TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 di Manokwari dinilai sebagai momentum istimewa karena bertepatan dengan bulan suci Ramadan umat Muslim dan masa Prapaskah umat Kristiani.
Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Manokwari, Alexsander Irsiandi, menyebut peristiwa ini sebagai simbol toleransi yang jarang terjadi.
Menurutnya, Imlek tahun ini jatuh pada 17–18 Februari 2026, hampir bersamaan dengan dimulainya ibadah puasa Ramadan serta masa Prapaskah yang diawali dengan Rabu Abu bagi umat Katolik.
“Di sinilah letak momen yang sangat spesial. Tahun Baru Tionghoa kali ini bertepatan dengan bulan puasa saudara-saudara Muslim. Kami sebagai umat Katolik juga memulai masa Prapaskah dengan berpuasa selama 40 hari,” ujar Alexsander, Senin (16/2/2026).
Ia menjelaskan, Ramadan berlangsung selama 30 hari, sementara masa Prapaskah dijalani umat Katolik selama 40 hari sebagai persiapan menyambut Paskah.
Sehingga Alexander menilai, kebersamaan momentum spiritual ini merupakan peristiwa yang jarang terjadi.
“Biasanya ada jeda satu atau dua minggu, tapi di tahun 2026 ini hampir semuanya bersamaan,” katanya.
Baca juga: Harmoni Imlek Nusantara 2026: PSMTI Manokwari Merajut Kebersamaan Tanpa Batas
Perkuat Harmoni dan Kebersamaan
Alexsander berharap bertepatannya momen keagamaan tersebut semakin mempererat kerukunan antarumat beragama di Papua Barat, khususnya Manokwari.
“Semoga kebersamaan ini membuat kita semua aman, nyaman, dan tenang dalam menjalani ibadah masing-masing.
Harapannya kita lebih rukun, lebih nyaman bersama, dan tetap berbaur dengan peran masing-masing,” ungkapnya.
Ia menambahkan, suasana sukacita menyambut Imlek hendaknya tidak hanya dimaknai sebagai perayaan etnis tertentu, tetapi menjadi bagian dari kebersamaan seluruh komponen masyarakat.
“Momentum ini luar biasa. Kita merayakan kegembiraan Imlek, saudara-saudara Muslim menjalankan ibadah puasa, dan umat Katolik memulai masa Prapaskah. Ini gambaran toleransi yang hidup di Kota Manokwari,” pungkasnya.
Perayaan Imlek 2026 diharapkan menjadi simbol harmoni, memperkuat persaudaraan, dan menjaga stabilitas sosial di tengah keberagaman masyarakat Papua Barat.