Pagi itu, kawasan Blok M tak sekadar menjadi tempat nongkrong atau belanja. detikTravel, berkesempatan mengikuti walking tour bersama The Heritage Hunter. Kegiatan ini merupakan agenda tur jalan kaki yang mengajak peserta menyusuri sejarah, budaya, hingga denyut pertumbuhan ekonomi masyarakat di Melawai, Jakarta Selatan.
Tak hanya mendengar kisah, peserta diajak melihat langsung pertumbuhan kawasan yang identik dengan nama 'negara Blok M' itu pernah menyimpan jejak panjang perkembangan Jakarta.
Tur dimulai dan dibuka oleh penyelenggara dari Gramedia Jalma Blok M, dipandu oleh tim dari Cipta Kawasan. Di sana, peserta dijelaskan mengenai sejarah singkat Gramedia Jalma dan bagaimana pertumbuhan ekonomi dan semangat literasi mempengaruhinya bertumbuh menjadi ruang baca dan komunitas yang solid.
"Perkembangan kita sangat panjang sekali, karena Gramedia Jalma sudah direnovasi sebanyak tiga kali. Mulai dari Gramedia Melawai hingga sekarang dikenal dengan Gramedia Jalma. Jadi pertumbuhan di Blok M ini juga mempengaruhi perkembangan dari Gramedia di Blok M itu sendiri," ujar perwakilan Gramedia Jalma dalam kegiatan Walking Tour The Heritage Hunter, Sabtu (14/2/2026).
Dari Gramedia Jalma, perjalanan kemudian berlanjut menyusuri kawasan Blok M Square sebelum singgah di Filosofi Kopi Melawai dengan kutipan besar terpatri di bagian depan jendela "Aku, Kopi, dan Bumi" yang jadi slogan kesungguhan kedai kopi tersebut.
Di kedai kopi ini, peserta diajak menelusuri awal mula berdirinya Filosofi Kopi sekaligus melihat langsung proses pembuatan kopi oleh para barista.
"Filosofi Kopi Melawai berdiri tahun 2015 yang didirikan untuk kepentingan syuting film dan bisnis. Cerita dari berdirinya Filosofi Kopi menggambarkan kebangkitan kopi lokal di indonesia dengan ciri khas dan lokalitasnya, dibentuklah kedai ini," Jelas Handoko, salah satu tim pemandu walking tour.
Handoko menjelaskan bahwa kedai ini dibangun dengan konsep yang tak jauh dari akar kopi itu sendiri. Menurutnya, kopi yang tumbuh dan berkembang di negara-negara tropis, hidup berdampingan dengan hutan, tanah yang subur, serta ekosistem yang dihuni beragam makhluk hidup.
Konsep itu kemudian diterjemahkan ke dalam ruang kafe. Di beberapa sudut, tampak lukisan-lukisan hewan dan elemen alam yang menghiasi dinding. Bukan sekadar dekorasi, visual tersebut menjadi pengingat bahwa kopi tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari alam yang hidup dan saling terhubung.
Handoko menuturkan, sebagai tumbuhan tropis, kopi memiliki relasi erat dengan hewan dan lingkungan sekitarnya. Burung, serangga, hingga berbagai satwa lain turut berperan dalam ekosistem tempat kopi tumbuh.
"Ada lukisan burung, gajah, dan lain-lain ini bukan tanpa alasan. Kami menjadikan Filosofi Kopi sebagai wadah berekspresi dan menyuarakan pentingnya keberlangsungan kehidupan dari makhluk-makhluk hidup lain," jelas Handoko.
Karena itu, Filosofi Kopi ingin membawa pesan bahwa menikmati secangkir kopi juga berarti menghargai alam dan makhluk hidup lain yang ikut menjaga keberlanjutan tanaman tersebut.
Konsep ini menjadi salah satu cara Filosofi Kopi menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan bahwa bisnis dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan, sekaligus mengingatkan pengunjung tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam.
Dari Filosofi Kopi, perjalanan berlanjut ke M Bloc Space, salah satu ikon revitalisasi Blok M yang dulunya bekas Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri).
"M Bloc Space ini adalah bangunan cagar budaya karena dulunya adalah bekas bangunan Perusahaan Umum Percetakan Uang RI atau Peruri. Jadi pelaku bisnis di sini tidak bisa serta merta menghancurkan bangunannya," jelas Abi, salah seorang tim Cipta Kawasan yag turut menjadi pemandu tur.
Di M Bloc Space, peserta diajak untuk melihat sejumlah UMKM yang ada seperti matalokal, sebuah gerai yang menjual pernak-pernik perhiasan dan kerajinan tangan buatan karya anak bangsa dan gerai Suwe Ora Jamu yang menjual ramuan jamu tradisional khas Indonesia.
Dari sini, perjalanan berlanjut ke Taman Literasi Martha Christina Tiahahu.
Di taman ini, peserta diajak memahami latar belakang pembangunannya sebagai ruang terbuka hijau sekaligus ruang literasi publik. Taman Literasi kini menjadi salah satu titik temu warga, sekaligus simbol perubahan Blok M sebagai kawasan ramah pejalan kaki.
"Taman literasi ini menjadi saksi bisu dari ruang terbuka yang hijau menjadi ruang terbuka yang hidup," kata Abi.
Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri Jalan S. Hasanudin, termasuk melewati gang viral Pasaraya yang belakangan ramai di media sosial. Di sepanjang rute ini, peserta diajak melihat kontras antara Blok M tempo dulu dan wajahnya hari ini antara bangunan lama, gang sempit, hingga kawasan yang kini ramai oleh generasi muda.
Tur kemudian ditutup dengan kembali ke Gramedia Jalma Blok M. Melalui walking tour ini, Blok M tak lagi sekadar menjadi kawasan transit atau tempat nongkrong. Kawasan Melawai dan sekitarnya hadir sebagai ruang dengan sejarah panjang, budaya yang hidup, serta ekonomi masyarakat yang terus bergerak.
Tur ini menjadi pengingat bahwa Jakarta menyimpan banyak cerita, asalkan mau meluangkan waktu untuk berjalan dan mendengarkannya.







