BANJARMASINPOST.CO.ID, RANTAU - Bagi pencinta kuliner tradisional khas Banua, Lamang Rantau menjadi salah satu sajian yang wajib dicicipi saat melintas di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan.
Kuliner berbahan dasar beras ketan ini diolah dengan cara tradisional.
Ketan diberi air secukupnya dan santan kelapa, kemudian dimasukkan ke dalam bambu sebelum dibakar hingga matang sempurna.
Proses pembakaran inilah yang menghasilkan aroma khas dan rasa gurih yang menjadi ciri Lamang Rantau.
Baca juga: UMKM KALSEL - Lumpia Kocoy Banjarmasin Ini Viral, Pemilik Ungkap Bisa Terjual 500 Lebih per Hari
Lamang yang sudah matang kemudian dipotong-potong dan dijual dengan harga terjangkau.
Satu potong Lamang dibanderol Rp20 ribu, dan paling nikmat disantap bersama bumbu sate atau bumbu kacang tumbuk yang disediakan terpisah.
Sebagai pelengkap, pembeli juga bisa menikmati Lamang bersama telur bebek asin buatan rumahan yang menambah kelezatan sajian.
Produk kuliner tradisional ini merupakan hasil usaha mikro kecil menengah (UMKM) warga setempat yang diproduksi secara rumahan dengan tetap menjaga kualitas rasa.
Lamang Rantau diketahui mampu bertahan hingga dua hari jika disimpan dengan baik, sehingga cocok dijadikan oleh-oleh.
Kuliner khas ini dijual setiap hari di pinggir Jalan Brigjen Hasan Basri, tepatnya di Kelurahan Rantau Kiwa, Kabupaten Tapin.
Lokasinya cukup strategis dan mudah dijangkau, baik oleh warga lokal maupun pelintas yang menuju Hulu Sungai atau Kota Banjarmasin.
Baca juga: UMKM Kalsel- Tanpa Pengawet, Amplang Udang Ampuro asal Sungai Cuka Tanahbumbu Tembus Pasar Malaysia
Pembaca bisa menyaksikan Live FB BPost Online untuk lokasi lapak dagangan kuliner Lamang di : https://www.facebook.com/share/v/1DRHApbwek/
Keberadaan Lamang Rantau tak hanya menjadi pilihan wisata kuliner, tetapi juga menjadi bukti eksistensi UMKM tradisional yang terus bertahan dan berkembang di tengah gempuran makanan modern.
Bagi masyarakat yang berkunjung ke Tapin, tak ada salahnya mampir dan mencicipi lezatnya Lamang Rantau, kuliner sederhana dengan cita rasa khas Banua yang tetap terjaga hingga kini. (Banjarmasinpost.co.id/ Mukhtar Wahid)