TRIBUNTRENDS.COM - Kapolres Sukabumi AKBP Samian mengungkapkan bahwa kasus kematian NS (12), bocah asal Kecamatan Jampang Kulon, Kabupaten Sukabumi, resmi dinaikkan ke tahap penyidikan. Keputusan tersebut diambil setelah penyidik menemukan indikasi kuat adanya tindak pidana dalam peristiwa yang sempat viral di media sosial itu.
Menurut Samian, peningkatan status perkara dilakukan karena adanya dugaan kekerasan yang dialami korban sebelum meninggal dunia. Penyidik juga telah mengantongi sejumlah alat bukti yang menguatkan dugaan tersebut, baik terkait kekerasan fisik maupun psikis.
Kekerasan terhadap NS diduga dilakukan oleh ibu tirinya yang berinisial TR. Selain dugaan kekerasan fisik, korban juga diduga mengalami tekanan psikis sebelum mengembuskan napas terakhirnya.
Baca juga: Keinginan Terakhir NS, Nyawa Melayang di Tangan Ibu Tiri, Ayah Bohong Sebut Ibu Kandung Meninggal
“Terkait perkara NS kita maraton selama 24 jam melakukan penyelidikan, perkara sudah kita naikkan ke tingkat penyidikan. Karena kita sudah menemukan beberapa alat bukti yang tentunya bisa kita yakini ini ada peristiwa pidana, yaitu pidana dugaan kekerasan, baik fisik maupun psikis terhadap korban (NS),” kata AKBP Samian, dilansir Kompas.com, Senin (23/2/2026).
Di akhir pernyataannya, AKBP Samian meminta dukungan masyarakat agar proses hukum berjalan secara independen, profesional, dan transparan. Ia menegaskan bahwa penanganan perkara ini akan mengedepankan pendekatan ilmiah dalam pembuktian.
“Kami mohon dukungan agar proses penegakan hukum ini bisa berjalan independen, profesional, dan benar-benar mengedepankan Scientific Crime Investigation,” ujarnya.
Hingga saat ini, penyidik telah memeriksa total 16 orang saksi untuk mengungkap secara menyeluruh fakta di balik kematian NS.
NS diduga menjadi korban penganiayaan yang dilakukan oleh ibu tirinya.
Kejanggalan muncul saat ayah korban, Anwar Satibi (38), mendapatkan kabar telepon dari istrinya bahwa NS sakit
Anwar mengaku saat itu sudah dua hari dua malam meninggalkan rumah untuk bekerja sebagai jasa panggilan pemasangan gigi.
“Saya ditelepon istri, katanya, ‘Yah pulang, si Raja tidak damang, sudah ngelantur, panas,’” ujar Anwar, Jumat (20/2/2026) sambil berlinang air mata di RS Bhayangkara Setukpa Polri Sukabumi.
Setelah mendapat kabar tersebut, ia langsung bergegas pulang. Namun, setibanya di rumah, ia terkejut melihat kondisi anak sulungnya yang disebutnya sudah tidak seperti biasanya. Padahal sepulang libur sekolah dari pondok pesantrennya ia baik-baik saja.
“Faktanya sebelum saya berangkat ke Sukabumi, anak saya sehat-sehat saja. Pas saya pulang, kulitnya sudah pada melepuh,” katanya.
Anwar sempat menanyakan kondisi tersebut kepada istrinya. Ia mengaku mendapat jawaban bahwa lepuhan itu disebabkan demam tinggi.
“Saya tanya, ‘Mah, kenapa kulitnya seperti ini?’ Dijawab karena sakit panas,” ucapnya.
Awalnya ia mengira kondisi itu akibat panas biasa. Namun, karena kondisi tak kunjung membaik, NS kemudian dibawa ke RS Jampang Kulon.
Di Instalasi Gawat Darurat (IGD), menurut Anwar, anaknya sempat memberikan keterangan saat ditanya mengenai penyebab luka yang dialaminya.
“Jawabnya di IGD. Katanya disuruh minum air panas,” ujar Anwar.
NS kemudian menjalani perawatan intensif dan dipindahkan ke ruang ICU. Namun tak lama setelah itu, nyawanya tidak tertolong.
“Dari IGD masuk ICU, habis dari ICU meninggal,” katanya lirih.
Dengan dugaan kejanggalan pada kondisi anaknya yang memburuk dalam waktu singkat, Anwar kemudian memutuskan agar jenazah NS diautopsi.
Berdasarkan hasil autopsi, ditemukan luka bakar di sekujur tubuh NS.
Jenazah NS sebelumnya diautopsi oleh Tim forensik RS Bhayangkara Setukpa Lemdiklat Sukabumi telah melakukan autopsi selama tiga jam pada Jumat (20/2/2026).
Kepala Instalasi Forensik Kombes dr. Carles Siagian mengungkapkan adanya luka bakar di lengan, kaki kanan, kiri, hingga punggung.
Yang paling mencolok, ditemukan luka bakar lama yang sudah permanen di area bibir atas dan hidung.
"Sepertinya terkena panas yang menyebabkan luka bakar. Namun, luka-luka tersebut seharusnya tidak menyebabkan kematian," ujar dr. Carles.
Kejanggalan muncul saat pemeriksaan organ dalam. Tim dokter menemukan kondisi paru-paru korban yang sedikit membengkak.
Karena luka luar dianggap tidak mematikan, tim forensik kini mencurigai adanya faktor lain di dalam tubuh korban.
"Kami sudah mengambil sampel organ untuk diuji laboratorium di Jakarta. Kami ingin mengetahui apakah ada zat-zat tertentu di dalam organnya," tambahnya.
(TribunTrends.com/Tribunnews.com)