Makan Rebusan-Kukusan Saat Sahur Memang Lebih Sehat, Tapi Catat Pesan Dokter
GH News February 21, 2026 05:09 AM
Jakarta -

Pemilihan menu sahur sangat menentukan kebugaran tubuh selama menjalankan ibadah puasa belasan jam. Pakar penyakit dalam dari FKUI, Prof Ari Fahrial Syam, menyarankan masyarakat untuk mengutamakan konsumsi makanan yang diproses dengan cara direbus atau dikukus.

Menurut Prof Ari Fahrial Syam, menu rebusan memiliki keunggulan tersendiri bagi sistem pencernaan, terutama saat tubuh harus bekerja ekstra selama bulan Ramadan.

"Ya tentu akan lebih baik memang mengonsumsi rebusan saat sahur karena baiknya makan yang lebih mudah dicerna," ujar Prof Ari kepada detikcom, Kamis (19/2/2026).

Makanan yang direbus cenderung lebih ramah bagi lambung karena minim kandungan minyak trans yang sulit diurai oleh tubuh. Hal ini membantu mencegah rasa begah atau tidak nyaman di perut setelah sahur.

Jangan Hanya Karbohidrat

Meskipun rebusan sangat disarankan, dokter spesialis gizi klinik dr Nathania Sutisna SpGK memberikan catatan penting mengenai komposisi nutrisinya. Ia mengingatkan agar menu sahur tidak hanya mengandalkan satu jenis nutrisi saja, seperti hanya mengonsumsi karbohidrat.

"Jangan juga kita cuma makan ubi kukus, singkong rebus, itu kurang. Karena dia cuma karbohidrat. Jadi misalnya kalau makan ubi ya harus ada telurnya. Telurnya yang direbus, nah itu jauh lebih bagus," jelas dr Nathania Sutisna saat diwawancarai detikcom mengenai tren makan rebusan-kukusan beberapa waktu lalu.

dr Nathania menekankan pentingnya prinsip gizi seimbang dalam satu piring sahur meskipun semuanya disajikan dalam bentuk rebusan atau kukusan. Protein sangat penting dikonsumsi saat sahur agar tubuh bisa merasa kenyang lebih lama.

"Untuk rebusan biasanya karbohidrat kaya ubi, singkong, jadi itu pengganti nasi. Kemudian sepertiga piring lain adalah sayur, lalu sepertiga lain adalah lauk pauk biasanya hewani dan nabati, tempe, tahu atau ikan, ayam misalnya," tambahnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.