TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Sektor perikanan air tawar di Kabupaten Kediri terus menunjukkan perkembangan positif melalui lahirnya inovasi Nila Black Airlangga.
Varietas unggulan ini dikembangkan oleh Ipik Nurhalim (41) pembudidaya asal Dusun Surowono Desa Canggu Kecamatan Badas yang juga owner Kelompok Pembudidaya Ikan Sumber Drajat.
Ipik menjelaskan Nila Black Airlangga hadir bukan sekadar sebagai produk budidaya biasa, melainkan hasil pemuliaan berjenjang yang dirancang untuk meningkatkan kualitas genetik ikan nila.
Inovasi ini menjadi salah satu contoh penguatan daya saing perikanan air tawar berbasis kelompok di Kediri.
Menurut Ipik, pemuliaan dilakukan untuk memperbaiki sekaligus mempertahankan kualitas indukan agar menghasilkan benih unggul yang stabil.
"Kalau pemuliaan itu tujuannya memperbaiki dan mempertahankan genetik. Jadi kita tidak asal produksi, tapi melalui proses induk penjenis, induk pokok sampai induk akhir. Itu yang membedakan Nila Black Airlangga dengan nila biasa," kata Ipik, Senin (16/2/2026).
Kelompok Sumber Drajat sendiri diambil dari nama mata air sumber di desa setempat yang memiliki air melimpah.
Filosofi tersebut sekaligus menjadi komitmen kelompok dalam menjaga standar operasional dan mutu produksi.
"Sumber itu tempat gudangnya benih, derajat itu tahapan SOP dan kualitas. Jadi kita ingin benih dari sini punya derajat yang jelas," jelasnya.
Baca juga: Mahasiswi HI UB Asal Tuban Ini Buktikan Diri Lewat Prestasi Akademik dan Program Internasional
Saat ini, Kelompok Sumber Drajat memiliki 28 anggota dengan total lahan budidaya mencapai 11 hektare.
Untuk menjaga stabilitas usaha, produksi benih diatur mengikuti siklus pasar yang dibagi menjadi tiga musim, yakni musim sepi, musim sedang, dan musim ramai.
Pada Januari hingga April yang disebut musim sepi, produksi disesuaikan di kisaran 100 ribu hingga 150 ribu ekor per hari.
Langkah ini dilakukan untuk menghindari kelebihan stok di tengah permintaan yang relatif turun.
"Kita harus realistis, jangan sampai over produksi. Pasar itu stabil, jadi lahan harus kita kondisikan," ucapnya.
Memasuki Mei hingga September, produksi meningkat pada musim sedang dengan kapasitas 400 ribu hingga 500 ribu ekor per hari.
Sementara puncaknya terjadi pada Oktober hingga Desember, saat permintaan pasar melonjak hingga 1 juta ekor per hari.
"Kalau musim ramai, stok 1 juta ekor per hari itu kadang masih kurang. Permintaan dari Lamongan, Gresik, Tuban sangat tinggi di akhir tahun," ungkapnya.
Pasar Nila Black Airlangga tidak hanya menyasar wilayah pesisir Jawa Timur seperti Lamongan, Sidoarjo, dan Gresik, tetapi juga Tulungagung, Blitar, hingga Bali.
Sejak awal 2025, pemasaran bahkan mulai merambah luar Jawa.
"Kalau luar pulau itu tidak ada musim, permintaannya stabil, meski volumenya tidak sebesar dalam Jawa. Tapi itu peluang yang terus kita kembangkan," tambah Ipik.
Dari sisi kualitas, Nila Black Airlangga diklaim memiliki bentuk tubuh lebih proporsional dan tebal dengan pertumbuhan relatif cepat.
Masa panen ukuran konsumsi dapat dicapai dalam empat hingga lima bulan sejak tebar awal.
Keunggulan lainnya adalah minimnya kasus matang gonad dini, sehingga energi pertumbuhan ikan lebih optimal.
"Kalau di luar, umur empat bulan kadang sudah netter atau beranak. Di Nila Black Airlangga insya Allah sampai enam bulan tidak ada beranak. Jadi energi fokus ke pertumbuhan," jelasnya.
Untuk menjaga reputasi dan mutu, kelompok ini tidak menjual indukan ke luar. Seluruh sistem pemuliaan dikendalikan secara internal demi menjaga konsistensi kualitas.
"Indukan tidak kami jual. Prioritas kami menjaga mutu. Kalau ada yang mengaku Nila Black Airlangga di luar kelompok, itu dipastikan bukan dari kami," tegasnya.
Perjalanan inovasi ini dimulai sejak 2006, ketika Ipik mulai serius menekuni budidaya nila.
Pada 2008, ia melakukan seleksi indukan grade A dengan pendampingan dinas terkait hingga akhirnya mampu mandiri dalam mencetak indukan melalui sistem pemuliaan yang terstruktur.
Setelah menemukan indukan, baru tahun 2020 Ipik memasarkan anakan ikan black Airlangga ke luar daerah.
"Nama Airlangga terinspirasi dari tokoh raja yang ada di Kediri, kalau black itu hitam warna ikannya," ucapnya.
Dengan sistem produksi berbasis manajemen musim, pemuliaan berjenjang, serta penguatan kelembagaan kelompok, Nila Black Airlangga kini menjadi salah satu inovasi perikanan air tawar asli Kediri yang terus tumbuh dan siap bersaing di pasar regional hingga nasional.
"Dulu kita terus minta bantuan induk dari dinas, rasanya tidak enak. Akhirnya kita belajar mencetak indukan sendiri dengan sistem pemuliaan yang benar. Alhamdulillah sekarang sudah mandiri," tuturnya.
(Isya Anshori/TribunMataraman.com)
Editor : Sri Wahyunik