Ibu Tiri Bantah Aniaya NS hingga Tewas, Sebut Memang Sudah Takdir
Kiki Novilia February 23, 2026 05:19 PM

Tribunlampung.co.id, Sukabumi - TR (47) membantah telah menganiaya anak tirinya, NS (13) hingga sekujur tubuhnya penuh luka dan berakhir meninggal dunia. 

Sebelumnya NS yang berasal Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, tutup usia pada Kamis (19/2/2026) sore saat menjalani perawatan di rumah sakit.

Ia datang dengan kondisi tubuh melepuh, penuh luka bakar, serta demam. Tak berselang lama, nyawanya tidak dapat diselamatkan. 

Pada detik-detik kematiannya, NS sempat menunjuk TR selaku pelaku yang telah membuatnya menderita.

Mendengar tudingan tersebut, sang ibu tiri membantahnya mentah-mentah. Menurutnya, kematian NS adalah murni takdir yang tidak perlu dicari-cari kesalahannya. 

Baca juga: Hasil Autopsi Bocah yang Diduga Dipaksa Ibu Tiri Minum Air Panas, Paru-paru Bengkak

"Ini memang takdirnya anak saya sudah sampai di sini," ujar TR dengan nada emosional, dikutip dari TribunJabar, Senin (23/2/2026).

TR secara terang-terangan meminta agar kasus ini tidak diperpanjang atau diproses lebih lanjut sebagai tindak pidana.

"Jangan sampai ada yang merasa dirugikan, apalagi sampai ada yang menjadi korban pidana ini itu. Tidak ada (pembunuhan), ini takdirnya," kata dia.

Pahlawan Kesiangan

Dalam klarifikasinya, TR merasa diperlakukan tidak adil oleh opini publik yang menyudutkannya sebagai pelaku kekerasan.

TR mengaku telah merawat korban sejak kelas 3 SD dan merasa sangat terpukul dengan kematian anaknya.

Ia bahkan melabeli pihak-pihak yang merasa iba di media sosial sebagai "pahlawan kesiangan".

"Jangan menjadi pahlawan kesiangan," kata dia. 

"Saya yang urusi tahlilan, bayar penggali kubur, itu semua pakai uang. Apa ada netizen yang merasa sok kasihan itu menyumbang? Kalau benar sayang, bantu biaya pemulasaraan dan doakan, bukan digoreng di media sosial," katanya.

Menanggapi proses hukum yang kini mengarah padanya, TR mengaku hanya bisa berserah diri. Ia menilai bahwa aturan hukum di dunia bisa saja direkayasa, berbeda dengan keadilan Tuhan.

"Saya pasrah saja, Allah yang Maha Tahu. Aturan negara atau aturan manusia kan bisa diubah, bisa dibuat-buat. Kalau aturan Allah tidak. Saya berharap kebenaran segera diperlihatkan," tuturnya.

Ia juga mempertanyakan urgensi proses autopsi dan viralnya kasus ini yang menurutnya tidak akan membawa sang anak kembali hidup.

"Toh anak saya sudah hilang, sudah tidak ada. Apa dengan diautopsi atau diviralkan ada keuntungan buat saya?" tambahnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.