Renungan Harian Keluarga Kristen Efesus 5:22-33, Suami Hormatilah Istrimu
Alpen Martinus February 21, 2026 10:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Banyak pelajaran yang kita bisa dapatkan dari membaca dan merenungkan Firman Tuhan.

Firman Tuhan tercatat utuh dalam Alkitab.

Berikut rekomendasi renungan harian Kristen berjudul Suami, Hormatilah Istrimu

Baca juga: Renungan Harian Kristen Kisah Para Rasul 2:46, Sehati Bersekutu dan Tekun Beribadah

Ditulis oleh Yunus Siang dalam buku moment of inspiration LPMI.

Firman Tuhan dalam Kitab Efesus 5:22-33.

“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” Efesus 5:25

Dalam sebuah pelayanan ke daerah, saya bertemu dengan seorang ibu muda juga seorang hamba Tuhan.

Di balik senyum dan keramahannya, tersimpan pergumulan yang berat.

Ia merasa tidak layak berdiri di mimbar, bahkan berniat mengundurkan diri dari pelayanan.

Alasannya sederhana tapi menusuk hati: “Apa yang harus saya katakan dari mimbar, sementara suami saya sendiri tidak mendukung dan masih berjudi?”

Suaminya berdalih, “Saya hanya judi sekali-kali, tidak seperti orang lain yang memang hidupnya berjudi.”

Kalimat ini terdengar ringan, tetapi dampaknya berat.

Judi yang dianggap “sekali-kali” itu telah melukai kesaksian, meretakkan dukungan dalam rumah tangga, dan memadamkan api pelayanan.

Beberapa majelis gereja pun merasa jengkel dan keberatan.

Bukan karena kebencian, tetapi karena luka yang berulang kesaksian yang tersandung di depan jemaat.

Beberapa hari kemudian saya bertemu dengan sang suami.

Dengan tegas, namun dalam kasih, saya katakan: “Kamu harus menolong istrimu dengan berhenti berjudi.”

Bukan sekadar berhenti demi citra, tetapi bertobat demi kehidupan.

Sebab khotbah yang paling hidup bukan hanya kata-kata indah dari mimbar, melainkan perubahan nyata di rumah.

Ketika seorang suami meninggalkan kebiasaan buruk dan memilih terlibat dalam pelayanan, ia sedang berkhotbah tanpa suara namun menggema kuat.

Rasul Paulus menulis Efesus 5:22–33 sekitar tahun 60–62 M saat ia dipenjarakan di Roma.

Dalam suasana penderitaan namun penuh pengharapan, Paulus menegaskan bahwa relasi suami-istri mencerminkan hubungan Kristus dengan jemaat.

Istri dipanggil untuk menghormati dan tunduk dalam Tuhan, sementara suami dipanggil mengasihi dengan kasih yang berkorban, memimpin bukan dengan kuasa, melainkan dengan pengorbanan dan kekudusan.

Firman Tuhan mengingatkan, “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” (Efesus 5:25).

Mengasihi bukan hanya memberi nafkah, tetapi melindungi panggilan, menjaga kesaksian, dan menolong pasangan bertumbuh di dalam Tuhan.

Judi sekecil apa pun dalihnya menggerogoti kasih, merusak kepercayaan, dan menumpulkan kepekaan rohani.

Di sisi lain, Tuhan juga meneguhkan hati para istri yang terluka.

“Sebab Allah tidak memanggil kita untuk melakukan apa yang kita sangka layak, tetapi Ia memampukan yang Ia panggil” (bdk. 1 Korintus 1:27–29).

Kelayakan hamba Tuhan bukan ditentukan oleh kesempurnaan keluarganya, melainkan oleh kasih karunia Allah yang bekerja di tengah keterbatasan.

Namun kasih karunia tidak pernah membiarkan dosa nyaman tinggal kasih karunia memanggil pada pertobatan.

Inspirasi: Meninggalkan kebiasaan buruk adalah berkhotbah tanpa suara namun menggema sangat kuat.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.