TRIBUNTRENDS.COM - Duka mendalam tak mampu disembunyikan Anwar Satibi (38) saat mengenang putra sulungnya, NS (12). Bocah asal Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi itu ditemukan meninggal dunia dengan sejumlah luka bakar misterius di beberapa bagian tubuhnya.
Kepergiannya yang mendadak menyisakan luka yang tak hanya terlihat secara fisik, tetapi juga menghunjam batin keluarga.
Di balik tragedi itu, tersimpan sebuah cita-cita sederhana namun mulia yang kini tak lagi bisa diraih.
Baca juga: Aniaya Anak Sambung hingga Tewas, Ibu Tiri di Sukabumi Ternyata Pernah KDRT, Dulu Janji Mau Taubat
Anwar mengungkapkan bahwa sejak kecil, NS memiliki keinginan berbeda dari anak seusianya. Ia tidak bercita-cita menjadi figur populer atau profesi bergengsi lainnya.
Bocah yang kini duduk di kelas 1 SMP itu justru ingin menjadi seorang kiai membaktikan hidupnya untuk berdakwah dan mengajak orang pada kebaikan.
Demi mewujudkan impian tersebut, selama setahun terakhir NS menempuh pendidikan di pesantren sambil tetap menjalani sekolah formal.
“(Almarhum memiliki cita-cita) beda dengan orang lain, dia ingin jadi kiyai,” kata Anwar saat ditemui awak media di RS Bhayangkara TK II Setukpa Polri Kota Sukabumi, Jumat (20/2/2026) siang.
Bagi Anwar, keinginan itu bukan sekadar ucapan. Ia melihat kesungguhan dalam diri anaknya—kesungguhan yang kini hanya tinggal kenangan.
Kenangan terakhir bersama sang anak masih membekas jelas di ingatan Anwar. Lima hari sebelum NS mengembuskan napas terakhir, ia masih terlihat ceria. Bahkan, Anwar sempat mengajaknya berjalan-jalan untuk menghabiskan waktu bersama.
Dalam keseharian, NS dikenal sebagai anak yang rajin dan sangat berbakti. Ia kerap menunjukkan rasa syukur atas hal-hal kecil yang diterimanya dari sang ayah.
“Sampai kemarin saya pulang terus saya kasih uang Rp 50.000 rupiah, alhamdulillah terus sama dia (Ns) di kesiniin (jidat) alhamdulillah katanya buat nanti bekal di pesantren,” tutur Anwar.
Uang lima puluh ribu rupiah itu bukan sekadar pemberian. Bagi NS, itu adalah bekal perjuangan menuju cita-citanya. Kini, momen sederhana tersebut menjadi kenangan terakhir yang terpatri dalam hati seorang ayah.
Keceriaan yang dulu menghiasi hari-hari keluarga kini sirna. Tubuh kecil NS ditemukan dengan luka bakar di sejumlah bagian. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar tentang apa yang sebenarnya terjadi sebelum ia meninggal dunia.
Pihak keluarga memilih memberikan izin kepada kepolisian untuk melakukan autopsi, demi memastikan penyebab pasti kematian.
Baca juga: Hasil Autopsi Bocah Sukabumi yang Dianiaya Ibu Tiri, Organ Dalam Dibawa ke Jakarta, Jantung Bengkak
Anwar menegaskan bahwa ia ingin kebenaran terungkap secara terang. Baginya, jika memang ada unsur tindak pidana dalam kematian putranya, maka hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu.
“Harapan saya kalau memang ini terbukti biar jadi efek jera, kita harus ingat negara kita ini negara hukum, apa pun perlakuan manusia di muka bumi ini tentunya itu harus bisa dipertanggungjawabkan,” ujar Anwar.
Ia berharap keadilan ditegakkan bukan hanya demi keluarganya, tetapi juga agar kejadian serupa tidak terulang pada anak lain.
Hingga kini, keluarga masih menunggu hasil laboratorium forensik. Pemeriksaan tersebut akan menentukan apakah luka bakar yang ditemukan di tubuh NS berkaitan langsung dengan penyebab kematian atau ada faktor lain yang turut berperan.
Di tengah penantian itu, satu hal yang pasti: cita-cita seorang anak untuk menjadi kiai dan menyebarkan kebaikan kini terhenti.
Yang tersisa hanyalah doa, harapan akan keadilan, dan kerinduan seorang ayah kepada putra sulungnya yang telah pergi untuk selamanya.
***
(TribunTrends/Kompas)