Viral, Rumah Jokowi Ditandai sebagai Tembok Ratapan Solo di Google Maps, Ajudan Mengaku sudah Tahu
Amalia Husnul A February 16, 2026 07:07 PM

 

Baca juga: Jokowi Sudah Bicara dengan Prabowo soal Wantimpres, Tegaskan Pilih di Solo

Narasi ini kemudian tersebar di sejumlah akun media sosial.

 AKBP Syarif Fitriansyah mengaku tidak tersinggung dengan sindiran ini.

"Kalau saya biasa saja," ungkapnya saat dihubungi, Senin (16/2/2026).

Salah satu akun @indopium memposting video seorang pemuda yang tampak seperti sedang mengintip gerbang kediaman Jokowi.

Lalu dinarasikan seolah ia sedang meratap di gerbang tersebut.

"Tembok Ratapan di Solo kini jadi salah satu spot paling hype buat anak muda Gen Z," tulisnya.

 Syarif mengaku telah mengetahui adanya penyebutan ini.

Aktivitas Seperti Biasa

Namun, ia belum bisa memastikan apakah Jokowi sudah mengetahui atau belum.

"Ya, saya sudah tahu. Enggak tahu Bapak sudah tahu atau belum ya," ujarnya.

Ia pun tidak memberlakukan pembatasan setelah adanya narasi ini.

Pengunjung tetap bisa berfoto seperti biasa.

"Ya tetap biasa saja (tidak ada pembatasan pengunjung)," jelasnya. 

Apa Arti Tembok Ratapan?

Tidak diketahui maksud dari penandaan tembok ratapan tersebut. Namun tembok ratapan biasanya terhubung kepada Tembok Ratapan (Tembok Barat) di Yerusalem.

Tembok Ratapan adalah bangunan paling suci bagi umat Yahudi di seluruh dunia.

Salah satu tempat yang terkenal di Yerussalem, bahasa Arabnya al-Haaith al-Mubky atau Kotel HaMaaravi dalam bahasa Ibrani.

Dinamakan tembok ratapan, karena memang tembok ini dijadikan tempat meratap oleh banyak orang, terutama mereka yang beragama Yahudi.

Tembok ratapan ini tak pernah sepi, sejak pagi sampai petang selalu ada umat yang berdoa.

Konon, tembok ini juga merupakan saksi bisu kejayaan Nabi Sulaiman pada masanya. 

Tembok in dipuja sebagai peninggalan terakhir dari Bait Allah yang terakhir dibangun.

Tembok Barat merupakan bagian dari tembok yang tersisa,  dibangun oleh Herodes disekeliling Bait Allah yang kedua, dibangun pada tahun 20 S.M.

Tirus, pada tahun 70 M, menyelamatkan bagian tembok ini beserta batu-batu besarnya untuk menunjukan kepada generasi mendatang kebesaran tentara Romawi yang memiliki kemampuan menghancurkan bagian lain dari bangunan yang ada sebelumnya.

Selama periode pendudukan Romawi, orang Yahudi tidak diperkenankan untuk memasuki Jerusalem.

Selama periode Bynzantium, orang Yahudi diperkenankan untuk memasuki Jerusalem sekali dalam setahun, pada wakktu peringatan kehancuran Bait Allah, untuk meratapi pemecahan bangsa mereka dan menangisi kehancuran Bait Kudus.

Bagian tembok yang ada sekarang ini kemudian dikenal sebagai Tembok Ratapan.

Kebiasaan berdoa di Tembok ini berlanjut selama berabad-abad.

Sejak tahun 1948-1967 orang Yahudi tidak diperkenankan untuk mendatangi Tembok Ratapan ini, karena tembok ini dibawah pengawasan pemerintahan Yordania.

Setelah perang 6 hari, Tembok Ratapan menjadi tempat untuk bersukacita nasional sebagaimana sebagai tempat untuk peribadatan.

Sebuah lapangan terbuka yang luas disediakan sebagai wadah bagi beribu-ribu orang yang ingin melakukan ibadahnya.

Baca juga: Jokowi Jalani Pemeriksaan di Solo soal Kasus Ijazah, Ditanya 10 Hal oleh Penyidik

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.