Heboh di media sosial seorang anak laki-laki berinsial NS (12) di Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi meninggal dunia diduga dianiaya oleh ibu tiri. Hasil autopsi yang dilakukan pihak berwajib menemukan adanya luka bakar hampir di sekujur tubuh korban.
Pihak kepolisian Sukabumi menemukan luka itu termasuk berada di lengan, kaki, paha, tangan, hingga area bibir. Pihaknya masih terus melakukan pemeriksaan untuk memastikan apakah itu akibat tindak penganiayaan atau bukan.
Ayah NS, Anwar Satibi (38) menceritakan saat itu dirinya sedang bekerja di Kota Sukabumi dan tiba-tiba dihubungi istri, menyebut NS sedang sakit. Awalnya Anwar mengira luka tersebut akibat demam biasa dan ia sempat berniat memberi salep.
Ketika dibawa ke rumah sakit, NS mengaku dikasih minum air panas oleh ibu tirinya.
"Ditanyalah, ngaku dikasih air panas. Makanya itu ada di dalam video saya sempat brutal," cerita Anwar, dikutip dari detikJabar.
Terlepas dari dugaan penganiayaan yang terjadi, spesialis kedokteran jiwa dr Lahargo Kembaren, SpKJ menyoroti faktor-faktor kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang melibatkan orang tua tiri. Ia menjelaskan, secara umum kekerasan dalam rumah tangga tidak dapat disebabkan oleh faktor tunggal.
Situasi yang rumit bisa disebabkan oleh kombinasi faktor individu, relasi, dan hubungan.
Misalnya pada faktor individu ada faktor regulasi emosi yang mungkin masih buruk dan impulsif. Pada kondisi ini, individu kesulitan mengelola amarah atau stres, yang akhirnya mengarah pada tindakan agresif.
Kemudian, kekerasan juga sering terjadi saat tekanan psikologis sangat tinggi. Ini bisa berbahaya bagi seseorang yang tidak memiliki startegi coping (mengatasi kondisi) yang sehat.
"Dalam relasi orang tua tiri dan anak, attachment belum terbentuk stabil juga bisa menjadi faktor. Konflik relasi dan ikatan emosional yang belum terbentuk menjadi faktor risiko perilaku kekerasan pada anak," jelas dr Lahargo pada detikcom, Minggu (22/2/2026).
Faktor lain yang memengaruhi adalah persepsi peran yang tidak jelas sejak awal pernikahan. Dalam beberapa kasus, mungkin ada orang tua yang melihat anak tiri sebagai 'beban' dan merasa tidak memiliki tanggung jawab emosional penuh.
Situasi tersebut dapat menurunkan empati dan meningkatkan risiko pada pola asuh dengan kekerasan.
Faktor risiko lain yang dapat muncul adalah riwayat trauma kekerasan sebelumnya atau adanya stres keluarga kronis. Beban dan tekanan ekonomi, konflik pasangan, kelelahan, burn out, hingga isolasi sosial sering menjadi pemicu eskalasi konflik dalam rumah tangga sehingga berujung pada kekerasan.
"Penting ditegaskan, faktor risiko bukan berarti pembenaran perilaku kekerasan," tandas dr Lahargo.







