TRIBUNNEWS.COM - Perut suka berbunyi tetapi tetap tidak tertarik makan. Hal ini tidak selalu dianggap sepele.
Banyak hal, mulai dari kondisi emosional hingga gangguan kesehatan, bisa membuat tubuh memberikan sinyal lapar tetapi minat untuk makan justru hilang.
Kondisi ini muncul karena kompleksnya sistem yang mengatur rasa lapar dan keinginan makan, termasuk otak, hormon, dan saluran pencernaan.
1. Ketegangan Emosional dan Stres
Stres berkepanjangan atau tekanan psikologis seperti kecemasan dapat mengubah cara tubuh merespons sinyal lapar.
Ketika stres aktif, tubuh lebih fokus pada respon “lawan atau lari”, sementara proses pencernaan dan rasa ingin makan bisa tertahan, bahkan menyebabkan mual atau rasa tidak nyaman di perut.
2. Masalah pada Saluran Pencernaan
Gangguan di sistem pencernaan seperti gastritis, refluks asam lambung, atau gangguan lain yang menyebabkan perut terasa kembung, nyeri, atau mual bisa membuat makan terasa tidak menyenangkan meskipun tubuh membutuhkan energi.
3. Infeksi dan Penyakit Ringan
Saat tubuh melawan infeksi — seperti pilek, flu, atau infeksi saluran pencernaan — sistem kekebalan aktif bekerja dan sering disertai gejala seperti demam, mual, atau rasa lemas.
Hal ini dapat menekan rasa ingin makan meski tubuh merasa lapar.
4. Kondisi Kesehatan Kronis
Beberapa penyakit jangka panjang, seperti diabetes, gangguan tiroid (hipotiroidisme), penyakit ginjal, gangguan hati, atau kanker, dapat memengaruhi metabolisme dan keseimbangan hormon yang mengatur nafsu makan.
Ini menyebabkan rasa lapar hadir tetapi minat untuk makan berkurang.
Baca juga: Stop Menyiksa Diri, Persepsi Keliru Diet Sama dengan Mengurangi Makan dan Menahan Lapar
5. Pengaruh Obat-Obatan
Beberapa obat, termasuk antibiotik, obat antidepresan, kemoterapi, obat penenang, atau obat penghilang rasa sakit tertentu, dapat menimbulkan efek samping seperti mual, perubahan rasa makan, hingga lidah terasa pahit.
Ini membuat makanan tampak kurang menggugah selera.
6. Fluktuasi Hormon
Perubahan hormon dalam tubuh, misalnya selama masa menstruasi, kehamilan, menopause, atau gangguan hormon lain, dapat mengacaukan sinyal lapar yang normal.
Hormon seperti estrogen dan progesteron turut memengaruhi pusat nafsu makan di otak.
7. Faktor Psikologis
Masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan berat, atau gangguan makan secara langsung berkaitan dengan selera makan.
Pada kondisi tersebut, walaupun tubuh memberi sinyal lapar, dorongan emosional untuk makan bisa sangat rendah atau bahkan hilang.
Kapan Harus Waspada?
Kondisi lapar tanpa nafsu makan tidak selalu berbahaya jika terjadi sesekali. Namun jika berlangsung terus-menerus, disertai dengan penurunan berat badan yang tidak diinginkan, lemas ekstrem, atau gejala lain yang mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis.
(*)