Opini: Meramadankan Keakuan Manusia
Dion DB Putra February 23, 2026 08:19 AM

Oleh: Idharsyah T. Dasi S.KM., M.K.M 
Alumni Pendidikan Kader Pemimpin Muda Nasional III Delegasi NTT Kemenpora RI.

POS-KUPANG.COM - Bulan bertabur berkah telah datang menyapa umat muslim di seluruh dunia pada pertengahan Februari 2026. 

Momentum Ramadhan merupakan kesempatan terbaik untuk menaikan level kualitas ibadah spiritual sekaligus merefleksikan diri sejauh mana posisi kehambaan dan kekhalifaan kita sebagai manusia di depan sang Ilahi di tengah gempuran arus modernisasi yang terus menggorogoti dan mengikis nilai spiritual dan moralitas manusia.  

Modernitas sering dianggap sebagai kemajuan peradaban. Teknologi berkembang pesat, akses terhadap informasi semakin terbuka, dan kehidupan manusia tampak semakin mudah. 

Baca juga: Opini: Etika Digital dan Tanggung Jawab di Media Sosial

Dunia bergerak cepat, batas geografis seolah lenyap, dan manusia hidup dalam kenyamanan yang sebelumnya tak terbayangkan. 

Namun di balik semua itu, ia menyimpan wajah “janus”, manusia modern menghadapi paradoks yang tidak sederhana: kemudahan akses, kelimpahan materi justru dilumuri dengan rutinitas yang kosong tanpa makna.

Erich Fromm membaca gejala ini sebagai krisis eksistensial. Dalam karyanya To Have or To Be, Fromm menegaskan bahwa manusia modern semakin terjebak dalam modus having-dorongan untuk memiliki-ketimbang modus being-kesadaran untuk menjadi. 

Nilai diri diukur melalui kepemilikan, manusia mengalami dehumanisasi. Makna hidup telah direduksi sehingga manusia diukur dari simbol-simbol material yang melekat pada dirinya.

Manusia kemudian saling berburu pengakuan,terus mengejar, membandingkan dan mencari validasi.  

Secara tak sadar, ego menuntun mereka pada fenomena yang disebut sayyed Hosein Nasr sesungguhnya manusia telah bergerak keluar dari pusat eksistensi menuju eksistensi pinggiran.

Akibatnya manusia terasing oleh dirinya sendiri. Ia teralienasi ketika nafsu menjadi pusat, materi menjadi orientasi, nilai spiritual perlahan terkikis, pelan tapi pasti bak pantai di Kota Kupang yang mengalami abrasi. 

Ramadan Bulan Pembakaran

Ramadan berasal dari kata ar-ramdhu yang bermakna teriknya sinar matahari (keadaan yang amat  panas). 

Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam kitab Shafwat al-Tafasir menyebut secara maknawi, Ramadan itu adalah bulan membakar semua dosa-dosa dan membumi hanguskan sifat-sifat angkara murka yang bertahta di dalam diri dengan amaliah puasa dan amal saleh lainnya, sebab di bulan ini semua amaliah baik akan dilipatgandakan pahalanya.

Ramadan menawarkan kita mekanisme pendidikan batin pada setiap manusia untuk melakukan gerak back to basic, kembali pada dirinya yang suci (fitrah), yakni puasa (al-shaum/as-shiyam). 

Al-jurjani dalam At-Ta’rifat menjelaskan shaum secara etimologis adalah mutlak menahan, sedangkan menurut syariat menahan diri dari hal hal yang membatalkannya-makan, minum, dan berhubungan badan-mulai dari waktu subuh sampai waktu maghrib dengan disertai niat. 

Tujuan dari perintah puasa agar supaya kamu bertakwa. “Diwajibkan atas kamu berpuasa … agar kamu bertakwa.” (Q.S Al-Baqarah [2]:183).

Secara syariat, puasa itu menahan diri dari kebutuhan biologis. Secara hakikat puasa mendidik kita untuk menahan diri dari segala bentuk perbuatan buruk, mengendalikan nafsu dan mendekatkan diri kepada Ilahi, sang “Sangkan paran dumadi”. 

Puasa adalah madrasah ruhaniah untuk penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). inti ibadah puasa bukanlah sekadar tindakan lahiriah, melainkan transformasi batin. 

Nafsu — yang dalam kerangka Al-Ghazali merupakan sumber dominasi hasrat dan ego — harus dididik, bukan dituruti. 

Puasa menjadi jalan disiplin diri yang menata ulang struktur batin manusia untuk menemukan kembali dirinya yang hanif.

Dengan demikian puasa menjadi tirakat pembakaran keakuan (nafsu) yang menguasai diri, mematikan berhala dalam diri, memutus mata rantai penghambaan kepada selain Allah yang membelenggu diri manusia. 

Berpuasa di bulan Ramadan menjadi api kesadaran yang perlahan mengikis kerakusan, meredam egoisme, dan menenangkan hasrat yang tak pernah puas yang menjadi problem penyakit manusia modern. 

Dunia kontemporer hari ini mengakibatkan manusia kehilangan orientasi transcendental, mendorong manusia terus merespons hasratnya. 

Puasa justru mengajarkan sebaliknya: kemampuan menahan di tengah kebiasaan menumpahkan, memilih mengendalikan dibanding melampiaskan,  Ia membangun kesadaran bahwa tidak semua yang diinginkan harus dipenuhi, tidak semua yang bisa dilakukan harus dilakukan.

Dengan demikian, Ramadan adalah proyek meramadankan keakuan manusia. Ramadan sejatinya adalah momentum paling tepat untuk meruntuhkan tirani “aku” yang absolut. 

Menata ulang pusat kehidupan agar menjadi manusia merdeka, tak teralienasi. 

Ramadan menghadirkan kembali Tuhan dalam kesadaran manusia, menjadi manusia yang bertakwa. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.