SRIPOKU.COM, SEKAYU – Matahari tepat berada di atas kepala saat aroma gurih kaldu sapi mulai menyeruak di kawasan Simpang Tiga Gelanggang Remaja Sekayu.
Tempat yang biasanya lengang itu, kini berubah drastis menjadi titik kumpul para pemburu kuliner. Magnetnya hanya satu, sebuah gerobak sederhana bertuliskan Bakso Pentol Pak Eko.
Meski warungnya tergolong kecil dan hanya bersenjatakan kursi-kursi plastik di sekitar gerobak, tempat ini tak pernah sepi.
Sejak pintu dibuka pukul 13.00 WIB, antrean pembeli langsung mengular, menciptakan pemandangan yang tak biasa di sudut Kecamatan Sekayu ini.
"Alhamdulillah, walaupun tempat kami kecil, hampir setiap hari penuh. Banyak pelanggan yang rela nunggu karena pengin coba bakso sumsum tulang," ujar Kamria Agustina Owner Pemilik Bakso Pentol Pak Eko, Selasa (10/2/2026).
Ia mengungkapkan, dalam sehari ratusan mangkuk bakso kuah kaldu bening dan bakso kuah merah habis terjual. Sementara menu spesial seperti bakso sumsum tulang dan bakso cumi sengaja dibatasi.
"Untuk bakso sumsum dan bakso cumi, kami batasi masing-masing sekitar 70 porsi per hari. Biasanya belum magrib sudah habis, jadi yang datang malam kadang kecewa karena kehabisan,"ujarnya.
Menurutnya, keterbatasan porsi itu dilakukan agar kualitas tetap terjaga. "Kami lebih pilih sedikit tapi rasanya konsisten. Sumsum harus segar, kuah juga harus benar-benar gurih,"jelasnya.
Dari sisi harga, Bakso Pak Eko tetap ramah di kantong. Bakso normal dibanderol kuah merah dan kaldu Rp10 ribu per mangkuk. Sedangkan bakso sumsum tulang dijual mulai Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per porsi, tergantung berat tulangnya. Adapun bakso cumi dihargai Rp30 ribu sampai Rp50 ribu per porsi tergantung berat.
"Yang bakso biasa paling banyak diminati anak-anak dan pelajar karena murah. Tapi kalau sumsum, biasanya keluarga atau pecinta kuliner yang datang khusus, kalau mau sumsum dan cumi harus pesan dahulu,"tambahnya.
Viralnya Bakso Pak Eko di media sosial turut mendongkrak jumlah pengunjung. Kamria mengakui, sejak ramai dibicarakan warganet, omset usahanya meningkat signifikan.
"Alhamdulillah sejak viral, pelanggan naik drastis. Dulu paling habis puluhan mangkuk, sekarang bisa ratusan. Alhamdulillah ini rezeki buat kami,"tuturnya.
Dampak positif lainnya, usaha kecil ini kini mampu membuka lapangan pekerjaan.Ia berharap usahanya bisa terus berkembang dan tetap konsisten menjaga kualitas.
"Saya cuma ingin pelanggan puas dan balik lagi. Kalau mereka senang, usaha kecil seperti kami bisa terus hidup,"tutupnya.
Sejumlah pelanggan mengaku ketagihan dengan cita rasa khas Bakso Pak Eko. Ruzi Iskandar (30), warga Sekayu, mengatakan dirinya sudah beberapa kali datang meski harus antre.
"Rasanya beda, kuahnya lebih gurih dan sumsumnya lembut banget. Walaupun tempatnya kecil, tapi puas. Kalau kehabisan, rasanya nyesek," ujarnya.
Hal senada disampaikan Yuliani (34), pelanggan lainnya. Ia mengaku rela datang lebih awal agar kebagian menu favoritnya.
"Kalau datang jam empat sore biasanya masih ada. Tapi kalau lewat jam enam, sering habis. Jadi sekarang saya sengaja datang siang,"ungkapnya