Buaya di Bangka Belitung Mengganas Terkam Manusia Gegara Habitatnya Dirusak
Hendra February 11, 2026 12:36 PM

BANGKAPOS.COM,BANGKA - Tiga peristiwa serangan buaya ganas terjadi di wilayah Provinsi Bangka Belitung dan menimpa warga di lokasi berbeda baru-baru ini.

Seorang warga dilaporkan diterkam buaya di kolong bekas tambang timah di Desa Cerucuk, Kecamatan Badau.

Di lokasi lain, seorang pria dikabarkan hilang di Sungai Mendo, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka dan di Desa Sekar Biru, Kabupaten Bangka Barat.

Dari kejadian itu dua orang menjadi korban meninggal dunia dan satu lainnya mengalami luka parah di bagian kaki akibat serangan satwa predator tersebut.

Dokter hewan Medivet BN ZOO Sungailiat, drh Suhadi, mengatakan, meningkatnya interaksi antara manusia dan satwa liar di wilayah Bangka Belitung diduga menjadi salah satu penyebab hewan predator terlihat semakin agresif belakangan ini.

Baca juga: Jasad Jauhari Pemancing Diterkam Buaya Sungai Mendo Ditemukan Tersangkut di Jaring Ikan

Perubahan kondisi lingkungan disebut berperan besar dalam memicu perilaku tersebut.

Suhadi menjelaskan, ada beberapa faktor utama yang membuat satwa liar keluar dari habitat alaminya dan menunjukkan perilaku lebih ganas.

"Hemat saya ada beberapa faktor kenapa satwa liar itu menjadi ganas, karena habitatnya terganggu yang biasanya mereka berada dalam habitat alam  dan merasa saat ini habitat mulai mengalami perubahan,"kata Suhadi kepada Bangkapos.com, Rabu (11/2/2026).

Menurutnya, kerusakan dan penyempitan hutan membuat ruang gerak satwa semakin terbatas. Kondisi ini juga berdampak pada ketersediaan sumber makanan alami mereka.

JASAD JAUHARI DITEMUKAN - Evakuasi jasad Jauhari setelah ditemukan tersangkut di jaring ikan, Rabu (11/2/2026). Jauhari sebelumnya dikabarkan hilang diduga diterkam buaya saat memanding di kawasan Sungai Mendo, Kecamatan Mendo Barat, Selasa (10/2/2026) malam.
JASAD JAUHARI DITEMUKAN - Evakuasi jasad Jauhari setelah ditemukan tersangkut di jaring ikan, Rabu (11/2/2026). Jauhari sebelumnya dikabarkan hilang diduga diterkam buaya saat memanding di kawasan Sungai Mendo, Kecamatan Mendo Barat, Selasa (10/2/2026) malam. (Istimewa/Basarnas Babel)

"Habitat terganggu menyebabkan kekurangan pangan akibat menurunnya populasi  hewan liar lannya, sebagai bahan pangan yang ditemukan,"lanjutnya.

Selain faktor pangan, satwa liar juga bisa menjadi lebih agresif karena merasa terancam.

"Merasa terancam kehidupannya  akibat kondisi perubahan alam yang semakin terbuka barangkali itu penyebab makin ganasnya predator di Bangka Belitung," lanjutnya.

Korban bernama Karmin (49), warga Dusun Perumnas, Desa Sekar Biru. Ia diserang buaya sekitar pukul 02.50 WIB saat berjalan tidak jauh dari rumahnya.

“Buaya tersebut sudah berada di darat dan langsung menggigit kaki korban. Beruntung korban berhasil melawan menggunakan kayu hingga terlepas, lalu menyelamatkan diri,” kata Kasi Humas Polres Bangka Barat Iptu Yos Sudarso, Selasa (10/2/2026).

Akibat kejadian itu, kata Yos, korban mengalami luka pada bagian kaki. Kemudian korban menghubungi jajaran Polsek Jebus untuk meminta pertolongan. 

"Polisi yang tiba di lokasi tidak lagi menemukan buaya tersebut dan langsung mengevakuasi korban ke Puskesmas untuk mendapatkan perawatan medis. Korban telah mendapatkan penanganan medis dan saat ini sudah kembali ke rumah,” lanjutnya.

Yos menilai, kejadian ini menunjukkan, buaya di kolong bekas tambang tersebut berpotensi masuk ke wilayah permukiman warga dan menimbulkan ancaman serius jika tidak segera ditangani.

"Peristiwa ini menjadi peringatan serius bagi masyarakat agar lebih waspada terhadap potensi ancaman satwa liar di sekitar permukiman," lanjutnya.

Dikatakan Yos, Kapolres telah memberikan arahan kepada para Kapolsek jajaran agar melakukan pemetaan lokasi rawan serangan satwa liar, memasang spanduk peringatan, serta memberikan imbauan langsung kepada masyarakat.

(Bangkapos.com/Riki Pratama)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.