Ketua Koperasi Merah Putih Selumit Titip Sampel Pupuk ke Wamenkop, Harap Izin Edar Dipermudah
Amiruddin February 15, 2026 04:14 PM

 

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Ketua Koperasi Merah Putih (KMP) Selumit, Saiful,  menyampaikan harapan besar kepada Wakil Menteri Koperasi, Farida Faricha, agar dapat membantu mempercepat proses izin edar pupuk organik, yang saat ini dikelola pihaknya.

Dalam pertemuan bersama Wakil Menteri Koperasi, Farida Faricha, di Tarakan, Kalimantan Utara ( Kaltara ), Minggu (15/2/2026) hari ini, Saiful bahkan menitipkan langsung 5 kilogram sampel pupuk organik kepada Farida Faricha.

Upaya Saiful itu, sebagai bentuk keseriusan, sekaligus harapan agar proses perizinan bisa segera ditindaklanjuti di tingkat pusat.

“Kami tadi menitip 5 kilogram sampel pupuk, supaya tidak perlu lagi kami kirim sendiri.

Cukup Ibu Wamen yang menindaklanjuti,” ujarnya.

 

 

KUNJUNGI TARAKAN - Wamen Koperasi, Farida Faricha (kenakan jilbab, duduk pakai topi putih) saat tiba di Koperasi Merah Putih di Kelurahan Selumit Kota Tarakan, Minggu (15/2/2026). TRIBUNKALTARA.COM/ANDI PAUSIAH
KUNJUNGI TARAKAN - Wamen Koperasi, Farida Faricha (kenakan jilbab, duduk pakai topi putih) saat tiba di Koperasi Merah Putih di Kelurahan Selumit Kota Tarakan, Minggu (15/2/2026). TRIBUNKALTARA.COM/ANDI PAUSIAH (TribunKaltara.com/Andi Pausiah)

 

Baca juga: Breaking News, Wakil Menteri Koperasi Tinjau Pembangunan Koperasi Merah Putih Selumit Tarakan

 

Menurutnya, pupuk organik produksi KMP Selumit sebenarnya sudah memiliki pasar tetap. 

Permintaan rutin datang dari kelompok tani cokelat di Malinau, dengan volume rata-rata 200 kilogram per bulan.

“Itu baru dari kelompok tani cokelat di Malinau.

Belum yang dari kebun dan tambak, itu juga ada pemesanan,” jelasnya.

Selain itu, terdapat tambahan sekitar 500 kilogram produksi yang saat ini masih dalam proses pengembangan perusahaan.

Secara keseluruhan, pupuk yang keluar dari KMP Selumit diperkirakan mencapai sekitar 500 kilogram per bulan, dengan harga jual Rp50 ribu per 2 kilogram.

Meski permintaan stabil, persoalan utama yang dihadapi koperasi adalah biaya uji laboratorium untuk mendapatkan izin edar resmi.

“Kalau uji itu sekitar Rp32 juta.

Itu di lab Jerman di Bogor.

 Selain kandungannya, juga menguji mikrobanya.

Lisensinya langsung dari Jerman,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, informasi mengenai laboratorium tersebut diperoleh dari pihak ASDP.

Hingga saat ini, itu menjadi satu-satunya opsi yang mereka ketahui untuk pengujian resmi.

Saat ditanya apakah ada opsi lain yang lebih terjangkau, ia mengaku belum mengetahui alternatif lain.

“Sementara itu yang kami tahu karena itu info yang ditawarkan.

Kalau ada jalan lain lewat Ibu Wamen, kami sangat berharap,” katanya.

Ia pun optimistis Wakil Menteri Koperasi, Farida Faricha, dapat membantu mempercepat proses tersebut. 

Menurutnya, selain dikenal responsif, Farida Faricha juga memiliki latar belakang kimia,  sehingga dinilai memahami persoalan teknis pupuk.

“Kami berharap itu bisa cepat prosesnya.

Saya yakin Ibu Wamen orangnya gercep, masih muda dan punya latar belakang kimiawi, pasti paham soal pupuk,” ujarnya.

Secara lugas, ia menyampaikan harapan adanya “tangan besi” dari pemerintah pusat,  agar izin edar pupuk organik KMP Selumit bisa dipermudah.

“Saya berharap dengan bantuan sosial, dengan 'tangan besinya' ibu wamen supaya izin edar ini bisa dipermudah,” tegasnya.

Tak hanya fokus pada pupuk organik, Koperasi Merah Putih Selumit juga tengah menyiapkan pengembangan usaha lain.

Dalam skema usaha ke depan, koperasi berencana mendatangkan beras dan telur dari Sulawesi.

Ia menyebut, pihak perusahaan memiliki kandang di Sulawesi, dan akan mengembangkan peternakan skala besar, untuk memenuhi kebutuhan telur di Tarakan, yang selama ini banyak dipasok dari luar daerah.

“Kebutuhan telur Tarakan ini cukup tinggi, dan selama ini ditutupi dari Sulawesi.

Kita mulai dari Tarakan dulu, tapi tidak menutup kemungkinan dikembangkan ke luar,” tukasnya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.