TRIBUNTRENDS.COM - Gelombang kecaman muncul setelah Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa BEM UGM dari Universitas Gadjah Mada, Tiyo Ardianto, menerima ancaman teror.
Salah satu suara yang lantang mengecam datang dari anggota Komisi X DPR RI, Hilman Mufidi.
Hilman mengaku prihatin atas peristiwa tersebut.
Bagi legislator Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) kelahiran Gresik, Jawa Timur, 24 Juli 2000 itu, tindakan teror yang diarahkan kepada Tiyo tidak bisa dianggap sepele.
Ia menilai, ancaman semacam itu identik dengan upaya membungkam kebebasan berpendapat.
Sorotan publik terhadap Tiyo sendiri bermula ketika ia menyuarakan kasus seorang siswa kelas IV SD berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Baca juga: Suarakan Kasus Siswa SD di NTT Akhiri Hidup, Ketua BEM UGM Dapat Teror, Dikuntit dan Difoto 2 Pria
Anak tersebut diduga mengakhiri hidup karena tak mampu membeli alat tulis seharga Rp10.000,00.
Setelah menyampaikan kritik sosial terkait kasus itu, Tiyo mengaku menerima sederet ancaman teror.
"Tindakan teror kepada Adinda Tiyo, Ketua BEM UGM, tentu sangat tidak sepatutnya dilakukan. Saya sangat menyayangkan aksi itu, Itu sama saja dengan praktik pembungkaman," kata Hilman, dikutip dari laman dpr.go.id, Minggu (15/2/2026).
Ia pun mendesak aparat penegak hukum untuk bergerak cepat mengusut dalang di balik ancaman tersebut.
Menurutnya, apa yang disampaikan Tiyo merupakan bagian dari hak demokratis yang semestinya dijaga, bukan ditekan.
"Saya minta aparat mengusut tuntas siapa dalam aksi teror ke Adinda Tiyo. Bagaimanapun, suara Tiyo itu adalah wujud keterbukaan, wujud kebebasan berpendapat yang sangat perlu dihormati," sambung Hilman.
Tak hanya menyoroti ancaman yang diterima Tiyo, Hilman juga menyampaikan duka cita atas meninggalnya siswa SD di NTT yang diduga bunuh diri pada Kamis (29/1/2026) lalu.
Ia menilai, keprihatinan atas tragedi tersebut seharusnya menjadi ruang refleksi bersama, bukan malah memicu intimidasi terhadap pihak yang menyuarakan kepedulian.
"Semua pasti berduka, saya juga sangat prihatin dengan apa yang dialami anak kita di NTT, tapi menyikapi hal itu juga perlu keterbukaan hati, kekuatan pikir, dan setiap kritik terhadap penanganan kasusnya harus disikapi dengan bijak, bukan malah dengan teror," tegas Hilman.
Pada Jumat (6/2/2026) lalu, Tiyo Ardiyanto mengunggah surat yang dikirimkan oleh BEM UGM kepada UNICEF (United Nation Children's Fund), sebuah lembaga di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertujuan untuk melindungi hak-hak setiap anak, terutama yang paling rentan, di lebih dari 190 negara.
Surat dengan bahasa Inggris dan tertanggal Kamis, 5 Februari 2026 serta ditujukan kepada Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell tersebut diunggah di akun Instagram pribadi milik Tiyo.
Surat ini berisi kritikan keras terhadap pemerintah Indonesia, buntut kasus tewasnya siswa kelas IV SD di Nusa Tenggara Timur (NTT) berinisial YBS yang diduga bunuh diri di dekat sebuah pondok tempat almarhum tinggal bersama sang nenek.
Dalam suratnya, Tiyo mengawali dengan kalimat: “What kind of world do we live in when a child loses his life because he cannot afford a pen and a book?”
Yang artinya: “Dunia macam apa yang kita tinggali ketika seorang anak kehilangan nyawanya karena dia tidak mampu membeli pena dan buku?"
Menurut Tiyo, peristiwa tewasnya YBS adalah tragedi kemanusiaan yang tidak seharusnya terjadi.
Tiyo menilai, tragedi tersebut bukanlah takdir maupun insiden terisolasi, melainkan hasil dari kegagalan sistemik.
Ia menekankan, hak setiap anak untuk mendapat akses pendidikan dijamin oleh Undang-undang 1945 dan sejalan dengan Pasal 28 dalam Konvensi PBB tentang Hak-hak Anak.
Namun, menurutnya, kebijakan Presiden RI Prabowo Subianto tidak memihak hal tersebut, dan kasus YBS adalah bukti kegagalan negara untuk melindungi warga yang paling rentan.
Tiyo juga menyebut, akar dari kasus tewasnya YBS disebabkan oleh sikap egoisme politik Prabowo.
Tiyo mendesak UNICEF untuk meningkatkan perannya di Indonesia dalam mengadvokasi perlindungan anak yang lebih kuat, menjamin anggaran pendidikan, dan mencegah kematian yang seharusnya bisa dihindari akibat kegagalan kebijakan.
Baca juga: Ketua BEM UGM Diteror Usai Gugat Kematian Bocah NTT ke UNICEF, Tak Akan Gentar Meski Nyawa Terancam
Mahasiswa Jurusan Filsafat UGM angkatan 2021 itu mengungkap, dirinya mendapat ancaman penculikan melalui sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
“Saya mendapat pesan dari nomor tidak dikenal yang mengancam mau menculik,” ucapnya kepada Kompas.com, Jumat.
Lalu, ia juga mengaku sempat dikuntit oleh dua orang tak dikenal saat sedang berada di sebuah kedai pada Rabu (11/2/2026).
Menurutnya, kedua penguntit tersebut adalah laki-laki dewasa dengan postur tubuh tegap.
Tak hanya dikuntit, Tiyo juga menduga dirinya dipotret diam-diam.
"Yang menguntit dan memotret dari jauh dua orang laki-laki dewasa. Tubuhnya tegap dan masih relatif muda," ujar Tiyo.
Tiyo menjelaskan, dua orang yang diduga menguntit dirinya itu sempat dikejar, tetapi akhirnya menghilang.
“Dua pria yang tidak dikenal itu ketika kami kejar menghilang,” ujarnya.
Menurut Tiyo, kemungkinan kritik dan suara yang ia sampaikan dan tersebar di media sosial terkait kasus anak bunuh diri di NTT membuat pihak tertentu tersinggung.
"Apa yang saya suarakan di berbagai media mungkin ada yang tersinggung," ucapnya.
Tiyo juga menyebut, dirinya melakukan komunikasi langsung dengan pihak kampus maupun aparat, saat ditanya mengenai tanggapan kedua pihak itu terkait aksi teror yang dialaminya.
“Saya juga tidak berkomunikasi langsung dengan kampus dan aparat soal ini,” papar Tiyo.
Dalam unggahannya itu, ia menegaskan bahwa dirinya tidak takut maupun gentar dalam menghadapi berbagai ancaman teror.
Tiyo juga berterima kasih atas dukungan dari masyarakat Indonesia dan meyakinkan bahwa dirinya akan terus baik-baik saja.
Berikut unggahan Tiyo:
Saya dan BEM UGM tidak akan takut apalagi gentar. Selama terus lahir orang-orang waras di Republik ini, selama itulah penguasa yg zalim tidak akan hidup tenang. Terima kasih untuk Rakyat Indonesia, berkat cahaya doa Anda semua, saya masih baik-baik saja.
Saya akan terus baik-baik saja.
(TribunTrends/Tribunnews)