Buntut Penerima Beasiswa LPDP Dwi Sasetyaningtyas Viral, Wamen Stella Christie : Kegagalan
Dedy Qurniawan February 24, 2026 01:03 AM

BANGKAPOS.COM - Kontroversi yang menyeret nama alumni beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Dwi Sasetyaningtyas, menarik perhatian serius dari pemerintah.

Hal ini dipicu oleh konten di media sosial yang menarasikan kebanggaan atas status kewarganegaraan asing anaknya dengan kalimat "Cukup saya WNI, anak jangan".

Menanggapi fenomena tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendikti Saintek), Stella Christie, memberikan pandangan mendalam mengenai etika dan moralitas para penerima beasiswa negara.

Menurutnya, kegaduhan ini menunjukkan adanya pergeseran pemahaman terhadap hakikat beasiswa itu sendiri.

Stella Christie menilai bahwa tindakan Dwi Sasetyaningtyas mencerminkan hilangnya nilai moralitas dalam memandang bantuan pendidikan dari negara.

"Kontroversi yang muncul belakangan ini pada dasarnya mencerminkan kegagalan pendidikan moral pada tahap awal kehidupan. Beasiswa tidak dipahami sebagai amanah, melainkan sekadar fasilitas. Di sinilah letak persoalannya," ujar Stella kepada Kompas.com pada Minggu (22/2/2026).

Ia menekankan bahwa setiap dana yang dikeluarkan negara untuk menyekolahkan anak bangsa harus dianggap sebagai utang budi yang besar, bukan sekadar hak yang bisa dinikmati tanpa rasa tanggung jawab moral kepada tanah air.

Lebih lanjut, Stella menjelaskan bahwa solusi dari masalah ini bukanlah dengan memperketat birokrasi atau menambah lapisan pembatasan bagi penerima beasiswa.

Baginya, pengetatan yang berlebihan justru bisa memicu dampak negatif bagi psikologis para pelajar Indonesia di luar negeri.

"Pembatasan yang berlebihan justru berpotensi menumbuhkan sikap sinis: penerima beasiswa menjadi kurang bersyukur kepada negara dan sibuk mencari celah untuk menghindari kewajiban. Yang lebih dibutuhkan adalah kepercayaan, memberi ruang bagi para penerima beasiswa untuk menemukan caranya sendiri dalam memberi manfaat bagi bangsa," jelas Stella.

Ia mencontohkan bagaimana diaspora India di Silicon Valley tetap bisa berkontribusi besar bagi negaranya tanpa harus dipaksa pulang seketika.

Sebagai sosok ilmuwan yang lama berkiprah di kancah internasional, Stella Christie mengaku selalu bangga membawa identitas Indonesia dan mewajibkan keluarganya berbahasa Indonesia.

Ia mengingatkan bahwa pengabdian tidak selalu harus dilakukan di dalam negeri, namun harus dilandasi rasa cinta pada tanah air.

"Hampir semua ilmuwan diaspora Indonesia yang saya kenal menunjukkan dedikasi kuat untuk memberi kembali kepada Tanah Air dan membuka peluang bagi sesama. Semoga kita terbuka bahwasanya memberi kembali kepada negara memiliki banyak bentuk," ungkapnya.

Kasus Dwi Sasetyaningtyas sendiri kini telah mendapat teguran resmi dari pihak LPDP, meskipun sang alumni tercatat pernah melakukan berbagai aksi sosial di Indonesia sejak lulus pada tahun 2017 lalu. (Tribun Jatim/ Bangkapos.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.