Puasa Menghilangkan Stres
Oleh Menteri Agama, Nasaruddin Umar
TRIBUNJATIM.COM - Salah satu penyakit masyarakat modern adalah stres. Jika harapan tidak berkesesuaian dengan kenyataan, maka di situ berpotensi timbul stres.
Apalagi jika kebutuhan itu sudah betul-betul mendesak tetapi solusi tak kunjung datang.
Di sinilah puasa memegang peranan penting untuk meminimalisir atau menghilangkan stres.
Kita perlu menyadarkan diri kita bahwa kenyamanan mungkin bisa dibeli di hotel berbintang, kelezatan bisa dibeli di restoran mewah, keindahan bisa disaksikan di objek-objek wisata, akan tetapi ketenangan dan kebahagiaan tidak bisa dibeli dengan uang.
Baca juga: Jadwal Buka Puasa di Lamongan, Lengkap Beserta Waktu Imsak Ramadan 2026
Uang, kekayaan, dan jabatan belum tentu menghadirkan ketenangan dan kebahagiaan.
Ketenangan bukan hanya milik orang kaya atau pejabat, tetapi ketenangan juga bisa dirasakan oleh orang-orang miskin.
Ketenangan lebih merupakan akibat daripada sebab. Ketenangan dan kebahagiaan adalah pemberian (given/kasab) dari Tuhan. Ketenangan dan kebahagiaan adalah urusan persepsi jiwa (state of mind).
Hanya orang-orang yang berani melawan dirinya sendiri yang mampu merasakan ketenangan. Di sinilah arti penting puasa.
Puasa merupakan spiritual training untuk melawan keinginan diri paling efektif. Bukankah berpuasa berarti menahan diri tidak makan, minum, berhubungan seks, dan perbuatan-perbuatan yang berselera rendah lainnya. Puasa mendidik jiwa untuk merasakan ketenangan batin dan kebahagiaan rohani.
Orang-orang arif sering mengatakan, puncak kebahagiaan adalah ketenangan batin. Nabi Muhammad Saw. juga pernah mengatakan: Al-gina ginan nafs (kekayaan sesungguhnya ialah kekayaan batin). Tanpa kekayaan dan kebahagiaan batin, sesungguhnya hanya kekayaan dan kebahagiaan semu. Dengan demikian, kita tidak bisa memandang enteng orang miskin harta atau materi sebab tidak sedikit di antara mereka yang menemukan kebahagiaan batin.
Sebaliknya, kita juga tidak bisa takjub sepenuhnya kepada para pemilik kekayaan materi sebab itu belum tentu mereka merasa bahagia dan tenang. Manusiawi memang jika orang-orang menghendaki kedua-duanya, karena kita juga diajari doa oleh Allah SWT: Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina ‘adzaban nar (Ya Allah, anugerahkanlah kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, dan jauhkanlah kami dari api neraka). Manusia ideal menghendaki kebahagiaan dunia dan akhirat.
Sesungguhnya Islam tidak melarang orang mengumpulkan kekayaan materi, bahkan Islam mengharuskan orang untuk bekerja produktif tetapi tetap efisien dan efektif. “Dunia adalah cermin akhirat,” demikian kata Nabi.
Sulit membayangkan akhirat yang baik tanpa dunia yang sukses. Ibadah mahdhah seperti salat, zakat, haji, bahkan puasa pun membutuhkan biaya.
Semuanya perlu biaya dan biaya itu urusan dunia. Kiat untuk mencapai dan mempertahankan kondisi kebahagiaan batin ialah, menurut para ‘arifin, menggabungkan antara optimisme dan semangat juang (al-raja’ wa al-mujahadah) di dalam diri.
Idealnya setiap orang perlu sesekali mengecoh kehidupan dunianya dengan melakukan khalwat atau takhannus seperti yang pernah dilakukan Nabi di Gua Hira, ketika ia sedang hidup berkecukupan di samping istrinya Khadijah yang kaya dan bangsawan.
Untuk kehidupan kita sekarang ini, mungkin tidak perlu mencari gua yang terpencil atau jauh-jauh meninggalkan kediaman dan keluarga. Yang paling penting ada suasana ‘uzlah (pemisahan diri) sementara dari hiruk-pikuk pikiran ke sebuah tempat yang sejuk dan nyaman. Bisa saja dengan melakukan i‘tikaf di salah satu masjid, misalnya yang sering dilakukan di dalam bulan suci Ramadan.
Salah satu keutamaan Ramadan ialah tersedianya waktu dan tempat untuk beriktikaf, yakni berdiam diri melakukan muhasabah di masjid karena Allah SWT. Di sanalah kita mengecoh pikiran dan tradisi keseharian kita dengan membaca Al-Qur’an lebih banyak, salat, tafakkur, dan berzikir.
Niatkan bahwa masjid ini adalah Gua Hira atau Gua Kahfi, yang pernah mengorbitkan kekasih-kekasih Tuhan, Nabi Muhammad SAW dan Ashabul Kahfi, melejit ke atas dan mendapatkan pencerahan.
Jika suasana batin dibiarkan berlalu menghabisi dan menyita sepanjang hidup kita, tanpa pernah diselingi dengan rasa fakir (miskin di mata Tuhan), apalagi karena deposito dan kekayaan yang begitu melimpah sampai bisa diwarisi tujuh generasi, dikhawatirkan akan melahirkan generasi lemah (dha‘if) di mata Allah.
Bahkan tidak mustahil akan membebani kita di akhirat kelak. Kita perlu mengingat bahwa jika kehidupan di akhirat setara dengan 1.000 tahun dunia, maka kalau ada orang dikaruniai usia 70 tahun, itu artinya sekitar tiga menit di akhirat.
Maukah kita menukar hanya tiga menit dengan keabadian akhirat? Milik kita di akhirat hanya yang pernah dibelanjakan di jalan Allah.
Selebihnya berpotensi menyusahkan kehidupan jangka panjang kita di alam barzakh dan alam baqa di akhirat.
Bersihkanlah harta kita dengan zakat dan sedekah, luruskanlah pikiran kita dengan zikirullah, dan lembutkanlah jiwa kita dengan tafakkur dan tadzakkur, serta teguhkanlah pendirian kita di atas rel shirathal mustaqim. Dengan demikian, semoga kita mendapatkan seruan Ilahi: La tahzan innallaha ma‘ana (Jangan khawatir, Allah bersama kita). Semoga dengan berpuasa sebulan penuh, stres kita akan hilang. Amin.