Pelaku Usaha Wedding Bersuara, Tren Cukup Nikah di KUA' Dinilai Gerus Esensi Pernikahan
Dyan Rekohadi February 16, 2026 12:32 AM

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA – Tren pernikahan sederhana yang cukup dilakukan di Kantor Urusan Agama (KUA) kian menguat di kalangan Generasi Z.

Pernikahan dimaknai cukup sah secara hukum dan agama, tanpa perlu perayaan besar.

Di balik pilihan tersebut, pelaku industri pernikahan mulai menyuarakan kegelisahan.

Mereka menilai, pergeseran ini bukan semata soal efisiensi biaya, melainkan juga berdampak pada hilangnya makna pernikahan sebagai peristiwa sakral yang seharusnya dirayakan dengan penuh sukacita.

Founder Whulyan Attire, Ayu Wulan, mengatakan Gen Z kini memiliki motivasi berbeda dalam memandang pernikahan.

“Banyak Gen Z yang memandang pernikahan sebagai acara yang penting sah saja. Intimate wedding, menikah di KUA, lalu selesai. Padahal pernikahan bukan sekadar perayaan satu hari atau pesta makan-makan,” ujarnya kepada Tribun Jatim dan Harian Surya. Selasa (10/2/26).

Menurut Ayu Wulan, pernikahan tetap perlu dihargai sebagai momen besar dalam hidup, tanpa harus selalu diidentikkan dengan kemewahan berlebihan.

“Yang ingin kami tekankan, pernikahan itu harus dirayakan dengan sukacita. Bukan karena takut menikah, bukan karena tekanan tren, tapi karena kesadaran akan maknanya,” tegasnya.
Ia juga menyoroti kuatnya pengaruh media sosial terhadap cara pandang generasi muda.

“Semua orang sekarang hidup di media sosial. Kalau narasi yang muncul adalah menikah cukup sah lalu jalan-jalan, lama-lama esensi pernikahan itu sendiri bisa hilang,” katanya.

Baca juga: Everlasting Wedding Experience, Kampanye Whulyan Angkat Kembali Makna Pernikahan di Kalangan Gen Z

Kegelisahan Merata di Kalangan Vendor

Pandangan serupa disampaikan Lita dari Visesa Wedding Organizer. Ia menyebut hampir seluruh pelaku usaha wedding menghadapi tantangan yang sama akibat perubahan perilaku konsumen.

“Hampir semua vendor menghadapi kegelisahan serupa. Tantangannya adalah bagaimana membuat pernikahan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan,” ujarnya.

Menurutnya, banyak calon pengantin muda yang sebenarnya belum memiliki gambaran jelas soal pernikahan.

“Mereka datang tanpa bayangan. Setelah melihat, mencoba, dan mendapat edukasi, baru muncul gambaran wedding dream mereka,” katanya.

Lita menambahkan, Gen Z cenderung menyukai pengalaman langsung dan edukasi yang praktis.

“Mereka tidak cukup hanya datang, lihat, konsultasi, lalu pulang. Harus ada experience dan edukasi,” imbuhnya.

Baca juga: The Museum of Love, Pameran Pernikahan Imersif Gabungan Konsep Seni dan Romansa

Angka Pernikahan Menurun, Industri Terpukul

Founder Mitra Flower & Decorations, Sumitro, membeberkan fakta penurunan angka pernikahan secara nasional yang berdampak langsung pada industri.

“Di 2025, penurunan pernikahan terasa paling parah bagi pelaku usaha wedding,” ujarnya.

Ia menyebut, pada 2013 jumlah pernikahan di Indonesia masih sekitar 2,2 juta, sementara pada 2025 turun menjadi sekitar 1,4 juta.

“2023 masih 1,5 juta, 2024 turun lagi. Bahkan saat pandemi 2020 masih di angka 1,7 juta,” katanya.

Sumitro menilai perubahan gaya hidup Gen Z turut memengaruhi keputusan menikah.

“Mereka semakin minimalis. Di dekorasi yang penting foto bagus. Bunga artificial makin diminati, bunga asli makin jarang dipakai,” jelasnya.

Selain itu, media sosial dinilai ikut memperkuat ketakutan menikah.

“Beberapa figur publik yang pernikahannya gagal selalu speak up di media sosial. Narasi ini sangat mempengaruhi Gen Z,” ujarnya.

Pergeseran Selera, Vendor Harus Beradaptasi

Perwakilan Melodia, Risky, mengatakan selera Gen Z turut mengubah tren lighting dan tata suara dalam pernikahan.

“Sekarang arahnya ke soft, tidak mencolok tapi tetap kelihatan. Banyak yang memilih warna amber white,” ujarnya.

Menurut Risky, perubahan ini menuntut vendor untuk terus menyesuaikan diri.

“Trennya bergeser, dan kami harus mengikuti,” katanya.

Hal senada disampaikan Founder Malik Entertainment, Malik Atmadja. Ia menilai perubahan gaya pernikahan adalah keniscayaan, namun bukan berarti makna pernikahan harus ikut memudar.

“Setiap tahun selalu ada pergeseran kultur dan style. Yang penting, bagaimana modernisasi dan teknologi tetap bisa mengedukasi calon pengantin,” ujarnya.

Ia menyebut Jawa Timur, khususnya Surabaya, masih menjadi referensi konsep pernikahan bagi daerah lain.

Baca juga: Pencegahan Pernikahan Dini, Kemenag Jatim : Keluarga dan Tokoh Masyarakat Perlu Ikut Andil

Bukan Ajang Pamer, Tapi Momen Sakral

Fotografer wedding Bayu melihat perubahan besar pada preferensi klien.

“Dulu dekorasi serba mewah, sekarang lebih praktis dan intimate. Warna netral, yang penting bagus secara visual,” katanya.

Meski demikian, ia menilai kenyamanan tamu tetap harus diperhatikan.

“Visual tamu yang datang juga harus dimanjakan,” ujarnya.

Sementara itu, Owner Sonokembang Catering, Pramudita Ananta Prabowo, menegaskan pernikahan bukanlah ajang pamer.

“Pernikahan itu membahagiakan, bukan kompetisi siapa paling wah. Ini momen bersatunya dua keluarga dan saling mendoakan,” ujarnya.

Ia menilai penurunan angka pernikahan juga dipicu stigma bahwa pernikahan harus selalu tampil megah.

“Padahal pernikahan bisa sederhana tapi tetap bermakna,” katanya.

Para pelaku industri sepakat, tren pernikahan boleh berubah mengikuti zaman. Namun makna dan esensi pernikahan sebagai ikatan sakral diharapkan tetap dijaga.

“Yang dibutuhkan sekarang adalah narasi positif soal pernikahan, terutama di media sosial,” pungkas Pramudita.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.