TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Puluhan mahasiswa dari berbagai wilayah bersama komunitas masyarakat berkumpul di lereng Gunung Wilis untuk menggelar doa dan refleksi kebangsaan.
Kegiatan yang berlangsung di pusara Ibrahim Datuk Tan Malaka di Desa Selopagung, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Sabtu (14/2/2025).
Kegiatan itu digelar dalam rangka memperingati haul ke-77 tokoh yang dikenal sebagai 'Bapak Republik'.
Peringatan tahun ini juga menandai dua dekade sejak lokasi makam Tan Malaka ditemukan di kawasan tersebut.
Suasana khidmat menyelimuti rangkaian acara yang diisi doa bersama, orasi kebangsaan, hingga pembacaan puisi yang menyoroti warisan pemikiran kritis sang tokoh bagi generasi muda.
Peserta yang hadir datang dari berbagai kota di Jawa Timur hingga luar daerah.
Mereka memadati area makam sejak pagi hari untuk mengikuti rangkaian kegiatan, yang tidak hanya bersifat seremonial tetapi juga reflektif terhadap perjalanan bangsa.
Ketua Tan Malaka Institute Jawa Timur, Imam Mubarok atau akrab disapa Gus Barok, menegaskan, peringatan haul menjadi momentum menjaga semangat perjuangan Tan Malaka.
Ia mengingatkan bahwa pengakuan Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional telah sah melalui Keputusan Presiden Nomor 53 Tahun 1963.
"Tan Malaka adalah Bapak Bangsa. Ide tentang Republik Indonesia lahir dari pemikiran beliau jauh sebelum proklamasi kemerdekaan. Kita berkumpul di sini agar semangatnya tetap hidup, karena gagasan Tan Malaka tidak pernah mati," kata Gus Barok dalam orasinya di hadapan peserta.
Baca juga: Jelang Ramadan, Pemkab Kediri Pastikan Stok LPG 3 Kg Aman dan Kuota 2026 Tetap 157 Ribu Metrik Ton
Dalam refleksi kebangsaan, peserta juga diajak menelaah kembali pemikiran Tan Malaka melalui buku Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika).
Karya tersebut dinilai masih relevan untuk mendorong masyarakat berpikir rasional, menjunjung kedaulatan rakyat, serta menjaga kemandirian berpikir di tengah tantangan zaman.
Gus Barok menambahkan bahwa pemikiran rasional yang ditawarkan Tan Malaka dapat menjadi pijakan generasi muda dalam menghadapi arus informasi yang kerap dipenuhi takhayul dan fanatisme sempit.
"Madilog mengajarkan kita untuk berpikir ilmiah, objektif, dan berani mempertanyakan sesuatu secara logis," terangnya.
Apresiasi juga datang dari tanah kelahiran Tan Malaka di Sumatra Barat.
Ketua Yayasan Ibrahim Tan Malaka, Ferizal Sultan Purnama Agung, menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Kediri yang selama ini menjaga makam dan mengenang pemikiran Tan Malaka.
"Atas nama keluarga dan yayasan, kami menghaturkan penghargaan setinggi-tingginya. Hal ini mempererat silaturahmi antara keluarga di Limapuluh Kota dengan keluarga besar di Kediri," ungkap Ferizal, seraya menyebutkan bahwa peringatan serupa akan digelar di Sumatra Barat pada 21 Februari mendatang.
Melalui peringatan haul ini, para peserta berharap semangat republikanisme yang diperjuangkan Tan Malaka, yakni negara yang berdiri di atas kesadaran kritis dan keberanian berpikir, dapat terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi muda dalam membangun karakter bangsa.
(Luthfi Husnika/TribunMataraman.com)
Editor : Sri Wahyunik