TRIBUNSUMSEL.COM, KAYUAGUNG -- Ratusan sekolah di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mulai mengadopsi teknologi pembelajaran modern salah satunya melalui penggunaan Interactive Flat Panel (IFP) atau papan tulis digital interaktif.
Alat teknologi itu dibagikan Pemkab OKI lewat program digitalisasi sekolah yang diluncurkan secara masif.
Selain papan tulis digital, Pemkab OKI juga menyalurkan bantuan laptop hingga dukungan internet satelit bagi wilayah selama ini terisolasi dari sinyal seluler.
Dikatakan Kepala Dinas Pendidikan OKI, M Refly, penyaluran fasilitas tersebut untuk 479 SD negeri dan swasta, lalu 150 SMP negeri dan swasta.
Sedangkan bagi jenjang pendidikan PAUD dari total 560 lembaga, baru 256 menerima perangkat. Sisanya 304 lembaga, ditargetkan menyusul tahun ini.
"Sekolah dasar dan menengah pertama sudah menerima dan kini memasuki tahapan optimalisasi pemanfaatan. Untuk PAUD akan menerima secara bertahap," ujar Refly saat peluncuran program di SMPN 6 Kayuagung pada Sabtu (14/2/2026) siang.
Baca juga: Razia Tempat Hiburan Malam di OKI, Polisi Amankan 12 Orang Positif Narkoba
Menurutnya, perangkat baru bisa dipakai pasca terpasang ruang kelas dan guru mendapat pelatihan teknis
"Sejumlah guru sebelumnya sudah mengikuti pelatihan di Provinsi Jakarta dilibatkan sebagai narasumber berbagi pengalaman penggunaan smart board dan integrasi materi ajar," ungkapnya.
Sementara Bupati OKI, Muchendi Mahzareki menegaskan pengadaan alat canggih hanya langkah awal.
Kunci keberhasilan transformasi ini terletak pada sumber daya manusia yakni para guru.
"Program ini lompatan kemajuan. Tapi saya ingatkan, jangan sampai perangkat mahal ini hanya menjadi pajangan. Kuncinya pada kesiapan dan kompetensi guru dalam mengoperasikannya," tegas Bupati.
Dikatakan lebih lanjut, di era digital adaptasi bukan pilihan melainkan kebutuhan. Teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan literasi dan keterampilan digital siswa agar tidak tertinggal dengan daerah lain.
Di balik kecanggihan teknologi, Pemkab OKI memberikan perhatian khusus pada kesejahteraan tenaga pendidik.
Muchendi memastikan gaji guru non-PNS yang sebelumnya bergantung pada dana BOS, kini dialihkan menjadi tanggung jawab pemerintah daerah melalui APBD.
"Ada penyesuaian gaji PPPK, khususnya PPPK paruh waktu yang menyesuaikan kemampuan fiskal daerah. Namun kami berupaya memberi kepastian status, termasuk pengangkatan guru PPPK dan PPPK Paruh Waktu serta peningkatan kesejahteraan," ujarnya
Perubahan langsung dirasakan oleh para guru di lapangan.
Novi seorang guru di SDN 1 Desa Jermun mengaku sangat terbantu dengan adanya papan interaktif.
"Dulu kami sering pakai paket data pribadi yang lelet. Sekarang, materi bisa langsung tampil lewat video dan gambar. Siswa jadi jauh lebih aktif dan antusias," ceritanya.
Senada, Ratna, Kepala SMPN 7 Sungai Menang yang berada di wilayah perairan, merasa bersyukur dengan hadirnya internet satelit.
"Kami yang berada di pelosok sekarang punya kesempatan sama mengakses sumber belajar digital seperti sekolah di kota," pungkasnya.
Ikuti dan bergabung di saluran WhatsApp Tribunsumsel