Mengenal Ritual Poso Mutih: Jenis Puasa yang Ada Sejak Jawa Kuno, Sering Dilakukan Bangsawan di Solo
Hanang Yuwono February 12, 2026 05:11 PM

 

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Puasa mutih atau puasa nazar merupakan salah satu bentuk ibadah yang sarat makna spiritual, khususnya bagi masyarakat Jawa di Solo Raya, Jawa Tengah.

Puasa Mutih merupakan laku spiritual Jawa yang sudah dikenal sejak zaman para leluhur di Solo Raya.

Ritual puasa mutih atau poso mutih dilakukan hanya dengan mengonsumsi nasi putih dan air putih selama periode tertentu, sebagai cara untuk menyucikan diri dan mengasah ketahanan batin.

Baca juga: 6 Ritual Tolak Hujan yang Masih Sering Dilakukan di Solo Raya, Kamu Percaya Atau Tidak?

Bagi kalangan Bangsawan Mangkunegaran, puasa Mutih sering dilakukan menjelang upacara besar atau momen penting dalam hidup.

Para Bangsawan Mangkunegaran dulu melakukan puasa mutih bukan sekadar untuk menahan makan dan minum.

WISATA SOLO - Air mancur di Taman Pracima Tuin Mangkunegaran Solo, Jawa Tengah, saat malam hari beberapa waktu lalu. Berikut rekomendasi taman di Solo. (PARAPUAN/Maharani Kusuma Daruwati)
IKON SOLO - Air mancur di Taman Pracima Tuin Mangkunegaran Solo, Jawa Tengah, saat malam hari beberapa waktu lalu. (PARAPUAN/Maharani Kusuma Daruwati)

Namun, juga pengendalian diri, dan refleksi spiritual yang mendalam.

Dalam dunia modern, puasa Mutih mulai dipahami ulang.

Kini dianggap sebagai bentuk detoksifikasi tubuh dan pikiran dari hiruk-pikuk dunia digital, stres, dan rutinitas berlebihan.

Baca juga: Mengenal Tradisi Mendhem Ari-ari : Ritual Sakral Mengubur Plasenta Bayi di Solo Raya

Definisi Puasa Mutih

Puasa mutih atau puasa nazar adalah ibadah yang dilakukan selama 3, 7, 21, atau 40 hari oleh pengikut Sufisme, Kejawen, maupun umat Muslim yang memiliki hajat tertentu.

Selama puasa mutih, pelaku hanya mengonsumsi nasi putih dan air putih, menghindari makanan dan minuman yang berwarna lain.

Tujuannya adalah memohon kepada Allah agar hajat tertentu tercapai.

Namun, dalam praktiknya, puasa mutih juga terkadang disalahgunakan untuk memperoleh ilmu gaib.

Secara kesehatan, puasa ini membantu mengurangi asupan lemak berlebih dan mendetoks racun dalam tubuh.

Baca juga: Makna Prosesi Menginjak Telur, Ritual Sakral Pernikahan Adat Jawa yang Masih Eksis di Solo Raya

Puasa Mutih dalam Perspektif Islam

Dalam ajaran Islam, puasa mutih dikenal sebagai puasa nazar, ibadah yang dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah ketika hajat atau keinginan tertentu telah dikabulkan.

Puasa ini hanya dilakukan untuk tujuan positif dan bernilai kebaikan.

Niat puasa nazar dalam bahasa Arab:

نَوَيْتُ صَوْمَ النَّذَرِ لِلَّهِ تَعَالىَ

("Aku niat puasa nazar karena Allah Ta’ala")

Al-Qur’an juga menyinggung tentang pemenuhan nazar:

"Kemudian hendaklah mereka menghilangkan kotoran mereka, menyempurnakan nazar-nazar mereka, dan melakukan tawaf sekeliling Baitullah" (QS. Al-Hajj ayat 29).

Baca juga: Sejarah Sego Gudang, Kuliner Legendaris dari Klaten yang Hadir dalam Berbagai Ritual

Sejarah Puasa Mutih di Jawa

Puasa mutih telah dikenal sejak masa Jawa Kuno, termasuk era Raja Airlangga.

Praktiknya beragam, seperti taparacut dan ugra tapa, yang bertujuan melepaskan diri dari dosa dan mengekang hawa nafsu.

Sejarawan menyebut Amukti Palapa yang dijalankan Mahapatih Gajah Mada merupakan bentuk puasa mutih, dengan hanya makan nasi tanpa lauk atau perasa sebagai bentuk nazar demi mencapai cita-citanya menaklukkan Nusantara.

Puasa mutih juga menjadi bagian dari tradisi Kejawen hingga kini, dilakukan saat seseorang ingin menggapai keinginannya, dengan pantangan mengonsumsi selain nasi putih dan air putih.

Baca juga: Sejarah Sego Gudang, Kuliner Legendaris dari Klaten yang Hadir dalam Berbagai Ritual

Puasa dalam Kakawin dan Tradisi Tapa

Konsep puasa atau pasa dalam teks Jawa kuno melampaui sekadar menahan lapar dan haus.

Dalam Kakawin Ramayana, dikenal istilah pasa-brata, yaitu pengendalian diri untuk menghadapi kedurjanaan.

Di Kakawin Arjunawiwaha, Arjuna melakukan tapa di Gunung Indrakila untuk membantu saudaranya Yudhistira, menekankan pengendalian hawa nafsu dan godaan.

Bahkan dalam Siwaratrikalpa, Lubdaka yang berpuasa tanpa sadar saat malam Siwaratri justru terbebas dari siksa dan naik ke surga, menunjukkan nilai spiritual puasa sebagai jalan penyucian diri.

Pelestarian Puasa Mutih dan Tapa di Masyarakat Jawa

Puasa atau tirakat menjadi bagian penting dalam kehidupan Jawa kuno.

Dalam prasasti dan relief, tapa digambarkan sebagai laku spiritual yang beragam: dari pengendalian diri hingga pelepasan dosa.

Contohnya terlihat dalam prasasti Gunung Nyamil dan relief Candi Gambar Wetan.

Pengalaman ini membantu masyarakat Jawa memahami hakikat puasa saat Rukun Islam diterapkan.

Wali Songo pun menyesuaikan ajaran Islam dengan tradisi lokal, sehingga puasa Ramadan dapat diterima dengan mudah sambil tetap menjaga kedamaian hati dan kedalaman fitrah sosial.

Manfaat Puasa Mutih

Selain nilai spiritual, puasa mutih juga bermanfaat bagi kesehatan:

  • Mengurangi asupan lemak dan kolesterol dari makanan berlemak.
  • Membantu detoksifikasi tubuh.
  • Melatih pengendalian diri dan disiplin mental.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.