Isi Surat Ketua BEM UGM ke UNICEF Suarakan Kasus Anak di NTT, Berujung Teror, DPR Minta Aparat Usut
Apriantiara Rahmawati Susma February 15, 2026 11:44 AM

 

TRIBUNSTYLE.COM - DPR RI mendesak aparat penegak hukum untuk bergerak cepat mengungkap dalang di balik aksi teror yang menyasar Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto.

Anggota Komisi X DPR RI, Hilman Mufidi, melayangkan kecaman keras atas intimidasi yang menimpa aktivis mahasiswa tersebut. 

Peristiwa ini disinyalir berkaitan erat dengan sikap kritis Tiyo.

Sebagaimana diketahui, Tiyo mulai menerima teror tak lama setelah dirinya lantang menyuarakan keprihatinan atas kasus tragis bunuh diri seorang anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menyita perhatian publik beberapa waktu lalu.

Bagi Hilman, intimidasi ini bukan sekadar ancaman personal, melainkan sebuah ancaman serius bagi kebebasan berpendapat. 

"Tindakan teror kepada adinda Tiyo, Ketua BEM UGM tentu sangat tidak sepatutnya dilakukan. Saya sangat menyayangkan aksi itu, itu sama saja dengan praktik pembungkaman," kata Hilman dalam keterangan tertulisnya, Jumat (13/2/2026).

Baca juga: Kronologi Taqy Malik Diduga Mark Up Wakaf Al Quran, Sudah Diperingatkan Sahabat Malah di Unfollow

TEROR BEM UGM - Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, diteror setelah suarakan kasus siswa SD akhiri hidup di NTT, dikuntit dan difoto diam-diam, dapat ancaman penculikan
TEROR BEM UGM - Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, diteror setelah suarakan kasus siswa SD akhiri hidup di NTT, dikuntit dan difoto diam-diam, dapat ancaman penculikan (Instagram/@tiyoardianto_)

Hilman menegaskan bahwa keberanian Tiyo dalam bersuara bukanlah sebuah pelanggaran, melainkan manifestasi nyata dari kebebasan berpendapat yang secara konstitusional sah dan dilindungi sepenuhnya oleh hukum di Indonesia.

"Saya minta aparat mengusut tuntas siapa dalam aksi teror ke adinda Tiyo. Bagaimanapun suara Tiyo itu adalah wujud keterbukaan, wujud kebebasan berpendapat yang sangat perlu dihormati," tegas Politisi Fraksi PKB ini.

Di samping itu, Hilman melayangkan imbauan tegas kepada seluruh elemen masyarakat agar senantiasa menahan diri dalam menyikapi setiap dinamika yang berkembang.

Ia menekankan pentingnya menjaga kondusivitas, terutama dalam menanggapi isu sensitif seperti kasus tragis bunuh diri seorang siswa sekolah dasar di NTT.

"Semua pasti berduka, saya juga sangat prihatin dengan apa yang dialami anak kita di NTT, tapi menyikapi hal itu juga perlu keterbukaan hati, kekuatan pikir, dan setiap kritik terhadap penanganan kasusnya harus disikapi dengan bijak, bukan malah dengan teror," pungkas Hilman.

Kronologi Teror yang Menimpa Tiyo

Gelombang intimidasi terhadap Tiyo mulai muncul dalam bentuk pesan digital yang mencemaskan.

Hanya berselang empat hari setelah BEM melayangkan kritik tajam terhadap Prabowo, Tiyo melaporkan adanya pesan WhatsApp bernada ancaman penculikan yang dikirim dari nomor misterius dengan kode negara Inggris.

“Agen asing”, “Culik mau?”, “Jangan cari panggung jadi tongkosong”, “Cari dosamu entr” “Banci” “Jangan cari panggung loe ya jual narasi sampah”.

Serangan digital sistematis berupa pesan ancaman berulang mulai menghujani ponsel Tiyo Ardianto sejak Senin (9/2/2026).

Setidaknya enam nomor asing terpantau terus-menerus mencoba menghubungi Ketua BEM UGM tersebut, namun ia memilih untuk tidak merespons demi menjaga keamanan dirinya.

