Kisah Pilu Pasutri Lansia di Cirebon: Rumah Rapuh Hidup Bergantung Saudara, Setiap Malam Ketakutan
Kemal Setia Permana February 24, 2026 02:28 PM

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON- Di balik dinding lembap itu, sepasang suami istri lanjut usia (lansia) sia di Kampung Kanoman Selatan, Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, bertahan hidup dengan bergantung pada bantuan saudara.

Rumah bernomor 41 di Gang Pulo Kaca, RT 2/8 itu tampak memprihatinkan danterlihat rapuh.

Atapnya berlubang dan kayu-kayu penyangganya lapuk dimakan usia.

Pagar besi di bagian depan sudah berkarat.

Cat dinding mengelupas, sementara bagian atap terlihat berlubang hingga memperlihatkan rangka kayu yang lapuk.

Sementara di ruang utama, kondisi plafon tampak hancur dan menggantung.

Beberapa bagian berlubang besar, membuat cahaya matahari bebas menembus ke dalam ruangan.

Dinding berwarna hijau kusam dipenuhi bercak lembap dan semen yang rontok.

Baca juga: Aksi Kocak Kakang Rudianto Bawa VAR Sendiri ke Wasit, Adam Alis pun Langsung Tertawa

Di bagian tengah rumah yang menyerupai dapur terbuka, tumpukan barang bekas dan bambu penyangga berserakan.

Atap di area tersebut hampir hilang menyisakan struktur kayu miring yang tampak tak lagi kokoh.

Di kamar tidur sempit di bagian belakang, sebuah kasur dipasangi kelambu seadanya.

Terpal biru menutup sebagian atap untuk menahan air hujan agar tak langsung menetes ke tempat tidur.

Di dinding kamar, tergantung beberapa bingkai foto dan simbol salib.

Potret atap rumah milik Hadiyanto dan Sri Puspitasari, warga Kampung Kanoman, Cirebon
RUMAH RAPUH - Potret atap rumah milik Hadiyanto dan Sri Puspitasari, warga Kampung Kanoman Selatan Nomor 41 di Gang Pulo Kaca, RT 2/8, Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon. Rumah pasangan lansia ini sangat rapuh dan memprihatinkan.

Pemilik rumah, Sri Puspitasari (67), mengatakan rumah itu sudah sangat lama tak pernah direnovasi.

Terakhir kali renovasi terjadi pada tahun 1974, itu pun hanya skala kecil.

“Tahun 1974 (direnovasi),” ujar Sri, Selasa (24/2/2026).

Dalam lima tahun terakhir, kondisi bangunan semakin memburuk.

Kayu-kayu penyangga atap mulai lapuk dan sebagian runtuh.

Sri benar-benar tak mengerti harus bagaimana, yang ia rasakan hanyalah menjalani hidup dalam rasa cemas setiap hari.

Ia dan suaminya, Hadiyanto, tak pernah benar-benar tidur nyenyak.

“Takut. Kalau tidur ada bunyi ‘prak-pruk’ gitu tuh, besoknya lihat genting jatuh,” jelas dia.

Baca juga: Dedi Mulyadi Pastikan Proses Hukum Dugaan TPPO 13 Warga Jabar di NTT Terus Berjalan

Saat hujan turun di malam hari, kecemasan itu semakin menjadi.

Ia tak pernah bisa tidur nyenyak sebab sedikit-sedikit bangun.

"Kalau hujan malam, ya sudah… pakai terpal,” katanya.

Untuk kebutuhan makan sehari-hari, Sri mengandalkan bantuan kakak iparnya.

Memang ia pun menyempatkan diri memasak jika ada rezeki.

"Kalau enggak masak, kakak ipar mengirim. Habis mau usaha apa,” ujarnya.

Sri pernah mencoba berjualan nasi kuning dan kue kering.

Bahkan, dulu ia mampu memproduksi hingga empat kilogram kue kering per hari.

Namun kondisi kesehatan dan keterbatasan modal membuat usahanya terhenti.

“Pengin bikin kue kering lagi. Sehari 4 kilo produksi. Biarpun sudah orang tua, enggak apa-apa sih kata saya kalau jualan laris enggak terasa capek,” ucap Sri.

Sri mengaku sudah mengajukan bantuan perbaikan rumah kepada pemerintah namun hingga kini belum ada kepastian.

Baca juga: BREAKING NEWS: Kantor Bakesbangpol Sumedang Digeledah, Diduga Terkait Dugaan Korupsi SPJ Fiktif

Hanya satu kata saja yang selalu ia terima.

"Katanya ‘Sabar ya’. Enggak tahu kapan, belum ada kabarnya," ujar Sri.

Kesedihan kerap menghampirinya. Bahkan saat beribadah di gereja, air matanya tak jarang jatuh.

“Sedih, nangis saja. Di gereja juga saya berdoa tuh nangis. Saya bilang, ‘Tuhan minta tolong, minta didatangkan bantuan-bantuan,’” katanya.

Meski hidup dalam keterbatasan, Sri tetap mendoakan siapa pun yang menolongnya.

“Saya doain biar sukses. Siapa saja yang menolong, saya ingat,” ujarnya, lirih.

Kini, di usia 67 tahun, Sri hanya berharap satu hal sederhana yaitu rumahnya bisa diperbaiki agar ia dan suaminya tak lagi dihantui rasa takut setiap malam.

“Enggak nyenyak. Takut, takutnya kerubuhan ya,” ucap Sri, pelan.

Meski tanpa kepastian di tengah kondisi kayu-kayu penyangga rumahnya yang satu per satu mulai tumbang dimakan waktu, harapan Sri untuk mendapatkan kondisi lebih baik tetap menyala. (*)  

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.