Pemkab Semarang Jamas Enam Pusaka Jelang Perayaan Hari Jadi 
M Syofri Kurniawan February 12, 2026 07:14 AM

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Pemkab Semarang menggelar penjamasan pusaka peninggalan pendiri kabupaten tersebut.

Penjamasan pusaka tersebut merupakan tradisi tahunan menjelang peringatan Hari Jadi Kabupaten Semarang. 

Halaman Pendapa Kabupaten Semarang dipenuhi aroma dupa di sejumlah titik, berbaur dengan harum bunga setaman, Rabu (11/2/2026).

Asap tipis mengepul pelan, menciptakan suasana khidmat ritual jamasan pusaka tersebut.

Ada enam pusaka yang dijamas oleh sang penjamas, MA Sutikno.

Pusaka-pusaka tersebut merupakan peninggalan Panji Pandanaran, bupati pertama Kabupaten Semarang.  

Sutikno mengambil satu per satu pusaka yang menancap pada tempatnya dengan penuh kehati-hatian.

Gerakannya tenang, nyaris tanpa suara, seolah setiap sentuhan adalah bentuk penghormatan pada jejak sejarah ratusan tahun.

Dia kemudian melolos pusaka itu perlahan dari warangkanya.

Di hadapannya telah disiapkan air yang sebelumnya ditampung dalam kendil tanah liat.

Secara perlahan, Sutikno menyiramkan air ke bilah pusaka.

Setiap aliran air yang membasuh logam seakan membawa doa. Sesekali tangan sang penjamas mengusap lembut permukaan bilah, memastikan setiap sudut tersentuh.

"Ada enam pusaka yang dijamas, tiga tombak dan tiga keris," beber Sutikno. 

Menurut Sutikno, jamasan pusaka ini tidak hanya menyucikan keris, tetapi sekaligus instropeksi diri selaku masyarakat Kabupaten Semarang.

"Selama satu tahun ke depan bagaimana melaksanakan tugas agar Kabupaten Semarang lebih gemah, ripah, tata, tentrem," ungkapnya. 

Setelah penjamasan, pusaka tersebut dikirab mengelilingi pendapa dan kembali disimpan di dalam pendapa. 

Pesan moral

Juru Kunci Pusaka Kabupaten Semarang, Moh Edy Sukarno mengatakan, jamasan pusaka menjadi sebuah tradisi yang sarat dengan pesan moral.

Selain jamasan, digelar pula “Merti Bumi Serasi” sebagai rangkaian peringatan Hari Jadi Ke-505 Kabupaten Semarang 

"Merti bumi artinya kesadaran yang ingin kita bawa mengajak seluruh eleman masyarakat Kabupaten Semarang untuk sadar pada tanggungjawab manusia, memayu hayuning bawana," kata Edy. 

Sebelum jamasan, telah dilaksanakan susuk wangan atau motbanyu.

Tradisi ini merupakan kegiatan konservasi di sekitar area sumber mata air yang dilakukan semua desa se-Kabupaten Semarang.

"Air dari setiap sumber mata air dikumpulkan di tiap kecamatan, diestafetkan, diserahterimakan antarkecamatan. Ini mengandung pesan moral bahwa kesadaran harus diestafetkan dari generasi ke generasi," jelasnya.

Air yang diambil dari sumber mata air itu dibawa ke pendapa kabupaten untuk jamasan pusaka.  

Dia menyebut, jamasan pusaka memiliki dua prinsip.

Di satu sisi, jamasan merawat fisik pusaka agar tidak rusak karena korosi, di sisi lain pusaka merupakan citra dari jatidiri sang pemilik. 

"Oleh karenanya, ketika jamasan pusaka dilakukan medianya pasti air. Itu lambang penguripan. Aneka kembang melambangkan pesan moral untuk selalu melakukan laku kebaikan," jelasnya.

Rangkaian jamasan juga diisi dengan wilujengan atau selamatan kenduri.

Nampak, warga dari berbagai desa membawa hasil bumi masing-masing.

Ada sayuran, padi, jagung, kelapa, hingga buah-buahan. 

Bupati Semarang, Ngesti Nugraha mengatakan, wilujengan ini merupakan wujud syukur dengan hasil bumi yang berlimpah.  

"Selamatan kita memohon ke hadirat Allah, memohon supaya Kabupaten Semarang, masyarakat sehat, diberikan keberkahan, dijauhkan dari bencana," tuturnya. (Eka Yulianti Fajlin)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.