TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Aroma sedap kopi menyapa hidung saat langkah kaki tiba di kedai milik Saka Bayu Praditya ( 33) seorang barista asal Kabupaten Semarang.
Pria berusia 33 tahun ini, ketika ditemui Tribun tengah meracik kopi Americano pesanan pelanggannya.
Siapa sangka, Saka yang kini jago meracik kopi dahulunya merupakan Awak Kapal Perikanan (AKP) migran atau buruh kapal berbendera China dan Korea Selatan.
Ia telah melalang buana ke berbagai samudera dan negara karena pekerjaannya tersebut.
Baca juga: Persibangga Purbalingga Juara Liga 4 Jawa Tengah 2025/2026
Baca juga: Tiga Kali Dievakuasi, Warga Dukuh Tugurejo Pekalongan Kembali Mengungsi Akibat Limpasan Sungai Pait
Namun, profesi Saka kini berlabuh di dunia kopi yang telah ditekuninya selama dua tahun terakhir.
"Iya, dulu saat jadi AKP Migran saya tarik-tarik tali tambang kapal, sekarang fokus goyang tangan melakukan pouring kopi," ungkapnya kepada Tribun, Senin (16/2/2026).
Saka menceritakan, awal mula menjadi AKP migran berbendera asing karena melihat banyak tetangganya sukses menjadi pekerja kapal perikanan.
Ia pun tertarik ikut bekerja di atas kapal meskipun nol pengalaman. Singkat cerita, ia berangkat kerja ke kapal berbendera Cina pada rentang waktu 2016-2018.
Sekembali dari Cina, ia membuka usaha warmindo di alun-alun Ambarawa tapi gagal total. Kegagalan itu memantik dirinya untuk kembali mengadu peruntungan ke laut.
Ia akhirnya bekerja ke kapal berbendera Korea Selatan. "Berangkat ke Korea lewat sistem skema G To G (Government to Government), saya berangkat 2022 pulang 2024," ungkapnya.
Berawal dari Pujian Mandor Korea
Selepas bekerja di kapal korea, jiwa wirausaha Saka masih terus bergejolak. Ia pun akhirnya memberanikan diri membuka usaha kopi.
Usaha ini sebenarnya telah lama dipikirkan terutama selama di Korea. Alasannya sederhana, selama bekerja di sana, mandornya di Korea selalu menyuruhnya membuat kopi.
Karena terbiasa mengekstraksi kopi dengan teknik pouring di Korea, ia merasa punya potensi skill untuk menjadi barista.
"Mandor selalu bilang, kopi bikinan saya enak, jadi merasa tertantang meningkatkan skill sebagai seorang barista," paparnya.
Saka sesudah pulang dari Korea lantas sekolah Barista dengan biaya yang disisipkan dari hasil bekerja di Korea.
Selepas itu, ia langsung membuka kedai kopi.
"Awalnya di ruko, karena kontrak habis lalu membuka di rumah," ujar warga Kupang Dukuh. Kelurahan Kupang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang itu.
Branding kopi yang sedang digarap oleh Saka adalah Majapahit. Merek kopi ini juga tidak bisa lepas dari Korea Selatan, tempat ia terinspirasi menjadi seorang barista.
"Maja itu bahasa korea artinya benar, pahit ya bahasa Indonesia, digabung jadi Majapahit, atau benar-benar pahit," katanya sembari merekahkan senyum.
Habis dari Laut, Susah Cari Kerja
Pergulatan Saka dengan dunia kopi juga menggambarkan kondisi dunia kerja saat ini. Bagi saka, membuka kedai adalah pilihan terakhir selepas mencari kerja di Indonesia sangat susah.
Terlebih harus terbatas usia. Belum lagi dirinya merupakan seorang mantan AKP, yang minim skill selepas pulang dari laut.
"Ya mau lamar kerja susah di usia saya sekarang, lagi-lagi kesempatan kerja di laut, padahal kerja di laut sangat berisiko, yakni kematian,"
Karena sadar risiko itu, Saka akhirnya kini memilih kerja di darat sebagai barista. Ia sadar selisih pendapatan bak bumi dan langit.
Namun, ia kini setidaknya lebih nyaman jauh dari ambang bayang-bayang kematian yang mengintai setiap saat.
"Ya meski kerja di darat penghasilan seadanya, setidaknya minim risiko. Saya lebih menikmati pekerjaan ini," ungkapnya.
Motivasi lainnya menekuni dunia perkopian, Saka ingin memperkenalkan lebih jauh terkait kopi khas robusta lokal dari Gunung Kelir dan Kopi Bandungan, Kabupaten Semarang.
"Saya juga ingin menyajikan kopi bir Majapahit yang merupakan campuran fermentasi nira dan kopi," ungkapnya.
Sebagai langkah memperkenalkan hal itu, Saka mengikuti berbagai event lokal dan luar kota untuk promosi kopi khas Semarang. Berbagai event telah diikuti seperti event musik, rock atau event dari kedinasan pemerintahan serta event soal awak kapal perikanan.
Namun, Saka mengakui, tantangan dunia kopi kini semakin menantang. Ia pun berharap, Kompetisi di dunia kopi lebih sehat dan berfokus pada kualitas, bukan harga. "Kami juga ingin ada pengembangan pelatihan manajemen dan ketrampilan karyawan agar produksi kopi lebih profesional," ucapnya.
Eks AKP Migran Kurang Perhatian Pemerintah
Saka sendiri dalam aktivitas wirausahanya terhubung dengan Jangkar Karat Indonesia, serikat pekerja eks kapal migran terutama mantan AKP migran berbendera Korea Selatan yang berbasis di Tegal.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Jangkar Karat Indonesia, Paryanto Ulsan mengatakan, perhatian pemerintah terhadap mantan AkP migran masih sangat minim. Mereka ketika masih bekerja di kapal menjadi pahlawan devisa, tetapi selepas mereka tidak bekerja di kapal kurang diperhatikan oleh pemerintah.
"Ya Jangkar Karat menjadi wadah bagi akp migran, tidak hanya dari Korea Selatan, bisa dari negara lainnya dengan harapan wadah ini agar mendapatkan perhatian dari pemerintah," terangnya. (Iwn)