Musbahar Tewas Halau Gajah Sendirian, FJL: Konservasi di Aceh Hanya Narasi Kosong
Mawaddatul Husna February 22, 2026 12:54 PM

Laporan Wartawan Tribun Gayo Bustami | Bener Meriah

TribunGayo.com, REDELONG - Kematian tragis Musbahar (53), petani asal Kampung Pantanlah, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Bener Meriah, pada Sabtu (21/2/2026), kembali menyulut kritik pedas terhadap kinerja Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh. 

Korban Musbahar meninggal dunia setelah diinjak kawanan gajah saat berada di kebunnya, ia mengalami luka serius dibagian kepala dan dada.

Insiden ini dinilai publik bukan sekadar kecelakaan alam, melainkan dampak nyata dari lemahnya kehadiran BKSDA di garda terdepan konflik satwa di wilayah Bener Meriah.

Meski wilayah tersebut telah lama ditetapkan secara nasional sebagai habitat penting gajah sumatera.

Namun kenyataan di lapangan menunjukkan adanya jurang pemisah yang lebar antara status konservasi dan jaminan keselamatan bagi warga yang hidup berdampingan dengan satwa dilindungi tersebut.

​Kritik keras datang dari Forum Jurnalis Lingkungan (FJL) Aceh yang memandang BKSDA dan pemerintah hanya bersikap reaktif.

Mereka hadir saat nyawa sudah melayang namun minim dalam upaya pencegahan yang konkret. 

Koordinator Wilayah Tengah FJL Aceh, Yusradi, Minggu (22/2/2026) menegaskan bahwa kebijakan konservasi yang selama ini digembar-gemborkan BKSDA hanya berakhir di atas meja dokumen. 

Menurutnya, pembiaran terhadap rusaknya koridor gajah dan menyempitnya ruang hidup satwa akibat alih fungsi lahan menjadi bom waktu yang sengaja dibiarkan meledak di tangan rakyat kecil.

Warga seperti Musbahar terpaksa mengambil risiko menghalau gajah seorang diri.

Hal ini karena tidak adanya mekanisme mitigasi konflik yang cepat dan terintegrasi dari pihak otoritas terkait.

"Ini bukan kecelakaan alam. Ini akibat pembiaran. Negara gagal melindungi warga yang hidup di wilayah konflik satwa.

Kebijakan konservasi hanya berhenti di dokumen, tidak pernah benar-benar bekerja di lapangan,” tegas Yusradi.

BKSDA Dinilai Tak Mampu Kendalikan Tata Kelola Koridor Satwa

Kemudian Senada dengan hal tersebut, Jaringan Gajah Nusantara (JGN) melalui Sekretarisnya, Muhammad Fadli, menyoroti ketidakmampuan BKSDA dalam mengendalikan tata kelola koridor satwa.

Ia menilai BKSDA gagal menjaga integritas habitat gajah sehingga satwa liar terdorong masuk ke pemukiman dan perkebunan warga. 

Ironisnya, saat konflik terjadi, beban risiko sepenuhnya dilemparkan kepada petani tanpa adanya kompensasi kerugian atau sistem proteksi yang memadai. 

Kondisi ini diperparah dengan temuan kematian seekor gajah di Aceh Tengah yang diduga akibat tersengat kawat listrik.

Sebuah tindakan nekat warga yang dipandang sebagai konsekuensi logis dari absennya perlindungan negara di wilayah-wilayah rawan konflik.

‎"Konflik ini bukan soal gajah masuk kebun, tapi soal kebun dan permukiman yang dibiarkan masuk ke jalur gajah tanpa tata kelola.

Negara gagal mengendalikan kerusakan habitat, lalu menyerahkan risikonya kepada rakyat kecil," demikian pungkasnya. (*)

Baca juga: Petani Meninggal Usai Diinjak Gajah, BKSDA Sampaikan Belasungkawa dan Imbau Warga Jauhi Lokasi

Baca juga: Petani Bener Meriah Tewas Diinjak Gajah, FJL Aceh: Potret Negara Gagal Mengelola Habitat dan Nyawa

Baca juga: Sosok Musbahar, Petani yang Kehilangan Nyawa Usai Diinjak Gajah Liar di Bener Meriah

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.