Menkeu Purbaya Tanggapi Kasus Alumni LPDP: Enggak Apa-apa Enggak Patriotis, tapi Jangan Hina Negara
Tiara Shelavie February 23, 2026 05:35 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa ikut menanggapi soal ramai kasus alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) bernama Dwi Sasetyaningtyas yang membuat video kekecewaannya menjadi Warga Negara Indonesia (WNI).

Dalam videonya, Dwi Sasetyaningtyas lantang menyatakan bahwa cukup dirinya saja yang menjadi WNI, anak-anaknya jangan.

Melalui konten videonya itu, Dwi Sasetyaningtyas juga menyatakan keinginannya agar anak-anaknya memiliki paspor WNA.

Menanggapi hal tersebut, Menkeu Purbaya mengharapkan para penerima LPDP ini bisa lebih menjaga sikap.

Purbaya mengaku tak masalah jika mereka merasa tidak senang dengan negara atau pemerintahan Indonesia, tapi Purbaya tetap tak membenarkan untuk menghina negara sendiri.

"Saya harapkan ke depan teman-teman yang dapat pinjaman LPDP, ya kalau mau enggak senang, ya enggak senang, tapi jangan menghina-hina negara lah," kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa 2026, Jakarta, Senin (23/2/2026), dilansir Kompas TV.

Menkeu Purbaya mengingatkan, beasiswa LPDP ini didapat dari pajak rakyat dan sebagian utang yang memang disisihkan untuk memperbaiki kualitas SDM Indonesia.

Untuk itu jika LPDP ini ujungnya hanya dipakai untuk menghina negara, maka Purbaya menilai lebih baik penerima LPDP tersebut diblacklist saja.

Tak cukup sampai disitu, uang yang diterima dari LPDP juga akan diminta kembali beserta dengan bunganya.

"Jangan begitu, kita itu uang dari pajak dan sebagian dari utang yang kita sisihkan untuk memastikan SDM kita tumbuh."

"Tapi kalau dipakai untuk menghina negara ya kita minta uangnya dengan bunganya. Kalau gitu nanti saya akan blacklist dia di seluruh pemerintahan enggak akan bisa masuk," tegas Purbaya.

Baca juga: Purbaya Sindir Alumni LPDP soal Jadi WNI: 20 Tahun Lagi Indonesia Akan Bagus 

Terakhir, Purbaya menekankan, tidak masalah jika penerima LPDP ini tak bersikap patriotis usai menerima beasiswa dari negara.

Namun jangan sampai para penerima LPDP ini berujung menghina negara sendiri.

"Jadi jangan menghina negara Anda sendiri. Enggak apa-apa kalau enggak patriotis, tapi jangan menghina negara deh."

"Itu saya saya ingatkan kepada teman-teman yang lain dari LPDP," imbuh Purbaya.

Baca juga: Nasib Apes Keluarga Dwi Sasetyaningtyas: Suami Diperiksa LPDP, sang Influencer Di-Blacklist Menkeu

Wamendikti Stella Ingatkan Penerima LPDP

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Stella Christie, saat ditemui kantornya di Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (12/11/2025). Menurut dia, perempuan berkontribusi dalam dunia sains.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Stella Christie, saat ditemui kantornya di Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (12/11/2025). Menurut dia, perempuan berkontribusi dalam dunia sains. (Tribunnews.com/ Rina Ayu)

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek) Stella Christie ikut menanggapi kegaduhan terkait konten viral Dwi Sasetyaningtyas.

Stella menilai kontroversi ini merupakan alarm mengenai pentingnya pemahaman moral bagi para penerima beasiswa negara.

"Beasiswa tidak dipahami sebagai amanah, melainkan sekadar fasilitas. Di sinilah letak persoalannya," ujar Stella kepada wartawan, Senin (23/2/2026). 

Ia menegaskan bahwa setiap rupiah yang dikucurkan negara untuk pendidikan warganya adalah bentuk utang budi yang harus dibayar kembali melalui kontribusi nyata bagi bangsa.

Stella berpendapat bahwa solusi atas masalah ini bukanlah dengan memperketat sistem melalui lapisan pembatasan yang berlebihan.

Baca juga: Usai Pernyataan Cukup Saya Aja WNI, Anakku Jangan Viral, LPDP Minta Keterangan Suami DS Hari Ini

Menurutnya, rasa terima kasih kepada Indonesia tidak selalu harus diwujudkan dengan langsung kembali ke Tanah Air sesaat setelah lulus.

Kehadiran tokoh berpengaruh di kancah internasional justru dapat menarik investasi dan membuka lapangan kerja bagi negara asalnya.

"Hampir semua ilmuwan diaspora Indonesia yang saya kenal menunjukkan dedikasi kuat untuk memberi kembali kepada Tanah Air dan membuka peluang bagi sesama," ungkapnya.

Stella memberikan tips praktis bagi para orang tua, terutama mereka yang tinggal di luar negeri.

Ia meminta orang tua tetap menggunakan bahasa Indonesia di rumah dan menanamkan kebanggaan berbahasa Indonesia kepada anak-anak sejak dini.

"Di keluarga saya, bukan hanya anak saya yang diwajibkan berbahasa Indonesia, tetapi suami saya yang berasal dari Polandia pun diharuskan bisa Bahasa Indonesia," tegasnya.

(Tribunnews.com/Faryyanida Putwiliani/Igman Ibrahim)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.