TRIBUNTRENDS.COM - Kasus dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang menimpa 13 perempuan asal Jawa Barat di Nusa Tenggara Timur (NTT) perlahan terungkap ke publik. Peristiwa ini mencuat setelah seorang biarawati menerima pesan singkat berisi permohonan bantuan dari salah satu korban. Dari sinilah rangkaian penyelamatan dimulai, hingga akhirnya menarik perhatian Dedi Mulyadi yang turun langsung menangani para korban.
Kisah ini bermula pada 20 Januari 2026, ketika salah satu dari 13 perempuan tersebut menghubungi seorang biarawati bernama Suster Ika melalui pesan WhatsApp. Dalam pesannya, korban mengaku tertekan, tidak bebas keluar kamar, serta mengalami kondisi psikis yang menurun selama bekerja di sebuah tempat hiburan malam di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.
Suster Ika diketahui merupakan Ketua Tim Relawan untuk Kemanusiaan Flores (TRUK-F), sebuah lembaga advokasi Gereja Katolik yang fokus pada pendampingan korban kekerasan perempuan dan anak. Setelah menerima laporan tersebut, ia langsung berkoordinasi dengan Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Sikka. Keesokan harinya, proses pendampingan awal dilakukan dengan tetap mengedepankan pendekatan persuasif dan prosedural.
Baca juga: Natal Berubah Duka, Biarawati Gantung Diri di Ruang Makan, Warga Curiga Pintu Jendela Ditutup Rapat
Dalam proses penyelamatan, Suster Ika dan aparat kepolisian berbagi peran. Polisi berjaga di luar lokasi, sementara Suster Ika masuk untuk menemui korban yang pertama kali menghubunginya. Saat bertemu, korban terlihat ketakutan dan gemetar. Dari keterangan lanjutan, terungkap bahwa bukan hanya satu orang yang mengalami tekanan, melainkan belasan perempuan lain.
Beberapa korban kemudian mengirimkan foto luka lebam sebagai bukti kekerasan fisik yang dialami. Berbekal bukti tersebut, tim TRUK-F bersama PPA Polres Sikka akhirnya menjemput seluruh 13 korban pada 23 Januari 2026 dini hari. Kendala sempat muncul karena identitas para korban ditahan pihak tempat hiburan. Namun setelah diminta oleh aparat, KTP para korban akhirnya diserahkan. Para perempuan tersebut kemudian dibawa ke rumah aman untuk mendapatkan perlindungan, pendampingan psikologis, serta bantuan hukum.
Baca juga: Jerit Pilu Balita 4 Tahun di Surabaya Disekap hingga Dianiaya Paman dan Bibinya: Wajah Banyak Luka
Kasus ini kemudian sampai ke telinga Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, setelah mendapat penjelasan langsung dari Suster Ika. Dedi disebut langsung menjalin komunikasi dengan para korban untuk memberikan dukungan moral. Ia juga menyatakan komitmennya untuk memulangkan para korban ke daerah asal mereka di Jawa Barat, seperti Bandung, Cianjur, Karawang, dan Purwakarta.
Rencananya, Dedi Mulyadi akan terbang langsung ke Kabupaten Sikka untuk menjemput para korban. Langkah ini ditegaskan bukan untuk mencampuri proses hukum yang sedang berjalan di NTT, melainkan sebagai bentuk kepedulian agar para korban tidak mengalami trauma berlarut. Saat ini, para korban masih berada di rumah aman TRUK-F dan kondisi mereka dilaporkan mulai membaik sembari menunggu proses pemulangan dan kelanjutan hukum terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat.
Tribun Jatim | Ignatia | TribunTrends.com | Afif Muhammad