Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Hamparan hutan rawa dan padang sabana di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) kini tak lagi sekadar menjadi rumah bagi gajah Sumatra, namun juga magnet bagi mata dunia.
Di balik rimbunnya pohon-pohon tropis Lampung Timur, tersimpan potensi karbon raksasa yang tengah dijajaki oleh perusahaan global Amazon untuk dijadikan investasi hijau masa depan.
Namun, di balik rencana besar investasi perdagangan karbon tersebut, terdapat tantangan nyata mengenai keberlangsungan ekosistem dan nasib masyarakat lokal.
Akademisi Lingkungan Universitas Lampung (Unila), Hari Kaskoyo, mengingatkan bahwa kunci keberhasilan proyek ini bukan pada angka investasi, melainkan pada kesejahteraan 38 desa penyangga yang mengepung kawasan TNWK.
"Yang paling penting adalah bagaimana aplikasinya di lapangan dengan memperhatikan kaidah konservasi. Di Way Kambas itu ada 38 desa yang mengelilinginya, mereka harus diikutsertakan dan jangan sampai hanya jadi penonton," ujar Hari Kaskoyo kepada Tribunlampung, Selasa (10/2/2026).
Hari menekankan bahwa keterlibatan masyarakat harus bersifat teknis dan ekonomis.
Ia mengusulkan agar warga desa tidak hanya diminta menjaga hutan secara sukarela, tetapi diberikan insentif konkret melalui skema perdagangan karbon ini.
"Masyarakat bisa dilatih membantu pengukuran karbon oleh tim ahli. Dengan begitu, ada insentif atau pendapatan yang langsung masuk ke kampung-kampung. Selain itu, seiring terbangunnya pagar permanen untuk gajah, warga bisa diberdayakan di sektor pariwisata yang lebih aman," jelasnya.
Sebagai pakar lingkungan, Hari mewanti-wanti agar program Jasa Lingkungan Karbon ini tetap berada pada jalur konservasi.
Pasalnya, TNWK memiliki satwa kunci yang keberadaannya terancam, mulai dari gajah, badak, hingga harimau Sumatra.
"Ini kawasan konservasi. Fokus utamanya harus menjaga flora dan fauna agar hidup tenang tanpa gangguan. Jangan sampai urusan karbon ini mengganggu habitat, justru kualitas habitatnya yang harus ditingkatkan daya dukungnya," tegas Hari.
"Apalagi sekarang ada instruksi terkait pagar permanen gajah agar tidak keluar kawasan, maka daya dukung alam di dalam hutan harus benar-benar ditingkatkan agar satwa tetap sejahtera," tegas Hari.
Terkait manfaat yang akan dirasakan, Hari menjelaskan bahwa masyarakat harus memahami adanya perbedaan waktu dalam memanen hasil investasi hijau ini.
"Ada dampak yang bisa langsung dirasakan, seperti pelatihan dan insentif penjagaan, keterlibatan dalam pengelolaan kawasan wisata daln lainnya. Namun, untuk pemulihan hutan yang pernah terbakar, kita bicara jangka panjang, mungkin 5 sampai 10 tahun baru terlihat hasilnya secara periodik," tuturnya.
Ia berharap kesuksesan di TNWK ini nantinya menjadi pilot project yang bisa diduplikasi di wilayah lain di Lampung, seperti Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Taman Hutan Raya (Tahura), hingga kawasan hutan lindung.
"Jika ini berjalan baik, ke depan masyarakat bisa mandiri memperjualbelikan karbon dari hutan yang mereka jaga sendiri," pungkasnya.
(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)