mahasiswi sesungguhnya bukan barang baru di Sulut.
Banyak kasus serupa.
Banyak pengajar yang bermental buaya.
Sejumlah mahasiswi yang kena jerat. Beberapa diantara mereka menyerah.
Ada pula yang melawan, tapi lama - kelamaan surut, karena faktor relasi kuasa itu.
Tapi Evia berani melawan relasi kuasa itu.
Ia menulis surat pengaduan ke kampusnya.
Soal dugaan pelecehan yang ia alami.
Saya meliput dari dekat peristiwa ini.
Saya bisa merasakan suasana kebatinan yang menyedihkan sekaligus membangkitkan amarah.
"Cahaya itu sudah pudar," kata ayah Evia.
"Saya adalah orang yang sadar bahwa pendidikan dapat mengubah hidup, untuk itulah Evia kami sekolahkan, biar hidup kami miskin, tapi saya berjuang untuk sekolahkan dirinya. Mimpi saya ia akan sukses dan mengangkat hidup kami. Tapi akhirnya jadi begini," katanya.
Perjuangan itu nampak pada fisik ayah Evia.
Tubuhnya ringkih.
Urat - urat muncul dari lengannya yang legam.
Gurat tampak di wajahnya.
Ia letih. Sedih. Pedih. Tapi jarang meneteskan air mata. Saya teringat ketika ayah wafat. Saat itu, saya tidak meneteskan air mata.
Bukannya tak sedih, tapi terlalu sedih hingga tak dapat menangis.
Sedih tanpa tangis adalah depresi yang mengandung protes.
Bukan lagi gelap, tapi sebuah kekelaman. Sedang ibu Evia lebih ekspresif.
Dia sering menangis hingga matanya agak bengkak.
Kenangannya dengan Evia ia ungkap, dengan perasaan yang rindu dan sendu.
Setiap cerita berakhir dengan air mata.
"Saya sering didatangi Evia dalam mimpi," katanya.
Konon Evia menitipkan sebuah petunjuk.
Dalam kasus kasus sulit, kadang dibutuhkan petunjuk langit.
Saya kira, bukan kebetulan kiranya 40 hari Evia bertepatan dengan hari Pers.
Maka, dii hari Pers ini, saya menulis tentang Evia.
Untuk menunjukkan bahwa Jurnalisme adalah empati, pembelaan terhadap yang lemah untuk melawan relasi kuasa.
Jurnalisme juga mengokohkan simbol perlawanan terhadap kebejatan.
Sebagaimana Marsinah yang menjadi simbol perlawanan buruh, Evia juga adalah sebuah simbol perlawanan mahasiswi. (Arthur Rompis)
WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK