20 Ribu Produk Herbal dan Kosmetik Beredar, Baru Puluhan yang Jalani Tahapan Riset Ilmiah
Anita K Wardhani February 24, 2026 02:19 PM

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Dari lebih 20.000 produk herbal yang telah mengantongi izin edar, hanya sekitar 71 hingga 91 produk yang telah melalui tahapan riset hingga uji klinis atau berstatus obat herbal terstandar.

Hal inilah yang disoroti Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI), Taruna Ikrar dalam kegiatan Nosé Innovation Day di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin (23/2/2026).

Baca juga: Kepala BPOM: Produk Alkes dan Obat Asal AS Tetap Harus Kantongi Izin Edar Dari Badan POM

Karena itu, ia menekankan pentingnya meningkatkan riset ilmiah pada produk herbal dan kosmetik berbasis tanaman lokal di Indonesia.

Jumlah tersebut dinilai masih kurang untuk memastikan mutu, keamanan, dan khasiat produk secara ilmiah.

“Jumlah tersebut masih kurang dari 1 persen yang menggunakan scientific batch.” kata Taruna

Seperti jamu yang telah digunakan turun-temurun, keamanan dan mutu produk tetap perlu dibuktikan melalui standar regulasi modern dan penelitian ilmiah.

“Pengujian keamanan umumnya dilakukan melalui uji toksisitas akut dan kronis pada tahap pra klinis, sebelum dilanjutkan ke tahap klinis pada manusia. Proses ini bertujuan memastikan bahwa produk aman, bermutu, serta memiliki khasiat yang terukur secara ilmiah,” jelas dia.

Ia pun menyambut baik inisiatif penguatan fasilitas riset dan kolaborasi lintas sektor, termasuk pendirian pusat inovasi oleh pelaku industri, yang dinilai dapat mempercepat proses pengembangan produk berbasis penelitian.

Dengan peningkatan jumlah produk yang berbasis riset dapat memperkuat kredibilitas industri herbal dan kosmetik nasional dan daya saing di tingkat global.

Baca juga: Tips Puasa Lancar dan Tetap Produktif dari El Rumi: Jaga Kesehatan Lambung dengan Produk Herbal

“Akhirnya industri kosmetik dan herbal Indonesia semakin kuat dari sisi regulasi, mutu, dan kepercayaan publik,” tutur Taruna.

Dalam kesempatan yang sama, Taruna meresmikan Nosé Innovation Center sebagai pusat kolaborasi riset lintas sektor. Rangkaian kegiatan juga mencakup pameran hasil riset ekstrak tanaman lokal yang dikembangkan bersama universitas dan mitra industri, serta pengenalan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau AI.

Vice-CEO PT Nosé Herbal Indo, Sri Rahayu Widya Ningrum, menyatakan forum tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem inovasi nasional dan mendorong pengembangan produk berbasis bahan lokal yang memenuhi standar mutu dan regulasi.

Dari sisi universitas, akademisi dari Universitas Mulawarman Prof Enos Tangke Arung mengungkapkan harapan, agar hasil riset kampus tidak berhenti sebatas publikasi ilmiah, tetapi dapat diimplementasikan nyata melalui kerja sama dengan dunia industri.

Menurutnya, pemerintah berperan penting dalam mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi dan perusahaan.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.