TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Duka mendalam dirasakan Ajun Inspektur Dua (Aipda) Muhammad Jabir, personel Polres Pinrang, Sulawesi Selatan.
Ia harus menghadapi takdir memilukan dalam hidupnya.
Putra keduanya yang juga anggota Polri, bernama Bripda Dirja Pratama alias Bripda DP (19) pergi untuk selama-lamanya.
Sang anak merenggang nyawa diduga akibat mendapat tindakan kekerasan seniornya.
Dugaan kekerasan itu, terjadi di Asrama Direktorat Samapta Polda Sulsel.
Tempat Bripda DP ditempah dan tinggal sebagai Bintara Remaja Polri.
Asrama itu berada di dalam lingkungan Markas Kepolisian Daerah (Mapolda) Sulsel, Jl Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar.
Meski selalu berusaha tegar, beberapa kali emosi Aipda Muhammad Jabir sebagai seorang ayah, meluap.
Bahkan ia sempat berteriak keras di depan ruang Forensik Dokpol Biddokkes Polda Sulsel.
Tempat jenazah Bripda DP diautopsi.
"Kenapa begitu, saya sudah 20 tahun dinas disini kalau memang harus dipecat gara-gara ini," ucapnya dengan penuh emosi.
"Istighfar Ki nak, istighfar Ki," ucap seorang perempuan lansia menenangkan Muhammad Jabir.
Begitu juga sang istri, Sumarni, ibu dari Bripda DP. Ibu tiga anak ini tak henti-hentinya menangisi kepergian DP.
Sumarni tampak berulang kali menangis histeris menyaksikan nasib memilukan putra keduanya itu.
"i'ja (Dirja), Dirja, anakku puange," ucap Sumarni histeris.
"Hati nurani orangtua ini eh, ibu tahu," ucapnya lagi saat ditenangkan putra sulungnya, kakak Dirja.
Dugaan kekerasan dialami Dirja bukan tanpa sebab.
Pasalnya, sang ayah Aipda Muhammad Jabir, mendapati luka lebam di perut Bripda DP.
Selain itu, ia juga melihat adanya darah yang keluar dari mulut sang anak.
"Itulah kita mau tunggu hasilnya (penyelidikan) karena ada darah keluar di mulut," kata Aipda Muhammad Jabir.
Jika diduga sakit, Jabir mengatakan, kondisi anaknya sehari sebelumnya baik-baik saja.
Pasalnya kata dia, pada waktu antara sahur dan subuh tadi, Bripda DP masih sempat telponan dengan ibunya.
"Tadi subuh komunikasi sama ibunya, baikji, tidak pernah bilang sakit," jelasnya.
Adanya darah yang keluar dari mulut juga terlihat di pipi ibunya yang memeluk jenazah Bripda DP di RS Bhayangkara.
Dari dokumentasi foto yang beredar, tampak ada luka lebam juga di perut Dirja.
Selain itu, ada juga screenshot percakapan WhatsApp yang diduga dari rekan-rekan seprofesi Dirja.
Salah satunya menyebut, Dirja meninggal dunia karena 'dipukul seniornya".
Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto mengatakan, dugaan sementara meninggalnya Bripda DP diduga karena sakit.
Namun demikian, lanjut Didik, penyelidikan masih dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti meninggalnya DP.
"Iya ada anggota Bripda DP selesai shalat shubuh terlihat sakit, kemudian dibawa ke RSUD Makassar (RS Daya), setelah dilakukan perawatan meninggal dunia," kata Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Didik Supranoto kepada tribun.
"Sementara permasalahan masih dilakukan proses pemeriksaan/pendalaman lebih lanjut, perkembangan akan kami sampaikan," lanjutnya.
Hal senada diungkapkan Kabid Propam Polda Sulsel Kombes Pol Zulham Effendy.
Bidang Profesi dan Pengamanan (Bid Propam) Polda Sulsel, menyelidiki penyebab pasti meninggalnya Bripda DP (19) yang diduga dianiaya seniornya.
Hal itu ditegaskan Kabid Propam Polda Sulsel Kombes Pol Zulham Effendy saat ditemui di halaman RSUD Daya, Jl Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Minggu (22/2/2026) siang.
Zulham mengatakan, informasi awal yang ia peroleh Bripda DP disebut sakit pada waktu subuh tadi.
"Hasil koordinasi dengan bapak Ditsamapta, dapat laporan pagi, ada kejadian setelah salat subuh artinya ada laporan anggota Ditsamapta Polda Sulsel yang sakit dan dibawa ke rumah sakit," terangnya didampingi Ditsamapta Polda Sulsel Kombes Pol Brury Soekotjo.
Meski demikian, kata Zulham, pihaknya akan menyelidiki pasti penyebab meninggalnya DP.
Sebab, ada dugaan Bripda DP meninggal dunia akibat mendapat tindakan kekerasan sari seniornya.
"Kita Bid Propam mendalami, makanya jenazah dibawa ke RS Bhayangkara untuk pemeriksaan lebih lanjut, baik visum luar maupun visum dalam," jelasnya.
Perwira tiga melati ini menegaskan, semua prosedur penyelidikan penyebab pasti meninggalnya almarhum akan dilaksanakan secara profesional dan terbuka.
Zulham mengaku akan mengungkap secara terang semua fakta penyelidikan yang nantinya ditemukan.
"InsyaAllah kita akan ungkap kalau memang ada kejadian di luar dari kejadian umum atau mencurigakan, atau kekerasan disitu kita akan luruskan," sebutnya.(*)