Ribuan Benih Ikan Ditebar di Sungai Jaletreng Tangsel, Pulihkan Ekosistem Pascakebakaran Gudang
Wawan Perdana February 14, 2026 06:07 PM

 

Laporan wartawan TribunBanten.com Ade Feri Anggriawan

TRIBUNBANTEN.COM, TANGSEL-Upaya pemulihan lingkungan terus dilakukan pasca kebakaran gudang kimia yang menyebabkan pencemaran di Sungai Jaletreng, Kota Tangerang Selatan, Banten.

Hal itu diwujudkan dengan menebar sekitar 5.000 benih ikan ke aliran sungai sebagai bagian dari rehabilitasi ekosistem.

Ribuan benih ikan tersebut difasilitasi oleh PT Biotek Saranatama selaku pihak yang bertanggung jawab atas dugaan pencemaran yang terjadi, dan bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH)  maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Tangerang Selatan.

Ikan yang ditebar di sejumlah titik aliran sungai sepanjang 2 kilometer itu, merupakan jenis lele, gurame, dan ikan nila.

Ketiga jenis ikan itu dipilih karena dianggap lebih sensitif terhadap kandungan kimia. Sehingga jika ikan mampu bertahan hidup, artinya kadar pestisida sudah jauh menurun. 

Pemulihan Bertahap

Kepala DLH Tangsel, Bani Khosyatullah mengatakan, penebaran benih ikan itu dilakukan pada Jumat (13/2/2026), setelah pihaknya bersama instansi terkait melakukan serangkaian proses penanganan pencemaran, mulai dari penetralan udara hingga pembersihan residu pestisida di aliran sungai.

"Sebelum penebaran benih kita sudah lakukan uji sampel air, koordinasi lintas daerah terkait dugaan pencemaran sungai, termasuk melakukan susur sungai, dan penaburan karbon aktif serta cairan N1 level dari kementerian di Sungai Jaletreng," ujarnya melalui pesan singkat, Sabtu (14/2/2026).

Ia menyatakan, penaburan benih ikan itu juga dilakukan berdasarkan usulan dari DPRD Tangsel, saat kegiatan susur sungai.

"Tapi secara teknis kemarin saya tidak tahu persis, karena ada kegiatan Jumat bersih di seluruh kecamatan," ucapnya.

Baca juga: Pemkot Tangsel Tabur Karbon Aktif Usai Kebakaran Gudang Kimia di di Sungai Jaletreng

Sementara itu, Manajemen PT Biotek Saranatama, Luki menjelaskan, sebagai bentuk tanggung jawab sosial atas insiden yang terjadi, pihaknya melakukan sejumlah upaya rehabilitasi lingkungan.

Menurutnya, dalam menebar benih ikan itu pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas LH Tangerang Selatan yang difasilitasi oleh Paguyuban Taman Tekno.

Kegiatan tersebut juga disaksikan oleh Wakil Wali Kota Tangerang Selatan beserta jajaran pemerintah daerah.

Sedangkan untuk biaya yang dikeluarkan, berkisar antara Rp 2 miliar hingga Rp 3 miliar.

"Itu untuk penanganan residu pestisida sajac belum termasuk perhitungan kerugian maupun perawatan fasilitas kantor yang terdampak," katanya.

Luki menambahkan, pemulihan dilakukan secara bertahap dan berkala. Perusahaan juga membentuk tim khusus untuk melakukan pengecekan kualitas air secara rutin guna memastikan kondisi sungai benar-benar pulih.

Meski demikian, ia menegaskan, bahwa perusahaan tetap mengandalkan data hasil uji laboratorium untuk memastikan kondisi sungai. 

"Berdasarkan pemeriksaan awal dari sejumlah tim, cemaran disebut sudah tidak terdeteksi, namun verifikasi lanjutan tetap dilakukan secara menyeluruh," kata Luki.

Sedangkan saat ditanya perihal proses investigasi dan potensi nya bergerak ke ranah hukum, Luki menyatakan, pihak perusahaan telah menyerahkan berbagai dokumen perizinan kepada kepolisian dan dinas terkait, termasuk izin operasional dan dokumen legalitas gudang. 

Namun, ia mengakui masih ada sejumlah data yang sedang dilengkapi karena fokus perusahaan saat ini masih pada penanganan residu limbah.

“Kami kooperatif dan menyampaikan semua data yang diminta. Saat ini prioritas kami adalah memastikan penanganan limbah selesai dan ekosistem sungai benar-benar pulih,” tutupnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.