SERAMBINEWS.COM – Mengajarkan anak berpuasa di bulan Ramadan bukan perkara mudah.
Di satu sisi, orang tua ingin si kecil mulai belajar menjalankan ibadah sejak dini.
Di sisi lain, kondisi fisik anak jelas berbeda dengan orang dewasa. Mereka masih tumbuh, masih aktif, dan kebutuhan gizinya pun lebih besar.
Karena itu, proses belajar puasa pada anak sebaiknya dilakukan dengan pendampingan.
Bukan sekadar menyuruh menahan lapar dan haus, tapi memastikan tubuhnya tetap kuat dan nyaman sampai waktu berbuka.
Agar anak tidak mudah lemas atau rewel di siang hari, ada beberapa hal yang bisa diperhatikan orang tua.
1. Pastikan Kebutuhan Cairan Benar-Benar Terpenuhi
Selama puasa, anak tidak minum dalam waktu yang cukup lama. Jika asupan cairan kurang saat sahur dan berbuka, risiko dehidrasi bisa meningkat.
Tanda-tandanya biasanya terlihat dari tubuh yang lemas, bibir kering, hingga sakit kepala ringan.
Orang tua bisa menerapkan pola minum 2-4-2. Dua gelas air putih saat berbuka, empat gelas secara bertahap setelah makan malam hingga sebelum tidur, lalu dua gelas lagi saat sahur. Pola ini membantu mencukupi kebutuhan cairan tanpa membuat anak merasa kekenyangan sekaligus.
Selain air putih, tambahkan makanan berkuah seperti sup, atau buah yang tinggi kandungan air seperti semangka dan jeruk.
Kombinasi ini membantu menjaga tubuh tetap terhidrasi lebih lama.
Baca juga: Kemenag Tegaskan Zakat Tidak untuk Program MBG, Disalurkan Sesuai Syariat untuk Delapan Ashnaf
2. Perhatikan Komposisi Gizi Saat Sahur dan Berbuka
Anak-anak lebih cepat kehilangan energi dibanding orang dewasa. Itulah sebabnya menu sahur dan berbuka harus benar-benar diperhatikan, bukan sekadar kenyang.
Saat sahur, pilih karbohidrat kompleks seperti nasi, roti gandum, atau kentang agar energi dilepaskan secara perlahan.
Tambahkan protein dari telur, ayam, tahu, atau tempe untuk membantu menjaga rasa kenyang lebih lama.
Jangan lupa sayur dan buah sebagai sumber serat, vitamin, dan mineral. Susu juga bisa menjadi tambahan untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian.
Dengan asupan yang seimbang, stamina anak cenderung lebih stabil dan tidak mudah drop di siang hari.
3. Atur Pola Tidur Agar Tidak Kekurangan Istirahat
Ramadan mengubah jadwal harian anak. Mereka harus bangun lebih awal untuk sahur, sementara aktivitas sekolah tetap berjalan seperti biasa.
Agar tidak terlalu mengantuk dan mudah lelah, biasakan anak tidur lebih cepat di malam hari. Hindari terlalu lama bermain gadget atau menonton televisi menjelang tidur.
Jika memungkinkan, beri kesempatan untuk tidur siang sepulang sekolah. Anak-anak dianjurkan mendapatkan waktu tidur sekitar delapan jam per hari agar kondisi tubuh tetap prima.
Kurang tidur sering kali membuat anak lebih rewel dan sulit berkonsentrasi, yang akhirnya berdampak pada semangat puasanya.
4. Kurangi Aktivitas Fisik yang Terlalu Berat
Anak tetap boleh bermain dan beraktivitas seperti biasa. Namun, sebaiknya orang tua mengarahkan mereka untuk mengurangi aktivitas fisik berat, terutama di siang hari saat cuaca panas.
Alihkan ke kegiatan yang lebih santai seperti membaca buku cerita, menggambar, menyusun puzzle, atau bermain permainan ringan di dalam rumah.
Energi yang lebih terjaga akan membantu anak bertahan sampai Magrib tanpa merasa terlalu kelelahan.
Jika anak ingin bermain di luar, pilih waktu menjelang sore ketika cuaca tidak terlalu terik.
5. Selektif Memilih Makanan Saat Berbuka
Ramadan identik dengan aneka makanan yang menggugah selera. Namun, bukan berarti semua jenis makanan cocok untuk anak.
Hindari makanan terlalu pedas, terlalu asin, atau tinggi lemak karena bisa mengganggu pencernaan dan membuat anak cepat haus keesokan harinya. Makanan manis juga sebaiknya tidak berlebihan, cukup secukupnya untuk mengembalikan energi.
Sebagai gantinya, pilih camilan sehat seperti buah segar, kurma dalam jumlah wajar, atau makanan rumahan yang lebih terkontrol kebersihan dan gizinya.
Yang tak kalah penting, orang tua perlu bersikap fleksibel. Jika anak belum kuat berpuasa penuh, jangan dipaksa. Mereka bisa memulai dengan setengah hari terlebih dahulu, lalu perlahan-lahan ditingkatkan.
Tujuan utama mengajarkan puasa pada anak adalah membiasakan dan mengenalkan nilai ibadah, bukan memaksakan ketahanan fisik. Dengan pendampingan yang tepat, anak bukan hanya kuat menjalani puasa, tetapi juga belajar menikmatinya sebagai bagian dari proses tumbuh kembangnya.