Laporan Arie Puji Waluyo
TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA - Kasus perundungan atau bullying meninggalkan trauma mendalam bagi para korbannya. Hal kelam ini pernah dialami oleh selebgram sekaligus pemain film Ratu Azalia.
Jauh sebelum namanya dikenal publik, wanita berusia 29 tahun ini ternyata pernah menjadi korban perundungan yang sangat parah, mulai dari bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga ke jenjang perguruan tinggi.
Masa-masa kelam Ratu Azalia bermula saat ia duduk di bangku SMA. Karena harus mengikuti pekerjaan dinas sang ayah, Ratu sering berpindah-pindah sekolah.
Baca juga: Dikabarkan Kawin Lari dengan Cornelio Sunny, Begini Jawaban Ratu Sofya
Nahasnya, saat bersekolah di kawasan Bogor, ia justru menjadi sasaran empuk para seniornya.
"Pernah waktu itu dibully parah banget waktu masih sekolah ya di SMA di Wilayah Bogor, Jawa Barat," kata Ratu Azalia kepada wartawan, Senin (23/2/2026).
"Eh, tahunya pas di Bogor malah kena bullying. Di-bully oleh senior-senior dengan alasan yang nggak jelas," ucapnya melanjutkan.
Ratu mengaku kebingungan karena ia merasa tak pernah mencari masalah. Namun, perlakuan kasar baik secara fisik maupun verbal harus diterimanya.
"Entah dijambak, dilabrak, dikata-katain 'anak siapa ini' sampai dibilang nggak jelas, apalah asumsinya banyak banget. Padahal aku nggak pernah ngusik mereka. Tapi gak tau kenapa aku kena sasaran," ungkapnya.
Kekecewaan Ratu semakin bertambah saat melihat respons pihak sekolah yang terkesan tidak memberikan penyelesaian berarti terhadap kasus perundungannya.
"Ibaratnya kayak ayam berantem, diakurin, dipisahin, habis itu lepas tangan lagi. Kejadian itu kan bisa berulang di luar sekolah, dan kalau sudah di luar sekolah, itu bukan tanggung jawab sekolah lagi," jelas Ratu.
Mimpi Buruk Berlanjut di Kampus Favorit
Setelah tiga tahun bertahan, Ratu merasa lega bisa lulus SMA. Ia sempat mengira mimpi buruknya telah berakhir kala berhasil masuk ke salah satu universitas favorit di Indonesia. Namun, kenyataan berkata lain.
"Waktu itu, aku pikir bullying ini cuma ada pas SMA aja karena masa-masa labil, kan. Eh, pas aku masuk ke jenjang kuliah sangat parah ternyata aku di-bully lagi di sana. Tapi emang kampus ini sudah terkenal bullynya," ujar Ratu Azalia.
Perundungan di kampus ini justru jauh lebih ekstrem dan membahayakan nyawanya. "Wah di kampus ini bullynya lebih hebat lagi. Kejadiannya pas lagi ospek atau orientasi hingga sudah jadi mahasiswi disana," katanya.
Petaka di masa orientasi (ospek) tahun 2015 itu dipicu oleh hal sepele. Foto wajah Ratu masuk ke dalam unggahan sebuah akun bernama 'Kampus Cantik'. Para senior yang tak terima langsung melabraknya dan melontarkan hinaan tajam.
"Aku di-bully habis-habisan. Apalagi waktu itu tahun 2015, kan belum ada eyelash (bulu mata palsu) atau makeup yang berlebihan, benar-benar berdandan sesuai usia saja tapi masuk postingan akun tersebut," ucap Ratu.
"Aku sampai dikurung di toilet, dilemparin tisu, dan disuruh hapus makeup padahal aku nggak pakai makeup sama sekali," tambahnya.
Dugaan Penganiayaan hingga Nyaris Diperkosa
Tidak hanya kekerasan mental, pemain film 'Ruqyah' ini juga mengalami kekerasan fisik hingga dugaan pelecehan seksual di lingkungan kampusnya.
"Di kampus ini, aku bahkan hampir diperkosa lagi oleh senior. Pas baru satu minggu ospek, aku sampai pingsan dan masuk rumah sakit karena efek dari bullying tersebut," jelas Ratu.
Bahkan, ada insiden penganiayaan yang membuat Ratu kehilangan ingatan sementara akibat benturan keras.
"Terus ada lagi aku dibully bahkan ada dugaan penganiayaan, sampai aku jatuh dari lantai dua ke lantai satu, masuk rumah sakit juga sampai nggak ingat apa-apa dan harus di-CT Scan. Pas ditanya namaku siapa pun, aku nggak ingat. Udah sampai separah itu," tambahnya.
Tragisnya, pihak kampus justru sempat lepas tangan karena menganggap kejadian tersebut hanya sekadar candaan antar mahasiswa dewasa.
Hal ini memicu amarah keluarga Ratu, terutama sang ayah yang akhirnya turun tangan menindak tegas para pelaku.
"Sampai akhirnya, ospek itu diberhentikan oleh Papaku. Senior-senior ini minta maaf, bikin surat penangguhan, dan akhirnya aku dibebaskan dari syarat mengikuti ospek karena posisiku sebagai korban," terangnya.
Memutus Rantai Bullying
Rentetan kejadian traumatis tersebut membuat kondisi psikis Ratu terguncang. Butuh waktu panjang baginya untuk pulih.
Namun, pengalaman pahit itu memberinya satu pelajaran berharga: ia menolak menjadi pelaku. Ratu memilih memutus rantai senioritas saat dirinya menjadi senior.
"Aku tidak menerapkan senioritas ke juniorku. Sewajarnya aja. Misalnya junior salah, kita tegur dengan baik, bukan dengan unsur kekerasan fisik maupun mental," ungkapnya bijak.
Melihat kembali maraknya kasus bullying di Indonesia belakangan ini, Ratu Azalia berharap ada tindakan nyata dan sistematis dari pihak berwenang agar kejadian serupa tak lagi menelan korban jiwa maupun mental.
"Makanya bullying ini harus benar-benar jadi konsentrasi pemerintah maupun pihak sekolah untuk lebih memperhatikan murid-muridnya," pungkas Ratu Azalia. (Ari)