Sosok Jovansyah Suryatama, Siswa SD Surabaya Sabet Medali di Kompetisi Matematika Internasional
Sudarma Adi February 22, 2026 11:14 PM

Laporan Wartawan Tribun jatim Network, Nur Ika Anisa

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Siswa sekolah dasar berprestasi asal Surabaya, Jovansyah Suryatama Hendrata meraih medali pada dua ajang kompetisi internasional matematika.

Siswa kelas VI Sekolah SD Bright Kiddie Surabaya ini mengikuti JISMO (Japan International Science and Mathematics Olympiads) di Bali.

Sebuah kompetisi internasional bergengsi untuk siswa SD/MI (Grade 1-6) di Asia, termasuk Indonesia, yang menguji kemampuan matematika dan sains.

Jovansyah lalu melanjutkan kompetisi di ajang Fermat Mathematical Olympiad (FMO) yang diikuti anak-anak muda dari berbagai negara. Pada ajang kompetisi yang berlangsung di Vietnam itu, Jovansyah meraih Silver Award.

Baca juga: Olimpiade Matematika di Bojonegoro Ricuh, Panitia Janji Bertanggung Jawab, Berikut Kronologinya

Raih Silver Award di Vietnam Berkat Bimbingan Sang Kakak

“Yang Vietnam, saya memenangkan FMO mendapat Silver Award. Persiapannya saya belajar dengan kakak karena saat itu guru les sedang tidak bisa mengajar. Itu yang membuat lomba ini berkesan, karena berkat kakak saya bisa memenangkan lomba meski tidak belajar dari guru les,” sebut Jovansyah, Sabtu (21/2/2026).

Saat ditemui Tribun Jatim di sekolahnya, ia juga menceritakan bahwa, kompetisi internasional itu membuatnya bertemu dengan ratusan anak muda dari berbagai negara.

Untuk menyisihkan 400 hingga 500 peserta, Jovansyah mengaku ada trik khusus. Yakni management waktu.

Saat itu, ia dihadapkan dengan pilihan soal yang harus diselesaikan dalam waktu 90 menit. Di sinilah management waktu dibutuhkan dan menjadi strateginya meraih point.

“Kesulitannya diberikan opsi memilih soal nomor 21 kalau benar dapat 10 kalau salah minus 10,” sebutnya.

“Saya disarankan oleh kakak kalau sudah mengerjakan tesnya, dan tersisa 20-25 menit, ambil soal 21 tapi kalau sisa waktu kurang dari itu jangan diambil. Saya mengakhiri tes tersisa 15 menit. Daya tidak mau ambil resiko,” tambahnya.

Selain itu, suasana hati senang dan enjoy tetap fokus tanpa tertekan dilakukan Jovansyah.

“Selama mengerjakan kompetisi internasional ini ada susah dan gampang, saya lakukan tes dengan bahagia dan enjoy. Menang itu membuat saya senang,” sebutnya.

Baca juga: Bupati Gresik Gus Yani Gandeng Sprix Jepang untuk Kembangkan Pembelajaran Matematika

Selama persiapan, sang kakak menjadi panutan. Belajar dan sering membaca buku terkait kompetisi matematika.

Laki-laki yang bercita-cita sebagai astronot (antariksawan) itu mengaku tak bosan belajar.

Menurutnya dengan belajar membuka banyak ilmu terkait persiapan kompetisi hingga tingkat internasional.

“Harus selalu belajar, jangan menyerah walau susah tetap harus selalu belajar,” ucapnya.

Baca juga: Alwi Farhan Juara Indonesia Masters 2026, Bidik Olimpiade dan Turnamen Dunia

Sementara itu, Endang Juliatin, M.Pd. selaku Kepala Sekolah SD Bright Kiddie Surabaya mengatakan, sekolah terus mensuport anak-anak dengan memberikan pendampingan dan pembinaan. Setiap anak memiliki kesempatan dengan seleksi untuk mewakili kompetisi.

“Ada pembinaan dari sekolah, dan pendampingan. Kami seleksi misal matematika atau IPA, diambil yang terbaik dan ada pendampingan. Kami juga memperbolehkan misal ada orang tua yang ingin anaknya juga menginginkan lomba dan setiap anak-anak menang lomba kami beri apresiasi dan publikasi di media sosial sekolah dan saat upacara sekolah,” sebutnya.

Apresiasi menjadi bentuk dukungan kepada pemenang sekaligus memotivasi kepada anak didik lainnya.

“Semangat mengikuti lomba sangat tinggi. Lomba matematika, inggris, robotik ikut dan dulu pernah ikut lomba agama Islam. Memang anaknya (Jovansyah) senang belajar dan ini disuport orang tuanya. Sehingga ketika orang tua suport dan anak semangat tinggi bisa selaras,” sebutnya.

Selain itu, sekolah juga melakukan pengembangan karakter, kegiatan ekstrakurikuler, dan asah talenta.

“Masa enam tahun, masa keingintahuan tinggi. Sehingga melalui program sekolah diharapkan bisa mengembangkan semua potensi siswa. Kami juga tidak bisa sendiri, kami juga butuh gandeng tangan dengan orang tua. Orang tua juga suport luar biasa, sehingga sekolah juga bisa lebih mudah membawa ke arah mana anak-anak menemukan potensi dan berkembang lebih,” tutupnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.