Pembangkit Listrik Gagal Penuhi Target, TPA Putri Cempo Solo Overload
Putradi Pamungkas February 12, 2026 11:11 AM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Tim Ahli Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Putri Cempo, Prof. Prabang Setyono, mengungkapkan bahwa kinerja PSEL hingga kini belum mampu memenuhi target pengolahan sampah.

Akibatnya, timbunan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) semakin meningkat dan kondisi lahan disebut sudah overload.

Kapasitas Pengolahan Jauh dari Target

Prof. Prabang menjelaskan, kapasitas lahan TPA Putri Cempo sudah tidak memungkinkan untuk diperluas, sementara pasokan sampah harian tidak bisa dihentikan.

“Menurut saya itu kan memang sudah overload lahannya ya memang yang segitu gitu kan ya. Sementara sampah enggak bisa distop. Tiap hari kan enggak bisa stop 370-380 ton itu yang pasti itu saja. Tapi kalau untuk ekstensifikasi perluasan sudah enggak bisa,” jelasnya.

SAMPAH - Suasana tempat penampungan TPA Putri Cempo pada Senin (9/2/2026). Warga mengeluhkan bau tak sedap.
SAMPAH - Suasana tempat penampungan TPA Putri Cempo pada Senin (9/2/2026). Warga mengeluhkan bau tak sedap. (TribunSolo.com/Ahmad Syarifudin)

Secara kapasitas, PSEL Putri Cempo ditargetkan mampu memproses hingga 545 ton sampah per hari.

Namun, saat ini fasilitas tersebut baru mampu mengolah sekitar 130 ton per hari.

Padahal, produksi sampah di Kota Solo mencapai sekitar 380 ton setiap harinya.

Kondisi ini membuat sebagian besar sampah tidak tertangani oleh sistem PSEL dan tetap menumpuk di TPA.

Baca juga: Tak Tahan Bau Sampah Meluber, Sejumlah Warga Sekitar TPA Putri Cempo Solo Terpaksa Mengungsi

Produksi Listrik Belum Optimal

Selain belum optimal dalam pengolahan sampah, produksi listrik dari PSEL juga belum maksimal.

Prof. Prabang menilai kinerja instalasi gasifier sebagai komponen utama pembangkit belum stabil.

“Kalau saya mengatakan ya kinerjanya belum membaik lah bahasannya kan gitu karena memang gasifier-nya belum optimal ya.

Optimalnya kan bisa sampai 5 megawatt ya itu tapi kenyataan sering apa namanya jeda gitu, jeda itu artinya nanti berhenti,” terangnya.

Menurutnya, mesin gasifier seharusnya dapat menghasilkan listrik hingga 5 megawatt.

Namun dalam praktiknya, operasional kerap mengalami jeda atau berhenti, sehingga produksi listrik tidak konsisten.

Kendala Pengeringan dan Produksi RDF

Salah satu kendala utama terletak pada proses penyiapan bahan baku sebelum masuk ke mesin gasifier.

Sampah harus terlebih dahulu diolah menjadi Refuse-Derived Fuel (RDF).

Proses ini sangat bergantung pada kondisi cuaca, terutama dalam tahap pengeringan.

“Logikanya kan bisa dibagi dalam 2 sektoral ya, sektoral istilahnya preparasi penyiapan bahan bakunya yang untuk dipasokkan dalam gasifier itu ya bentuknya RDF gitu kan ya itu ya memang apa namanya masih banyak kendala. Apalagi ditambah hujan ya kalau hujan itu kan pengeringannya kan mungkin butuh waktu ya kan ya. Sehingga ya mesinnya gasifier itu kalau seandainya inputnya memang ya bermasalah ya mereka enggak akan berjalan karena sekali berjalan itu logika mesinnya itu memang ya harus kontinyu,” tuturnya.

Ia menegaskan, mesin gasifier dirancang untuk beroperasi secara kontinu.

Jika pasokan RDF bermasalah, maka mesin tidak dapat berjalan optimal.

Baca juga: Kisah Petugas Sampah di TPA Putri Cempo Solo, Tunggu Berjam-jam hingga Gelesotan di Jalan

Setahun Berjalan, Belum Ada Perubahan Signifikan

Proyek PSEL Putri Cempo telah berjalan lebih dari satu tahun.

Namun hingga kini, menurut Prof. Prabang, belum terlihat peningkatan signifikan dalam kinerja pengolahan sampah.

“Yang jelas belum ada peningkatan secara signifikan. Karena ditambah jeda itu ya jadi ditambah jeda itu sehingga membuat sampah jadi menumpuk kan begitu kan ya ada sampahnya itu hitungannya per harinya itu kan 370 sampai 380 ton,” tuturnya.

Dengan produksi sampah harian mencapai 370–380 ton dan kapasitas pengolahan yang terbatas, timbunan sampah pun terus bertambah.

Tumpukan Sampah dan Antrean Truk

Kegagalan memenuhi target pengolahan berdampak langsung pada kondisi TPA.

Sampah yang tidak terolah akhirnya menumpuk melalui sistem open dumping.

“Tiap hari hanya ya taruhlah sepertiganya lah kurang gitu kan ya ya memang yang bisa terolah kan berarti kan tiga perempatnya ini ketumpuk ya di open dumping itu ini kan jadi masalah kemarin itu kan juga. Banyak berjejer jujur itu ya kendaraan ya ya memang tempat untuk bisa yang terjangkau untuk bisa meloadingnya sama jadi terhambat,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menyebabkan antrean panjang truk sampah karena keterbatasan ruang dan hambatan proses bongkar muat di lokasi TPA.

Dengan kondisi lahan yang sudah penuh dan kinerja PSEL yang belum optimal, persoalan pengelolaan sampah di Solo masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.