TRIBUNJATIM.COM - Kabupaten Blitar merupakan salah satu daerah di Provinsi Jawa Timur yang memiliki sejarah panjang sejak masa kerajaan Hindu–Buddha hingga perkembangan pemerintahan modern.
Wilayah ini dikenal sebagai kawasan strategis yang sejak dahulu menjadi pusat kehidupan masyarakat serta jalur penting pergerakan politik dan ekonomi di Jawa Timur.
Sejarah Blitar tidak dapat dilepaskan dari keberadaan berbagai prasasti, candi, serta catatan sejarah kerajaan besar di Nusantara.
Bukti-bukti tersebut menunjukkan bahwa wilayah Blitar telah menjadi bagian penting dari perkembangan peradaban sejak lebih dari sepuluh abad lalu.
Dalam perjalanan sejarahnya, Blitar mengalami perkembangan mulai dari masa kerajaan, kolonialisme, hingga terbentuknya pemerintahan daerah modern.
Asal Usul Kabupaten Blitar
Sejarah wilayah yang kini menjadi Kabupaten Blitar dapat ditelusuri sejak abad ke-10 melalui berbagai prasasti peninggalan kerajaan di Jawa.
Salah satu buktinya yaitu, terdapat prasasti yang terpahat di belakang arca Ganesha sekitar tahun 907 Masehi yang menyebut wilayah Blitar sebagai bagian dari kekuasaan Raja Balitung.
Sejumlah prasasti dari masa kerajaan Hindu–Buddha juga menyebut beberapa wilayah yang kini termasuk Kabupaten Blitar.
Hal ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut telah berkembang sebagai pusat kehidupan masyarakat sejak masa lampau.
Menurut catatan sejarah, wilayah Blitar sudah menjadi pusat kehidupan masyarakat sejak sepuluh abad yang lalu.
Perkembangan wilayah Blitar semakin terlihat pada masa Kerajaan Majapahit. Pada masa pemerintahan Raja Jayanegara, Blitar mendapat perhatian khusus dari kerajaan.
Hubungan istimewa antara kerajaan dan masyarakat setempat tercatat dalam prasasti yang memuat pemberian anugerah kepada penduduk karena kesetiaan mereka kepada raja.
Peristiwa penting dalam sejarah Blitar terjadi pada 5 Agustus 1324 Masehi.
Berdasarkan prasasti yang ditemukan di wilayah Blitar, tanggal tersebut menandai berdirinya Blitar sebagai daerah swatantra di bawah kekuasaan Majapahit.
Peristiwa tersebut menjadi penanda awal berdirinya wilayah Blitar sebagai bagian dari kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Sejak saat itu, Blitar berkembang dalam sistem pemerintahan dan tatanan kehidupan masyarakat yang berada di bawah pengaruh Majapahit.
Baca juga: Sejarah dan Asal-usul Kabupaten Nganjuk, Berawal dari Anjuk Ladang hingga Jadi Kota Angin
Letak Geografis dan Perkembangan Wilayah
Secara geografis, Kabupaten Blitar terletak di kawasan selatan Provinsi Jawa Timur dengan ibu kota di Kecamatan Kanigoro.
Wilayah ini berbatasan dengan Kabupaten Kediri dan Malang di utara, Kabupaten Malang di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Tulungagung di barat.
Kabupaten Blitar berada di kaki Gunung Kelud dan dilalui Sungai Brantas yang membagi wilayah menjadi bagian utara dan selatan.
Kondisi tanah vulkanik yang subur menjadikan daerah ini berkembang sebagai wilayah pertanian sejak masa lampau.
Keadaan alam tersebut juga berpengaruh terhadap perkembangan masyarakat.
Lapisan tanah vulkanik dari letusan Gunung Kelud menjadikan wilayah Blitar memiliki tingkat kesuburan tanah yang tinggi.
Kondisi tersebut kemudian mendorong berkembangnya kehidupan dan aktivitas masyarakat di wilayah Blitar.
Selain itu, letaknya yang strategis menjadikan Blitar sebagai jalur penghubung penting antara wilayah Kediri dan Malang sejak masa kerajaan.
Posisi tersebut membuat Blitar memiliki peran penting dalam aktivitas ekonomi, politik, dan pertahanan wilayah.
Baca juga: Sejarah dan Asal-usul Kota Blitar, dari Legenda Majapahit hingga Kota Proklamator
Peran Blitar pada Masa Kerajaan
Pada masa kerajaan Hindu–Buddha, Blitar memiliki posisi penting sebagai pusat kegiatan keagamaan dan kebudayaan.
Banyak peninggalan sejarah berupa candi ditemukan di wilayah ini, salah satunya adalah Candi Penataran yang dikenal sebagai candi negara pada masa kerajaan.
Pembangunan Candi Penataran dimulai sekitar tahun 1197 Masehi pada masa pemerintahan Raja Kertajaya.
Candi ini berfungsi sebagai pusat pemujaan dan memiliki peran penting dalam kehidupan spiritual masyarakat pada masa itu.
Blitar juga disebut dalam berbagai naskah sejarah seperti Negarakertagama karya Mpu Prapanca dan Pararaton.
Dalam naskah tersebut, Blitar digambarkan sebagai wilayah penting yang menjadi jalur strategis antara pusat kerajaan di Jawa Timur.
Selain itu, wilayah Blitar disebut menjadi jalur lintasam utama yag menghubungkan Kediri dan Tumapel sehingga memiliki nilai geopolitik yang tinggi.
Banyaknya prasasti dan peninggalan sejarah di wilayah tersebut menunjukkan peran penting Blitar dalam perjalanan kerajaan-kerajaan di Jawa.
Hal ini menegaskan posisi strategis Blitar dalam dinamika poitik dan sejarah pada masa lalu.
Baca juga: Asal-usul Pasuruan, dari Tanah Sima hingga Kota Strategis di Jawa Timur
Hari Jadi Kabupaten Blitar
Hari jadi Kabupaten Blitar ditetapkan berdasarkan peristiwa pemberian prasasti oleh Raja Jayanegara kepada masyarakat Blitar pada 5 Agustus 1324 Masehi.
Peristiwa tersebut dianggap sebagai awal berdirinya Blitar sebagai daerah swatantra.
Penetapan hari jadi ini berkaitan dengan jasa masyarakat Blitar yang memberikan perlindungan kepada raja saat terjadi pemberontakan pada masa pemerintahan Majapahit.
Sebagai bentuk penghargaan, raja memberikan anugerah berupa prasasti kepada penduduk setempat.
Pemberian prasasti tersebut dijelaskan sebagai peristiwa penting yang menandai berdirinya wilyah Blitar sebagai daerah swatantra.
Peristiwa itu menunjukkan bahwa Blitarberada di bawah naungan kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Hal tersebut sekaligus menandai awal terbentuknya pemerintahan dan kedudukan resmi Blitar dalam struktur kekuasaan Majapahit.
Oleh karena itu, 5 Agustus diperingati setiap tahun sebagai Hari Jadi Kabupaten Blitar, sekaligus menjadi simbol perjalanan panjang sejarah daerah tersebut.