5 Daerah di Kaltim yang Rumahnya Paling Banyak Gunakan Genteng
Briandena Silvania Sestiani February 14, 2026 07:19 AM

TRIBUNKALTIM.CO - Penggunaan bahan atap rumah menjadi salah satu indikator penting dalam melihat kondisi hunian masyarakat, termasuk tingkat ketahanan bangunan, kenyamanan termal, hingga adaptasi terhadap iklim. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025, terlihat jelas pola persebaran bahan bangunan utama atap rumah di seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan Timur.

Di Provinsi Kalimantan Timur, data terbaru menunjukkan bahwa pilihan bahan atap rumah masih sangat didominasi oleh seng, kayu, dan sirap sebanyak 89,65 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa hampir sembilan dari sepuluh rumah tangga di Kalimantan Timur masih menggunakan bahan atap yang relatif ringan dan mudah dipasang.

Di sisi lain, penggunaan genteng—yang sering diasosiasikan dengan bangunan permanen, lebih sejuk, dan lebih tahan terhadap panas—masih tergolong rendah secara keseluruhan.

Baca juga: Rehab Sekolah di Kukar akan Gunakan Genteng, Dimulai Tahun 2026

Meski demikian, terdapat beberapa daerah yang persentase penggunaan gentengnya lebih tinggi dibandingkan wilayah lain.

Dominasi Seng, Kayu, dan Sirap di Kalimantan Timur

Seng adalah lembaran logam tipis yang banyak digunakan sebagai atap karena ringan, murah, dan mudah dipasang.

Kayu dan sirap, yang merupakan potongan kayu pipih untuk atap, juga masih populer terutama di wilayah pedesaan dan daerah dengan akses bahan bangunan modern yang terbatas.

Kombinasi seng, kayu, dan sirap ini menjadi pilihan utama karena ketersediaannya yang melimpah serta biaya yang relatif terjangkau.

Namun, bahan-bahan tersebut memiliki kelemahan.

Seng cenderung menghantarkan panas dan menimbulkan suara bising saat hujan. Kayu dan sirap lebih rentan terhadap pelapukan, serangan rayap, serta risiko kebakaran.

Di sisi lain, genteng—baik berbahan tanah liat maupun beton—lebih tahan lama, mampu meredam panas, dan memberikan kenyamanan termal yang lebih baik di dalam rumah.

Data BPS menunjukkan bahwa secara rata-rata provinsi, hanya 6,05 persen rumah tangga di Kalimantan Timur yang menggunakan genteng.

Angka ini jauh di bawah penggunaan seng, kayu, dan sirap yang mencapai 89,65 persen. Artinya, genteng masih menjadi pilihan minoritas, meskipun keunggulannya cukup banyak.

Genteng sebagai Simbol Hunian Lebih Permanen

ATAP GENTENG - Ilustrasi atap genteng. Berikut daerah di Kaltim yang paling banyak gunakan atap genteng menurut data BPS (Grafis Tribun Kaltim/Canva)

Genteng biasanya digunakan pada rumah dengan struktur bangunan permanen.

Material ini lebih berat dibanding seng, sehingga memerlukan rangka atap yang lebih kuat. 

Namun, kelebihannya adalah daya tahan yang lebih lama, tidak mudah rusak, serta mampu menjaga suhu ruangan agar tetap sejuk.

Penggunaan genteng juga sering dikaitkan dengan peningkatan kualitas hunian.

 Di daerah perkotaan atau wilayah dengan perkembangan ekonomi lebih baik, masyarakat cenderung beralih ke genteng sebagai bagian dari upaya membangun rumah yang lebih nyaman dan tahan lama.

Lima Daerah dengan Penggunaan Genteng Terbanyak

Meski secara umum masih rendah, data BPS mencatat lima daerah di Kalimantan Timur yang memiliki persentase penggunaan genteng tertinggi dibandingkan wilayah lain.

Simak urutannya: 

1 . Kota Samarinda - 10,80 persen

2. Kota Balikpapan - 7,06 persen

3. Kabupaten PPU - 6,86 persen

4. Kabupaten Mahakam Ulu - 5,88 persen

5. Kabupaten Kutai Timur - 5,10 persen

Kota Samarinda berada di posisi teratas dengan persentase penggunaan genteng mencapai 10,80 persen.

Sebagai ibu kota provinsi dan pusat aktivitas ekonomi, Samarinda menunjukkan kecenderungan masyarakat untuk membangun rumah dengan material yang lebih permanen.

Posisi kedua ditempati oleh Kota Balikpapan dengan angka 7,06 persen. Kota ini dikenal sebagai pusat industri dan jasa, sehingga tidak mengherankan jika kualitas hunian masyarakatnya relatif lebih baik.

Kabupaten Penajam Paser Utara menempati urutan ketiga dengan 6,86 persen. Wilayah ini juga menjadi salah satu kawasan strategis seiring perkembangan wilayah penyangga ibu kota negara.

