Menkeu Purbaya Live TikTok, Singgung Alumni LPDP yang Bangga Anaknya WNA akan Menyesal
Bobby Wiratama February 23, 2026 05:35 PM

TRIBUNNEWS.COM - Momen Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa live TikTok menuai sorotan di media sosial.

Aksi tersebut terjadi saat Menkeu Purbaya tengah menyantap sahur di bulan ramadhan.

Ia tak melakukan siaran langsung di akun pribadi.

Namun Menkeu Purbaya melakukan ikut nimbrung bersama live sang putra, Yuda Purboyo Sunu.

Dalam momen tersebut, Menkeu Purbaya menjawab soal kasus viral alumni LPDP yang bangga anaknya menjadi WNA.

"Katanya bangga anaknya jadi warga negara Inggris. Ntar kalo ekonomi kita bagus, dia nyesel," ujar Purbaya dikutip dari siaran langsung Yuda Purboyo Sunu, Minggu (22/2/2026).

"Makanya kita sama-sama kita bangun Indonesia," lanjutnya.

Selain LPDP, Purbaya juga menyinggung soal kebocoran data milik keluarga pribadinya.

"Terima kasih mas akun, udah ditutup. Tapi sebagian data sudah ditutup ndak papa," ujar Purbaya.

Menkeu Purbaya sempat melontarkan candaan jika dirinya asli bukanlah AI.

"Ini Pak Pur asli, Pak Pur jempol bukan AI. Karena lagi sahur gapapalah nemenin anak," jelas pria berusia 61 tahun tersebut.

Baca juga: Menkeu Purbaya Perpanjang Penempatan Dana Pemerintah di Bank Himbara 

Purbaya Sindir akan Blacklist Alumni LPDP yang Hina Indonesia

Setelah melakukan siaran langsung tersebut, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyindir alumni LPDP yang menghina Indonesia.

Hal itu diungkap dalam Konferensi Pers APBN KiTa, Senin (23/2/2026).

"Kan teman-teman banyak yang ngeledekin Indonesia jelek, termasuk yang kemarin tuh. Yang dia bilang anaknya jangan menjadi warga negara Indonesia. Mungkin 20 tahun lagi dia akan nyesel, karena 20 tahun lagi kita akan bagus banget," ujar Purbaya saat Konferensi Pers APBN KiTa, Senin (23/2/2026).

Bendahara negara itu menegaskan, pihaknya akan memasukan alumni LPDP Dwi Sasetyaningtyas ke dalam daftar hitam atau blacklist di seluruh pemerintahan.

"Nanti akan saya blacklist dia, di seluruh pemerintahan enggak akan bisa masuk, nanti akan kalian liat blacklistnya seperti apa, jadi jangan menghina negara anda sendiri," ujar Purbaya.

Menurut Purbaya, pemerintah akan menegakkan aturan yang berlaku di LPDP. Dia menyebut, yang bersangkutan telah berkomunikasi dengan Direktur Utama LPDP dan menyatakan kesediaannya untuk mengembalikan dana beasiswa yang diterima.

"Tadi sudah bicara dengan dia ke Dirut LPDP, tadi sudah bicara dengan suami terkait (DS), dan sepertinya dia sudah setuju untuk mengembalikan uang yang pake LPDP termasuk bunganya," tegas Purbaya.

"Saya harapkan kedepan, temen-temen yang mendapatkan pinjaman LPDP, kalau enggak senang enggak senang tapi jangan menghina hina negara lah, jangan begitu. Itu uang dari pajak dan dari sebagian utang yang kita sisihkan untuk memastikan SDM kita tumbuh," ucap Purbaya.

Baca juga: Viral Ucapan Istri, AP Alumni LPDP Terancam Sanksi Pengembalian Seluruh Dana Beasiswa

"Kalau enggak patriotis enggak apa-apa, tapi jangan menghina negara deh, dan saya ingatkan kepada temen-temen yang lain dari LPDP dan saya pastikan yang ini akan di blacklist," imbuhnya menegaskan.

Polemik alumni Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) berinisial DS menjadi sorotan publik setelah pernyataannya dalam sebuah video viral di media sosial memicu perdebatan luas.

Dalam video tersebut, DS mengungkapkan kalimat “cukup saya aja yang WNI, anak-anakku jangan” saat memperlihatkan dokumen kewarganegaraan asing milik anaknya.

Potongan pernyataan itu dengan cepat menyebar di berbagai platform, termasuk X, dan memicu gelombang kritik dari warganet yang mempertanyakan komitmen kebangsaan penerima beasiswa negara.

Nama DS atau Dwi Sasetyaningtyas, menjadi trending topic pada utas di X menyoroti kontradiksi antara statusnya sebagai penerima dana pendidikan dari APBN dengan pernyataan yang dianggap meremehkan kewarganegaraan Indonesia. 

Warganet juga menelusuri rekam jejak digitalnya, termasuk unggahan lama yang menyinggung latar belakang keluarga dan fasilitas yang diduga terkait dengan mertua yang disebut sebagai mantan pejabat kementerian.

Isu tersebut memperluas polemik dari sekadar pernyataan pribadi menjadi perdebatan mengenai etika, privilese, dan integritas penerima beasiswa negara.

Merespons kegaduhan tersebut, DS menyampaikan permintaan maaf terbuka melalui media sosial.

Ia mengakui pernyataannya tidak tepat dan menimbulkan ketersinggungan publik.

Namun klarifikasi itu belum sepenuhnya meredam kritik.

Diskusi di media sosial bergeser pada evaluasi sistem pengawasan alumni LPDP dan mekanisme kontribusi pascastudi dengan tak sedikit yang menyenggol respons LPDP.

(Tribunnews.com/ Siti N/ Nitis Hawaroh/ Chrysnha)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.