TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Jelang bulan suci Ramadhan 2026, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Balikpapan menjalin kerja sama dengan sejumlah daerah penghasil di Pulau Jawa dan Sulawesi untuk memastikan ketersediaan bahan pangan tetap aman.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Balikpapan, Haemusri Umar, mengungkapkan langkah tersebut diambil karena produksi pangan lokal masih sangat terbatas.
“Kontribusi pasokan pangan lokal kita hanya sekitar 7 persen dari total kebutuhan kota, termasuk untuk komoditas hortikultura. Selebihnya masih bergantung dari luar daerah,” ujar Haemusri saat diwawancarai TribunKaltim.co melalui pesan singkat.
Baca juga: Bank Indonesia Buka Penukaran Uang Layak Edar di Balikpapan Bulan Februari 2026, Ini Jadwalnya
Kondisi ini membuat Balikpapan sangat bergantung pada kelancaran distribusi dari daerah penghasil, terutama Jawa dan Sulawesi, terlebih saat permintaan meningkat menjelang Ramadan.
Haemusri menjelaskan, skema kerja sama yang dibangun bersifat business to business (B2B). Pemerintah kota berperan mendorong dan memfasilitasi komunikasi antar pelaku usaha, sementara intervensi langsung berada di tangan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) untuk menindaklanjuti kesepakatan dengan daerah penghasil.
“Pemkot sifatnya mendorong dan memfasilitasi. Untuk teknis realisasi kerja sama ada di Perumda,” jelasnya.
Namun, tingginya ketergantungan terhadap pasokan luar daerah memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana peran aktif Perumda dalam menjamin stabilitas pasokan dan harga, khususnya saat terjadi lonjakan permintaan jelang Ramadan.
Tanpa langkah konkret di lapangan, kerja sama dikhawatirkan belum berdampak signifikan terhadap stabilitas harga.
Berdasarkan hasil monitoring harga pekan kedua Februari 2026, Balikpapan tercatat mengalami inflasi 0,30 persen (mtm). Lima komoditas penyumbang inflasi terbesar yakni angkutan udara, daging ayam ras, emas perhiasan, kopi bubuk, dan tomat sayur.
Kenaikan harga tiket angkutan udara dipicu meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang Ramadan. Sementara harga daging ayam ras naik akibat turunnya pasokan ayam beku dari Jawa dan ayam segar dari wilayah Balikpapan dan sekitarnya, di tengah permintaan yang tetap kuat.
Sementara itu, untuk harga emas perhiasan meningkat seiring tren kenaikan harga emas dunia akibat penguatan permintaan global.
Kopi bubuk juga naik karena kenaikan harga bahan baku di tingkat produsen.
Adapun tomat sayur mengalami kenaikan akibat berkurangnya pasokan dari sentra produksi di Jawa dan Sulawesi karena keterbatasan stok.
Pada kelompok hortikultura, komoditas yang terpantau naik antara lain tomat sayur, cabai rawit, dan kacang panjang.
Musim hujan yang masih berlangsung turut mempengaruhi volume produksi dan biaya distribusi, sehingga perlu dilakukan monitoring ketat terhadap stok dan harga di tingkat distributor maupun petani.
Meski demikian, terdapat lima komoditas yang mengalami deflasi terdalam pada periode yang sama, yakni bensin, beras, bawang merah, popok bayi, dan sawi hijau.
Secara umum, Kota Balikpapan diprakirakan masih berisiko mengalami inflasi sepanjang Februari 2026.
Dengan kondisi ketergantungan pasokan yang masih tinggi, Pemkot Balikpapan dinilai tidak cukup hanya mengandalkan skema kerja sama antardaerah.
Penguatan produksi pangan lokal menjadi langkah strategis agar ketahanan pangan kota tidak terus berada dalam posisi rentan setiap menjelang hari besar keagamaan. (*)