Di urutan keempat terdapat Kabupaten Mahakam Ulu dengan 5,88 persen. Meskipun tergolong daerah terpencil, penggunaan genteng di wilayah ini menunjukkan adanya peningkatan kualitas hunian di tengah keterbatasan akses.

Kabupaten Kutai Timur berada di peringkat kelima dengan 5,10 persen. Daerah ini memiliki aktivitas industri dan pertambangan yang cukup besar, yang turut memengaruhi pola pembangunan rumah.

Kelima daerah tersebut menunjukkan bahwa penggunaan genteng masih terkonsentrasi di wilayah tertentu, terutama kota besar dan daerah dengan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi.

Perbandingan dengan Bahan Atap Lain

Selain genteng, bahan atap lain yang tercatat dalam data BPS adalah beton, asbes, serta bambu, jerami, dan daun rumbia.

 Beton digunakan sebagai atap datar atau dak, biasanya pada bangunan bertingkat.

Asbes adalah bahan serat mineral yang tahan panas, namun kini mulai ditinggalkan karena dianggap berisiko bagi kesehatan.

Sementara bambu, jerami, dan daun rumbia umumnya digunakan pada rumah tradisional atau hunian sementara.

Namun, semua bahan tersebut memiliki persentase yang sangat kecil jika dibandingkan dengan seng, kayu, dan sirap.

Hal ini menegaskan bahwa pola hunian di Kalimantan Timur masih sangat bergantung pada material ringan dan mudah diperoleh.

Proyek Gentengisasi Prabowo

Presiden Prabowo Subianto meluncurkan gagasan “gentengisasi”, sebuah gerakan nasional untuk mengganti atap bangunan dari seng menjadi genteng.

Prabowo menyebut, mengganti atap seng dengan genteng sebagai bagian dari upaya memperbaiki kualitas hunian, memperindah lingkungan permukiman, serta memperkuat citra Indonesia di mata wisatawan.

Hal ini disampaikan Presiden Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornasi) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 yang digelar di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Senin (2/2/2026).

“Salah satu dalam rangka indah, saya lihat Surabaya, semua kota, semua kecamatan, hampir semua desa kita, sekarang maaf ya, terlalu banyak genteng dari seng. Seng ini panas untuk penghuni, seng ini juga berkarat,” ujar Prabowo.

Ia menambahkan bahwa dominasi atap seng membuat lingkungan permukiman kehilangan nilai estetika.

Presiden menegaskan bahwa sulit mewujudkan wajah Indonesia yang indah jika atap rumah masih didominasi seng.

“Tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genteng dari seng,” katanya dikutip dari Kompas.com.

Gentengisasi: Material Utama dan Produksi Lokal

 Dalam konsep gentengisasi, Prabowo mendorong penggunaan genteng sebagai material utama atap bangunan di seluruh wilayah Indonesia.

Program ini dirancang sebagai gerakan masif yang melibatkan pemerintah daerah, koperasi, dan berbagai pihak terkait.

Presiden menekankan bahwa industri genteng relatif mudah dikembangkan karena tidak memerlukan investasi alat yang mahal.

 “Alat-alat pabrik genteng itu tidak mahal, jadi nanti koperasi Merah Putih akan kita lengkapi dengan pabrik genteng,” ujarnya.

Selain itu, genteng berbasis tanah bisa dikombinasikan dengan material limbah agar lebih ringan dan kuat.

Prabowo menyebut limbah batu bara sebagai salah satu bahan tambahan yang potensial.

Hunian Nyaman dan Nilai Tradisi

Selain aspek teknis, gentengisasi juga dikaitkan dengan nilai tradisi dan kenyamanan hunian.

Menurut Presiden, rumah-rumah tradisional Indonesia menggunakan material alami yang lebih sejuk dibanding seng.

“Kalau kita ingat nenek kita, kakek kita, atasnya itu dulu pakai rumbia atau pakai ijuk atau pakai sirap. Atau pakai bahan-bahan dari alam, jadi sejuk,” kata Prabowo.

Ia mencontohkan kampung halaman ibunya di Minahasa yang dulunya menggunakan atap rumbia.

Perkuat Pariwisata dan Citra Indonesia

Prabowo juga mengaitkan gentengisasi dengan sektor pariwisata.

Menurutnya, permukiman dengan atap seng berkarat tidak memberi kesan positif bagi wisatawan. 

“Turis dari luar, untuk apa dia datang melihat seng berkarat? Karat itu lambang degenerasi,” ujarnya.

Presiden menargetkan dalam 2–3 tahun ke depan, Indonesia tidak akan terlihat berkarat.

Ia pun mengajak kepala daerah untuk bergabung dalam gerakan gentengisasi demi menciptakan lingkungan yang indah.

“Yang mau ayo bersama kita. Bikin kotamu indah, bikin kecamatanmu indah, bikin desamu indah,” ajak Prabowo.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.