Tak berhenti di ranah digital, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM ini juga mengalami intimidasi fisik berupa penguntitan langsung oleh dua pria misterius bertubuh tegap.

Kedua sosok tersebut dilaporkan sengaja membuntuti dan mengambil foto Tiyo dari kejauhan secara sembunyi-sembunyi.

Saat berusaha dikejar untuk diidentifikasi, para penguntit tersebut langsung menghilang dengan cepat.

Tiyo meyakini bahwa seluruh rangkaian teror ini merupakan reaksi atas surat resmi terkait isu kemanusiaan yang dikirimkan BEM UGM ke UNICEF pada Jumat (6/2/2026).

Terungkap Isi Surat Tiyo kepada UNICEF

Melalui surat resmi tersebut, Tiyo melayangkan ajakan kepada dunia internasional untuk turut menegur Pemerintah Indonesia yang dinilai telah salah dalam menetapkan skala prioritas nasional.

Ia menekankan bahwa fokus utama pemerintah seharusnya dialokasikan secara masif pada penguatan sektor pendidikan dan kesehatan, bukan pada kebijakan yang mengabaikan kesejahteraan dasar rakyat.

Langkah berani ini mulai membuahkan hasil; pascapengiriman surat, Tiyo mengaku telah dihubungi oleh pensiunan UNICEF yang berkomitmen membantu menyampaikan aspirasi tersebut secara langsung kepada Direktur Eksekutif UNICEF, Catherine Russell.

Tiyo memandang rentetan teror yang ia alami sebagai bentuk nyata dari "bahasa kekuasaan" yang berusaha membungkam suara kritis.

Baginya, segala bentuk ekspresi rakyat yang didasari rasa cinta pada bangsa merupakan hak konstitusional yang wajib mendapatkan perlindungan penuh.

“Tidak boleh dianggap sebagai ancaman. Ketika orang yang peduli pada bangsa yang dianggap ancaman, maka orang-orang yang akan bertahan adalah mereka yang cenderung menjajah negaranya dengan cara memperbaiki mulutnya supaya Bapak senang, supaya Bapak Presiden senang,” ungkapnya kepada Tribun Jogja, Jumat (13/2/2026).

Sikap Tak Gentar Menghadapi Tekanan

Meski rentetan teror terus membayanginya, Tiyo Ardianto menegaskan bahwa dirinya tidak akan surut selangkah pun dalam menyuarakan kegelisahan rakyat.

Ia memegang teguh prinsip hidup bahwa "something that doesn’t kill you will make you stronger"—apa yang tidak membunuhmu, justru akan membuatmu tumbuh jauh lebih kuat.

Sikap tegak lurus ini juga menjadi representasi kolektif BEM UGM yang berkomitmen untuk tidak akan pernah mengubah arah perjuangan mereka. 

“Kita (BEM UGM) punya slogan yang sering diucapkan setiap ketemu di jalan ‘semakin ditekan, semakin melawan’. Jadi justru para peneror harus tahu, semakin meneror kita, itu justru semakin bahaya bagi mereka."

"Saya yakin negara, pemerintah nggak akan bunuh saya. Karena kalau bunuh saya, bahayanya akan lebih besar ketimbang keuntungannya,” ungkapnya.

Tiyo berharap rentetan teror yang menimpanya menjadi peristiwa terakhir dan tidak menimpa aktivis lainnya di masa depan.

Baginya, intimidasi ini adalah "alarm keras" yang menandakan bahwa kondisi demokrasi di Indonesia sedang tidak baik-baik saja.

“Saya harap ini terakhir kalinya, tidak hanya BEM UGM. Tidak boleh lagi ada peristiwa teror, penguntitan kepada orang lain atau lembaga lain. Karena di dalam negara demokrasi, kebebasan bukan diberikan oleh negara, tapi ada dalam sendirinya sebagai warga negara,” imbuhnya. 

(TribunStyle/Tribunnews.com/Gilang P, TribunJogja.com/Christi Mahatma Wardhani)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.