Dari Panarukan ke Situbondo, Kisah Panjang Sejarah di Pesisir Utara Jawa Timur
Mujib Anwar February 13, 2026 03:30 PM

 

TRIBUNJATIM.COM – Kabupaten Situbondo merupakan salah satu daerah di pesisir utara Jawa Timur yang menyimpan sejarah panjang, mulai dari legenda rakyat, masa kerajaan, kolonial Belanda, hingga terbentuk sebagai kabupaten modern seperti sekarang.

Wilayah yang dahulu dikenal dengan nama Panarukan ini memiliki posisi strategis di jalur Pantura (Pantai Utara), sekaligus menjadi saksi penting perjalanan sejarah Nusantara.

Asal Usul Nama Situbondo

Kantor DPRD Kabupaten Situbondo di Kelurahan Patokan, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur. Kelurahan Patokan adalah tempat ditemukannya 'odheng' dalam legenda asal-ususl nama Situbondo.
Kantor DPRD Kabupaten Situbondo di Kelurahan Patokan, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur. Kelurahan Patokan adalah tempat ditemukannya 'odheng' dalam legenda asal-ususl nama Situbondo. (KOMPAS.com / Ridho Abdullah Akbar)

Nama Situbondo diyakini berasal dari legenda Pangeran Aryo Gajah Situbondo atau Pangeran Situbondo.

Tokoh ini dikenal berasal dari Madura dan diceritakan tidak pernah menampakkan diri kepada masyarakat.

Dalam cerita rakyat, Pangeran Situbondo kalah dalam pertarungan melawan Joko Jumput.

Kekalahannya ditandai dengan ditemukannya sebuah odheng atau ikat kepala di wilayah Kelurahan Patokan, yang kini menjadi pusat Kota Situbondo.

Dari peristiwa inilah nama Situbondo kemudian dikenal dan diwariskan secara turun-temurun.

Selain versi legenda, terdapat pula penafsiran filosofis yang berkembang di masyarakat. 

Kata Situbondo dipercaya berasal dari gabungan kata siti yang berarti tanah dan bondo yang bermakna ikatan.

Makna ini diyakini mencerminkan Situbondo sebagai tanah yang mengikat para pendatang untuk menetap dan membangun kehidupan di wilayah tersebut.

Baca juga: Sejarah dan Asal-usul Kota Blitar, dari Legenda Majapahit hingga Kota Proklamator

Legenda Pangeran Situbondo dan Joko Jumput

Legenda menyebutkan bahwa Pangeran Situbondo datang ke Surabaya untuk meminang putri Adipati Suroboyo.

Namun lamaran tersebut ditolak secara halus dengan syarat membabat hutan di sebelah timur Surabaya.

Dalam perjalanan cerita, muncul tokoh Joko Taruno yang juga ingin meminang sang putri.

Kali ini, Adipati Suroboyo tidak keberatan, ia meminta Joko Taruno mengalahkan Pangeran Aryo Gajah Situbondo.

Demi meminang sang puti, Joko Taruno pun menuruti perintah tersebut untuk mengalahkan Pangeran Aryo Gajah Situbondo.

Namun disayangkan, Joko Taruno mengalami kekalahan dalam suatu pertarungan, sehingga ia mengadakan sayembara.

Sayembara tersebut berupa barang siapa yang dapat mengalahkan Pangeran Situbondo akan mendapat imbalan setengah dari kekayaannya.

Kabar terkait sayembara tersebut sampai ditelinga Joko Jumput, putra Mbok Rondo Prabankenco.

Konflik memuncak ketika Joko Jumput berhasil mengalahkan Pangeran Aryo Gajah Situbondo. 

Dilansir dari Surabaya.kompas.com, Joko Jumput berhasil menendang Pangeran Aryo Gajah Situbondo ke arah timur.

Pangeran tersebut kemudian terpental hingga wilayah Situbondo, menandai akhir kisah sekaligus menjadi asal-usul nama daerah.

Lebih lanjut, kemenangan Joko Jumput tersebut diakui oleh Joko Taruno dihadapan Adipati Suroboyo sebagai kemenangannya.

Akan tetapi Adipati Suroboyo tidak percaya begitu saja, sebagai buktinya ia meminta Joko Jumput dan Joko Taruno untuk menentukan pemenang sesungguhnya.

Dari pertarungan tersebut, terbukti bahwa Joko Taruno berbohong, sehingga ia terkutuk menjadi patung Joko Dolog.

Baca juga: Dari Kutho Miring ke Kota Karismatik, ini Jejak Sejarah Madiun

Dari Panarukan ke Situbondo

Pada masa kolonial Belanda, Situbondo dikenal dengan nama Kabupaten Panarukan.

Wilayah ini memiliki peran penting sebagai pelabuhan dan pusat perdagangan, khususnya saat Gubernur Jenderal Daendels membangun Jalan Raya Pos Anyer–Panarukan pada 1808–1811.

