Naskah Ceramah Tarawih 6 Ramadan 1447 H/ 2026: Ikhtiar dengan Berpuasa Mulut selama Ramadan
ferri amiril February 22, 2026 04:03 PM

TRIBUNPRIANGAN.COM - Seluruh amal sekecil apapun di bulan pengampunan Ramadan, tentu akan diterima bahkan dilipatgandakan pahalanya hingga beratus-ratus kali lipat, jika dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.

Sebab Puasa sendiri menjadi ibadah yang tak bisa tertandingi dengan pahala ibadah lain.

Dimana dalam sebuah hadist yang diriwayatkan RasuluLlah, dalam hadist yang shahih diriwayatkan oleh Bukhari Muslim:

"Seluruh amal ibadah bani Adam adalah miliknya, dan setiap kebaikan akan dibalas 10x lipat hingga 700x lipat. kecuali ibadah puasa, ia adalah milik Allah dan akan langsung dibalas. Sebabnya pahala yang banyak dari seseorang yang telah menahan diri dari syahwat makanan dan minuman karena Allah semata. ada 2 kegembiraan saat seseorang yang berpuasa, kegembiraan saat berbuka, saat bertemu dengan Allah". 

Adapun, banyak amalan atau ibadah yang bisa dikerjakan dibulan baik ini, salah satunya adalah dengan mendengarkan kultum atau ceramah.

Untuk mempermudah, berikut ini terdapat satu topik yang telah dirangkum sesuai dengan tema di bulan Ramadan 2026 ini, yakni dengan judul "Ikhtiar dengan Berpuasa Mulut selama Ramadan".

Baca juga: Naskah Kultum Singkat 3 Ramadan 1447/2026: Menggapai Derajat Takwa dari Ibadah Puasa

"Ikhtiar dengan Berpuasa Mulut selama Ramadan"

Jamaah yang dimuliakan Allah

Orang yang berpuasa tidak hanya sekedar menahan dirinya dari lapar dan dahaga, namun ia juga harus menjaga seluruh tubuhnya dari perbuatan dosa. Di antara anggota tubuh yang harus dijaga dan diajak berpuasa adalah lisan dan mulut kita.

Mulut sendiri adalah jalan kebaikan dan juga jalan keburukan. Apabila orang mampu menjaga mulutnya dari menyakiti orang lain dan digunakan untuk kebaikan, maka mulut akan mengantarkan kepada keselamatan di dunia maupun di akhirat. 

Namun sebaliknya, apabila mulut diumbar untuk menyakiti orang dan berbuat berbagai kemungkaran, maka mulut akan menjerumuskan kepada kehancuran serta kehinaan dunia dan akhirat. 

Suatu ketika, Rasulullah memberikan wasiat kepada Mu'adz untuk menjaga mulutnya. Mu'adz kemudian bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah kami akan disiksa karena ucapan kami?" Rasulullah menjawab, "Celaka ibumu, hai Mu'adz, manusia tidaklah ditelungkupkan di atas wajah mereka ke dalam api neraka kecuali karena hasil panenan lidah mereka." (HR. Ahmad).

Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda, "Barang siapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) apa yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, maka kuberikan kepadanya jaminan masuk surga." (HR. al-Bukhari). 

Baca juga: Naskah Singkat Kultum Tarawih Ke-3 Ramadan 1447 H/ 2026: Mencapai Tingkat Ketakwaan di Bulan Ramadan

Yang dimaksud dengan apa yang ada di antara dua janggutnya adalah mulut, sedangkan apa yang ada di antara kedua kakinya adalah kemaluan.

Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia,

Kemampuan seseorang dalam menjaga mulutnya menunjukkan ketinggian budi pekertinya. Diriwayatkan oleh Imam Muslim bahwa, ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah, "Siapakah orang muslim yang paling baik?" Beliau menjawab, "Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya." Oleh karena itu, kesadaran para salafus saleh tentang pentingnya puasa mulut ini, menjadikan mereka sangat hati-hati dalam berbicara.

Mereka tahu betul konsekuensi dari apa yang diucapkan. Mereka berpikir sebelum mengucapkan perkataan. Kalaupun harus berkata, maka secukupnya saja. Suatu ketika, Abu Bakar pernah memegang lidahnya sembari menangis dan berkata, "Ini yang telah mendatangkan banyak hal padaku." Ibnu Mas'ud berkata, "Demi Allah, tidak ada di dunia ini yang lebih berhak dijaga lebih lama daripada lidah."

Jamaah yang dimuliakan Allah Swt

Di bulan puasa ini, kita dididik untuk mampu menjaga lisan kita. Jangan sampai lisan kita mengucapkan sesuatu yang bertentangan dengan tujuan puasa. Orang yang berpuasa harus mampu menjaga lisan dari berdusta, menggunjing, mengadu domba, mengolok-olok, melaknat, mencela, bersaksi palsu, merendahkan orang lain, berkata mengada-ada, dan lain-lain. Karena semua itu bisa menyia-nyiakan ibadah puasa. Sebagaimana Rasulullah bersabda, "Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum." (HR. al-Bukhari).

Termasuk dalam menjaga mulut adalah meninggalkan segala perbuatan yang bisa keluar dari mulut. Misalnya cepat marah dan emosi hanya karena sebab sepele. Dalam kondisi semacam itu, seseorang harus segera sadar bahwa ia sedang puasa. Jika Anda diuji dengan seorang yang jahil atau pengumpat, jangan membalas dia dengan perbuatan serupa. Menasihati dan tolaklah ia dengan cara yang lebih baik.

Nabi bersabda, 

"Puasa adalah perisai. Bila suatu hari seseorang dari kalian berpuasa, hendaknya ia tidak berkata buruk dan berteriak-teriak. Bila seseorang menghina atau mencacinya, hendaknya ia berkata, 'Sesungguhnya aku sedang puasa." (HR. Muslim).

Imam Abu Hâtim Ibnu Hibbân al-Busti berkata, "Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada bicara. Karena betapa banyak orang yang menyesal lantaran bicara, dan sedikit yang menyesal karena diam. Orang yang paling celaka dan paling besar mendapat bagian musibah adalah orang yang lisannya senantiasa berbicara, sedangkan pikirannya tidak mau jalan."

Kalau dalam bahasa kita, sebagian orang mengistilahkan, "Mulutmu adalah harimaumu." Semoga kita semua mampu menahan mulut kita dari segala ucapan yang tidak diridhai Allah, baik selama bulan Ramadhan ataupun di luar Ramadhan. Amin. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.