Oleh: Prof Dr Abdul Rauf M Amin MA
Guru Besar UIN Alauddin
TRIBUN-TIMUR.COM - Ramadan selalu hadir sebagai bulan ibadah. Namun, ibadah dalam Islam sejatinya tidak berhenti pada hubungan vertikal antara hamba dan Tuhannya.
Di balik setiap ritual, Islam menanamkan yang lebih dalam: membangun manusia yang lebih peduli, lebih adil, dan lebih beradab dalam relasi sosial.
Inilah esensi dari beragama secara maqasid based—memahami ibadah bukan sekadar dari bentuknya, tetapi dari tujuan dan dampaknya.
Puasa misalnya, bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga. Ia mendidik empati.
Orang yang berpuasa seharusnya lebih peka terhadap mereka yang hidup dalam kekurangan, lebih lembut dalam bertutur, dan lebih terkendali dalam bersikap.
Jika seseorang rajin berpuasa tetapi masih mudah memaki, merendahkan orang lain, atau menyebar kebencian di media sosial, maka ada tujuan puasa yang belum tercapai.
Ibadah semestinya melahirkan kehalusan budi, bukan sekadar rasa lapar.
Begitu pula dengan salat. Salat yang benar mestinya mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.
Artinya, semakin rajin seseorang salat, semakin kuat pula komitmennya pada kejujuran, amanah, dan keadilan.
Tidak selaras jika seseorang tekun beribadah, tetapi dalam praktik sosial justru gemar menipu, melanggar hak orang lain, atau menyakiti sesama.
Prinsip penting dalam ibadah berbasis maqasid adalah memastikan bahwa ibadah tidak merusak relasi sosial.
Ramadan bukan alasan untuk menjadi pemarah, sensitif berlebihan, atau menjadikan lapar sebagai pembenaran untuk bersikap kasar.
Kita sering menjumpai orang yang mudah marah dengan dalih “sedang puasa”. Padahal, justru puasa hadir untuk melatih kesabaran, bukan memperbesar emosi.
Selain itu, ibadah juga tidak boleh dilakukan secara berlebihan hingga merusak diri.
Begadang setiap malam tanpa memperhatikan kesehatan, memaksakan ibadah sunnah hingga jatuh sakit, atau mengabaikan kebutuhan istirahat, bukanlah gambaran ideal dari ibadah yang dikehendaki Islam.
Tubuh adalah amanah. Menjaganya juga bagian dari ibadah.
Lebih jauh, ibadah tidak boleh berdampak negatif kepada keluarga. Seorang ayah yang sibuk dengan berbagai aktivitas ibadah di masjid, tetapi abai terhadap nafkah, pendidikan anak, dan komunikasi dengan pasangan, perlu melakukan refleksi.
Demikian pula seorang ibu yang larut dalam ritual pribadi, tetapi mengabaikan kebutuhan dasar keluarganya. Ibadah yang baik justru memperkuat keharmonisan rumah tangga, bukan menjauhkannya.
Contoh empiris yang sederhana dapat kita lihat dalam budaya berbagi di bulan Ramadan.
Memberi makan orang berpuasa, membantu tetangga yang kesulitan, atau menyisihkan rezeki untuk fakir miskin adalah bentuk nyata ibadah yang berdimensi sosial.
Begitu pula menjaga lisan dari gosip, menahan diri dari konflik, dan memperbanyak sikap memaafkan. Semua itu adalah wajah lain dari ibadah Ramadan.
Dengan perspektif maqasid, Ramadan tidak hanya menjadi bulan ritual, tetapi bulan transformasi.
Transformasi dari pribadi yang egois menjadi peduli, dari yang mudah marah menjadi penyabar, dari yang acuh menjadi penuh empati.
Inilah tujuan besar ibadah: menghadirkan kemaslahatan, baik bagi diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat luas. Ramadan pun akhirnya tidak sekadar kita jalani, tetapi benar-benar kita hayati.
Sebagai penutup, penting diingat bahwa sejak masa Nabi, sikap berlebihan dalam ibadah sudah pernah muncul dan justru dikoreksi.
Dikisahkan ada sekelompok sahabat yang berniat meningkatkan ibadah secara ekstrem: ada yang ingin berpuasa setiap hari tanpa henti, ada yang ingin salat sepanjang malam tanpa tidur, dan ada pula yang berniat tidak menikah agar fokus beribadah.
Ketika hal itu disampaikan, Nabi menegaskan bahwa beliau berpuasa dan berbuka, salat malam dan juga tidur, serta menikah.
Lalu beliau menyatakan bahwa siapa yang berpaling dari jalan moderatnya, maka ia bukan bagian dari ajarannya.
Pesan ini sangat jelas: ibadah terbaik bukan yang paling berat, tetapi yang paling seimbang dan menghadirkan kebaikan.
Inilah ruh ibadah Ramadan maqasid based—ibadah yang menumbuhkan maslahat, bukan mudarat, serta melahirkan kebaikan bagi diri, keluarga, dan masyarakat.
Berangkat dari seluruh spirit tersebut, Ramadan semestinya kita tempatkan sebagai momentum perubahan diri dan kenaikan kelas spiritual, moral, dan sosial.
Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi titik tolak untuk menjadi pribadi yang lebih matang, lebih sabar, lebih jujur, dan lebih peduli. Jika sebelum Ramadan kita mudah marah, maka setelahnya kita belajar menahan emosi.
Jika sebelumnya kita acuh terhadap penderitaan sekitar, maka selepas Ramadan kita semakin peka dan terlibat. Inilah makna naik kelas: bukan hanya bertambahnya jumlah ibadah, tetapi meningkatnya kualitas kepribadian.
Ramadan yang maqasid based adalah Ramadan yang meninggalkan jejak perubahan nyata—pada cara berpikir, bersikap, dan berinteraksi—sehingga kita keluar dari bulan suci sebagai manusia yang lebih utuh dan lebih bermanfaat.