Warga Terdampak Tanah Gerak Kampung Sekip Dirikan Dapur Umum Mandiri 
M Syofri Kurniawan February 23, 2026 06:14 AM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Enam tenda oranye bertuliskan BNPB berdiri di atas lahan yang ilalangnya sudah dibabat di Jalan Burangrang Raya, Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.  

Di lokasi itu, sebuah mobil oranye dengan tulisan yang sama difungsikan sebagai dapur umum. 

Dari kejauhan, tempat itu tampak seperti barak darurat.  

Namun untuk puluhan warga Kampung Sekip, di situlah tempat pengungsian bagi mereka yang terdampak tanah gerak.

Sore itu, Minggu (22/2/2026), hujan turun, namun tak menyurutkan niat para pengungsi yang sedang kerja bakti.

Para laki-laki bergotong royong memasang terpal, membangun tratak tambahan untuk dapur umum mandiri.

Di bawah rangka sederhana itu, sudah tersusun wajan penggorengan besar, kompor, tempat nasi, teko air minum, hingga peralatan masak lainnya. 

Sementara itu, tak jauh dari sana, ibu-ibu duduk di kursi depan tenda.

Mereka, sebagian di antaranya memakai payung, mengikuti rapat yang dipimpin Ketua RT setempat, Joko Sukaryono.  

Pembahasan sore itu meliputi pembagian jadwal memasak dan pengelolaan logistik. 

Sukaryono mengatakan, dapur umum dari pemerintah, termasuk bantuan nasi bungkus dari dinas sosial selama ini akan segera berakhir.

“Alhamdulillah, kondisi pengungsi sehat. Ini di belakang saya sedang mendirikan dapur umum mandiri,” kata Sukaryono. 

“Batas waktu nasi bungkus dan bantuan dari Dinas Sosial akan segera berakhir, kurang lebih terakhir Rabu,” sambungnya.

Dia menjelaskan, momen akhir pekan dimanfaatkan untuk kerja bakti.

“Makanya, sekarang mumpung ibu-ibu dan bapak-bapaknya pada libur, kami adakan gotong royong untuk mendirikan dapur umum mandiri ini. Bikin sendiri,” imbuh dia.

Retakan bertambah

Saat ini, sebanyak 60 jiwa masih bertahan di pengungsian itu.

Seluruhnya berasal dari 22 KK yang meninggalkan rumah mereka.

Jumlah rumah terdampak pun bertambah menjadi 17 unit, dari sebelumnya 15.

Di lokasi pengungsian, masih tersisa dua tenda yang belum dipasang.

“Rencananya nanti akan digunakan sebagai tempat penyimpanan bahan makanan. Untuk bahan mentah, kami mendapat dukungan dari CSR yang menyuplai kebutuhan pokok,” lanjut Sukaryono.

Sekitar 200 meter dari tenda-tenda itu, Kampung Sekip kini nyaris tak bisa dikenali.

Jalan yang dulu bisa dilalui sepeda motor perlahan kini sudah putus total. 

Retakan yang semula 30 sentimeter melebar hingga sekitar satu meter.

Kontur tanah berubah bergelombang, naik turun seperti ombak yang membeku.

Empat rumah sudah roboh lebih dulu, milik Supriyadi, Supardi, Slamet Riyadi, dan Sri.

Kini, total 17 rumah terdampak retak, miring, bahkan ambles.

Musala yang dulu menjadi pusat kegiatan warga sempat berubah fungsi menjadi titik pengungsian pertama.

“Setelah saya pantau hari ini tadi, ada beberapa retakan baru yang semakin melebar. Curah hujan tidak terlalu tinggi akhir-akhir ini, sehingga retakan-retakan itu tidak bertambah terlalu parah,” ungkap Sukaryono.

Meskipun demikian, kekhawatiran belum sirna.

Tanah dianggap warga setempat masih bergerak, perlahan dan senyap.

Peristiwa itu juga sempat menjadi perhatian nasional. Pada Sabtu (14/2/2026) sore lalu, Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, datang langsung ke lokasi bersama Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi.  

Di bawah tenda, saat hujan mengguyur, keduanya berbincang dengan warga.

“Ini keselamatan bapak ibu yang nomor satu ya. Jadi nanti untuk masalah relokasi akan segera dicarikan solusi,” kata Gibran kala itu. 

Dia meminta warga tidak bolak-balik ke rumah lama karena zona tersebut berisiko.

Pemerintah pun menjanjikan relokasi sebagai solusi jangka panjang. 

Selama dua bulan ke depan, warga diperbolehkan menempati lahan pengungsian yang sekarang berdiri.

Sembari itu, skema relokasi tengah dipikirkan.

Hingga kini, kepastian lokasi baru belum diumumkan. (Reza Gustav)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.