Jalan tersebut menjadi proyek besar kolonial yang menghubungkan ujung barat hingga timur Pulau Jawa, dengan Panarukan sebagai titik akhirnya.

Nama Kabupaten Panarukan kemudian resmi diubah menjadi Kabupaten Situbondo pada 1972, pada masa kepemimpinan Bupati Achmad Tahir, berdasarkan Peraturan Pemerintah RI Nomor 28 Tahun 1972.

Baca juga: Menelusuri Asal-usul Kediri, Jejak Sejarah dari Kerajaan Medang hingga Kota Modern

Jejak Karesidenan Besuki

Sebagaimana dikutip dari Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, Sejarah Situbondo tak lepas dari Karesidenan Besuki.

Wilayah ini pertama kali dibuka oleh Ki Patih Abs sekitar tahun 1700.

Selanjutnya, wilayah tersebut dipasrahkan ke Tumenggung Joyo Lelono, sebelum akhirnya dikuasai Belanda pada pertengahan abad ke-18.

Pada masa kolonial, Raden Tumenggung Prawirodiningrat I diangkat sebagai Residen pertama Karesidenan Besuki.

Penerusnya, Raden Prawirodiningrat II, dikenal berjasa membangun berbagai infrastruktur penting, termasuk pabrik-pabrik gula seperti PG Demas, PG Panji, PG Olean, dan PG Wringinanom.

Keberadaan pelabuhan Panarukan, Kalbut, dan Jangkar turut mendorong perkembangan Situbondo sebagai pusat ekonomi dan perdagangan.

Baca juga: Jejak Sejarah Kabupaten Jombang, dari Gerbang Majapahit sampai Julukan Kota Santri

Berdirinya Kabupaten Situbondo

Wisata KBS - Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo saat membuka Kuliner Bungatan Senja di wisata Pantai Bletok, Kecamatan Bungatan, Situbondo, Jawa Timur, Minggu (4/5/2025).
Wisata KBS - Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo saat membuka Kuliner Bungatan Senja di wisata Pantai Bletok, Kecamatan Bungatan, Situbondo, Jawa Timur, Minggu (4/5/2025). (TRIBUNJATIM.COM/IZI HARTONO)

Seiring perkembangan wilayah dan aktivitas pelabuhan, pusat pemerintahan Karesidenan Besuki akhirnya dipindahkan ke Situbondo.

Raden Tumenggung Aryo Soeryo Dipoetro kemudian ditetapkan sebagai Bupati pertama Kabupaten Situbondo.

Wilayah Karesidenan Besuki pun dibagi, sebagian menjadi wilayah Bondowoso dan sebagian lainnya menjadi Situbondo

Wilayah dari pembagian tersebut masih terlihat hingga kini dari perbedaan logat bahasa masyarakatnya.

Namun, perlu diketahui bahwa Kediaman Bupati Situbondo pada masa itu belum berada di lingkungan Pendopo Kabupaten.

Saat masa Pemerintahan Bupati Raden Aryo Poestoko Pranowo (1900-1924), pendopo kabupaten diperbaiki.

Perbaikan tersebut juga turut membangun kediaman resmi bupati serta paviliun ajudan.

Pada 2002, pendopo tersebut kembali direnovasi, tepatnya di masa pemerintahan Drs. H. Moh. Diaaman.

Baca juga: Dari Dakwah Islam hingga Jadi Kabupaten, Sejarah Panjang Lahirnya Lamongan

Situbondo dalam Lintasan Sejarah Modern

Pada masa pendudukan Jepang, Situbondo dikenal sebagai Madiun Shi dan dipimpin oleh seorang Shi Tjo.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Situbondo berkembang sebagai kabupaten yang terus berbenah, baik dari sisi pemerintahan, ekonomi, maupun infrastruktur.

Hingga kini, Situbondo dikenal sebagai daerah yang kaya akan nilai sejarah, budaya pesisir, serta menjadi penghubung penting jalur Pantura Jawa Timur.

Baca juga: Sejarah Panjang Sidoarjo, Berawal dari Kerajaan Jenggala hingga Jadi Wilayah Penyangga Surabaya

Situbondo sebagai Daerah Strategis Pesisir

Letak geografis Situbondo di pesisir utara Jawa Timur menjadikannya wilayah strategis sejak masa lampau, baik dalam perdagangan, pelayaran, hingga pertahanan.

Hingga kini, Situbondo dikenal sebagai daerah agraris, maritim, dan religius dengan identitas budaya yang kuat, berpijak pada sejarah panjang yang bermula dari legenda hingga perjalanan pemerintahan modern.

Dari Sejarah Menuju Situbondo Masa Kini

Dengan latar sejarah panjang yang berakar dari legenda, kolonialisme, hingga pemerintahan modern, Kabupaten Situbondo tumbuh sebagai wilayah yang terbuka bagi pendatang dan kaya akan keberagaman budaya.

Jejak masa lalu tersebut kini menjadi fondasi penting dalam membangun identitas Situbondo sebagai daerah pesisir yang religius, historis, dan strategis di Jawa Timur.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.