Reaksi UGM usai Ketua BEM Tiyo Ardianto Dapat Teror Hendak Diculik, Beri Perlindungan Maksimum
M Zulkodri February 16, 2026 02:36 PM

 

BANGKAPOS.COM -- Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto mengaku mendapat teror dan ancaman setelah aktif menyoroti kasus tragis anak berusia 10 tahun di NTT yang bunuh diri karena tidak mampu membeli alat tulis.

Pengakuan dari Tiyo Ardianto tersebut membuat pihak kampus langsung bereaksi.

Selaku tempat penyelenggara kegiatan akademik yang menaungi Tiyo, UGM siap memberikan perlindungan maksimum kepada ketua BEM tersebut.

Hal ini dikonfirmasi oleh juru bicara UGM Yogyakarta, Dr I Made Andi Arsana.

Andi Arsana mengungkapkan jika pihak kampus telah berkomunikasi dengan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto.

Kampus kemudian menugaskan Kantor Keamanan, Keselamatan Kerja, Kedaruratan, dan Lingkungan (K5L) untuk melakukan pemantauan dan perlindungan yang diperlukan. 

Baca juga: Sosok Tiyo Ardianto, Ketua BEM UGM Ngaku Diancam usai Suarakan Kasus Anak di NTT, Tak Akan Gentar

“Pada prinsipnya, atas nama institusi dan berdasarkan konstitusi, UGM berkewajiban melindungi seluruh civitas akademika UGM dari ancaman atau teror yang berasal dari mana pun,” jelas Made Andi, dalam keterangan resminya, Minggu (15/2/2026).

Dikonfirmasi terpisah, Tiyo Ardianto membenarkan sudah ada komunikasi dengan pihak universitas terkait upaya perlindungan terhadap dirinya.

“Sementara baru koordinasi intens,” jawabnya, soal bentuk perlindungan seperti apa yang diberikan kampus. 

Sebelumnya, Tiyo mengaku menerima teror berupa pengancaman hingga penguntitan.

Tiyo Ardianto mengaku mendapatkan pesan dari nomor yang tidak ia kenal, berisi pengancaman bahwa dirinya akan diculik.

selain itu, Tiyo juga mengaku mengalami penguntitan oleh dua orang tak dikenal saat dirinya sedang berada di sebuah kedai.

Tiyo Ardianto menduga aksinya dalam menyoroti kasus anak bunuh diri di NTT mungkin membuat pihak tertentu tersinggung.

Hal itulah yang kemudian membuatnya kini mendapatkan teror berupa pengancaman dan penguntitan.

Adapun pengakuan ini disampaikan Tiyo Ardianto kepada Kompas.com, Jumat (13/2/2026).

Ketua BEM UGM ini diteror dengan berbagai ancaman, penguntitan, hingga pemotretan dari pihak tak dikenal selama 9-11 Februari 2026. 

“Saya mendapat pesan dari nomor tidak dikenal yang mengancam mau menculik,” ucapnya.

Tiyo juga mengaku sempat mengalami penguntitan pada Rabu (11/2/2026).

Penguntitan terhadap Tiyo dilakukan oleh dua orang tak dikenal saat dirinya sedang berada di sebuah kedai.

Menurut penuturan Tiyo kedua orang tersebut laki-laki dewasa dengan postur tubuh tegap.

"Yang menguntit dan memotret dari jauh dua orang laki-laki dewasa. Tubuhnya tegap dan masih relatif muda," paparnya.

Meski saat itu sempat dikejar namun dua orang yang diduga melakukan penguntitan kepadanya menghilang.

Baca juga: Nasib Miranti Istri AKBP Didik Kuncoro, Diperiksa Polisi Imbas Suami Simpan Narkoba Titip ke Polwan

“Dua pria yang tidak dikenal itu ketika kami kejar menghilang,” ujarnya.

Diketahui, Tiyo Ardianto bersama BEM UGM sempat mengirimkan surat resmi kepada UNICEF untuk menyoroti kasus tragis anak berusia 10 tahun di NTT yang bunuh diri karena tidak mampu membeli alat tulis seharga kurang dari Rp 10.000.

Dalam suratnya, Tiyo menulis, “What kind of world do we live in when a child loses his life because he cannot afford a pen and a book?”.

“Dunia macam apa yang kita tinggali ketika seorang anak kehilangan nyawanya karena dia tidak mampu membeli pena dan buku?,” tulisnya.

Ia menekankan bahwa tragedi ini bukanlah nasib atau kejadian terisolasi, melainkan akibat “systemic failure” (kegagalan sistemik) dan kegagalan negara melindungi warga paling rentan.

Ia meminta UNICEF meningkatkan perannya di Indonesia, terutama dalam memperkuat perlindungan anak, menjamin anggaran pendidikan, dan mencegah kematian yang seharusnya bisa dihindari akibat kegagalan kebijakan.

Tiyo Diteror hingga Dikuntit

Ketua BEM UGM diteror dengan berbagai ancaman, penguntitan, hingga pemotretan dari pihak tak dikenal selama 9-11 Februari 2026.  

Baca juga: Sosok Amanda Zahra, Kecantikannya jadi Pemersatu Perang Knetz vs Nitizen Indonesia

Salah satu teror yang dialaminya adalah mendapatkan ancaman penculikan melalui sebuah pesan dari nomor tak dikenal.

Pesan itu masuk dari nomor yang sama, namun dikirim dalam waktu yang berbeda-beda.

Pesan tersebut terus-menerus masuk, berisi: “Agen asing”, “Culik mau?”, “Jangan cari panggung jadi tongkosong”, “Cari dosamu entr” “Banci” “Jangan cari panggung loe ya jual narasi sampah”.

Tak hanya itu, Tiyo juga mengaku sempat mengalami penguntitan pada Rabu (11/2/2026).

Penguntitan terhadap Tiyo dilakukan oleh dua orang tak dikenal saat dirinya sedang berada di sebuah kedai.

Menurut penuturan Tiyo kedua orang tersebut laki-laki dewasa dengan postur tubuh tegap.

"Yang menguntit dan memotret dari jauh dua orang laki-laki dewasa. Tubuhnya tegap dan masih relatif muda," paparnya.

Meski saat itu sempat dikejar namun dua orang yang diduga melakukan penguntitan kepadanya menghilang.

“Dua pria yang tidak dikenal itu ketika kami kejar menghilang,” ujarnya.

Tiyo Ardianto menambahkan bahwa suara yang ia sampaikan dan disebarkan secara luas di media terkait kasus anak bunuh diri di NTT mungkin membuat pihak tertentu tersinggung.

"Apa yang saya suarakan di berbagai media mungkin ada yang tersinggung," ucapnya. 

Ditanya mengenai tanggapan kampus dan aparat, Tiyo menyatakan tidak melakukan komunikasi langsung dengan pihak-pihak tersebut.

“Saya juga tidak berkomunikasi langsung dengan kampus dan aparat soal ini,” ujarnya.

Dalam Instagram pribadinya, Tiyo menegaskan meski mendapat intimidasi, ia tidak akan gentar.

“Saya dan BEM UGM tidak akan takut apalagi gentar. Selama terus lahir orang-orang waras di republik ini, selama itulah penguasa yang zalim tidak akan hidup tenang,” tandasnya.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang telah mendukungnya menyuarakan kebenaran.

“Terima kasih untuk rakyat Indonesia, berkat cahaya doa Anda semua, saya masih baik-baik saja. Saya akan terus baik-baik saja,” jelasnya.

(Bangkapos.com/TribunnewsMaker.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.