TRIBUN-MEDAN.com - Aksi demonstrasi memprotes kekerasan aparat di depan Mapolda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Senin (24/2/2026) malam, berlangsung ricuh.
Unjuk rasa ini memprotes aksi kekerasan aparat yang selama ini dialami warga sipil, termasuk siswa SMP di Maluku yang dianiaya anggota Brimob.
Aksi demonstrasi di Jogja diwarnai bentrok antara demonstran dengan polisi.
Sejumlah peserta aksi ditangkap aparat berpakaian preman.
Berdasar pantauan Reporter Tribun Jogja di lokasi, aparat yang berbaur dengan warga membawa sejumlah demonstran yang tertangkap melalui pintu sayap timur yang bersebelahan langsung dengan Masjid Polda DIY.
Ada dua orang bagian dari massa yang dipiting aparat dan langsung dimasukkan ke dalam gedung induk Polda DIY.
Belum diketahui jumlah demonstran yang tertangkap.
Massa peserta aksi sempat menggelar acara doa bersama di depan Mapolda DIY.
Massa aksi juga menggelar salat gaib dan salat Isya berjamaah di ringroad sebagai bentuk solidaritas serta penghormatan bagi para korban kekerasan aparat yang terjadi belakangan ini.
Yazi, perwakilan massa aksi mengatakan doa ditujukan untuk mereka yang menjadi korban kejahatan polisi seperti Gamma Rizkynata, Afif Maulana, dan Arianto.
Mereka adalah para korban kekerasan aparat di berbagai daerah.
Gamma (17) meninggal di Semarang, Afif (13) di Padang, dan terbaru Arianto (14) di Tual, Maluku yang meninggal dunia akibat penganiayaan Brimob.
"Aksi ini adalah bentuk mendoakan mereka. Semoga mereka tenang di alam sana dan semoga para polisi itu bisa sadar bahwa hal yang mereka lakukan itu adalah hal yang salah," kata aktivis HMI ini, di depan Polda DIY.
Yazi mengungkapkan, doa juga ditujukan kepada banyak korban-korban demo Agustus tahun lalu yang ditangkap dan direpresi oleh aparat kepolisian tanpa kejelasan serta untuk teman-temannya peserta demo Agustus tahun lalu yang ditangkap, termasuk Perdana Arie Putra Veriasa, mahasiswa UNY yang baru saja bebas dari penjara.
Yazi mengaku ikut aksi malam ini bukan karena dirinya sebagai mahasiswa UGM, melainkan juga bagian dari masyarakat yang berharap adanya reformasi di tubuh Polri.
"Setidaknya kita berdoa dari hati yang kita yang paling dalam, bahwa Allah nggak akan pernah diam. Mungkin itu aja dan kita doakan," kata dia.
Ia berharap para korban bisa tenang di alam sana. Sementara para oknum pelakunya diberikan kesengsaraan hidup tidak tenang.
"Setidaknya sampai mereka mendapatkan balasan baik itu di dunia maupun di akhirat," ujarnya.
Massa aksi mengaku marah dan kecewa terhadap Polri atas peristiwa penganiayaan yang terjadi di Tual, Maluku ini mulai mendatangi Mapolda DIY selepas waktu maghrib.
Mereka datang secara bergelombang, berjalan kaki dari arah timur.
Sepanjang aksi, konsentrasi massa bertahan di gerbang timur dan sebagian lainnya berada di seputar ringroad depan Polda.
Tak berlangsung lama, massa mulai melakukan coretan keresahan seperti All Cops are bastard, pembunuh dan lain sebagainya.
Massa juga memblokade jalan ringroad sebelah barat gedung Polda.
Di lokasi ini massa memasang water barrier di jalur lambat, maupun jalur cepat yang mengarah dari barat ke timur, sehingga arus lalu lintas terpaksa harus dialihkan.
Massa aksi menuntut agar polisi sadar bahwa mereka tidak bisa bertindak semena-mena terhadap rakyat.
"Tidak boleh ada lagi korban yang timbul dari rakyat, tidak boleh ada lagi korban dari demo. Kita tahu bahwa korban dari demo Agustus tahun lalu yang bisa dibilang ada yang menewaskan teman-teman dari Amikom dan mendapatkan banyak korban," kata Yazi.
"Kita berharap setidaknya dengan cara salat gaib dan aksi ini kita berharap setidaknya polisi itu akan sadar dan melakukan reformasi," lanjut Yazi.
Dia juga mengutuk keras bentuk kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian terhadap rakyat.
Yazi mengaku berbicara atas nama keresahan masyarakat yang muak dengan kekerasan aparat. Bukan lagi sebagai mahasiswa.
"Kami tidak mengatasnamakan sebagai mahasiswa UGM atau apa pun. Tapi kami mengatasnamakan masyarakat karena kami adalah bagian dari masyarakat itu sendiri."
"Kami adalah masyarakat yang resah dengan kelakuan para polisi, yang resah, yang muak dengan kelakuan para oknum polisi yang mungkin bisa dibilang bukan lagi oknum tapi itu polisi itu sendiri. Jadi kami berharap dan juga meminta masyarakat yang lain sadar," ujar dia.
Selepas salat, massa aksi dipukul mundur oleh sekelompok warga yang berdatangan dari sisi timur Polda DIY.
Mereka datang membubarkan massa dengan membawa kayu dan bambu.
Massa aksi yang sempat bertahan di depan Polda langsung berlarian menyelamatkan diri ke arah barat.
Konsentrasi massa sempat bertahan di depan halte Pakuwon mall sebelum akhirnya kelompok warga yang lain juga datang dari sisi barat dan memaksa massa membubarkan diri.
Pantauan Tribun Jogja, aparat berpakaian preman, yang berbaur dengan warga sempat menangkap sejumlah massa aksi yang tak sempat melarikan diri.
Aparat memiting mereka yang tertangkap kemudian dimasukkan ke gedung utama Mapolda DIY lewat pintu sayap timur.
Kabid Humas Polda DIY Kombes Pol Ihsan menyesalkan adanya tindakan anarkis para massa seruan aksi di Mapolda DIY sejak Selasa petang (24/2/2026).
Ihsan mengatakan massa aksi tiba di Mapolda DIY pada Selasa petang sekitar pukul 18.00 WIB. Mereka kemudian berusaha masuk dengan cara merusak pagar sisi timur dari gedung Polda DIY.
“Mereka melakukan perusakan pagar sisi timur, kemudian masuk dan diterima Dirintelkam dengan baik,” katanya, saat dihubungi, Selasa malam.
Pihaknya meminta massa aksi tidak terpancing provokasi yang mengakibatkan kericuhan.
Meski sempat diwarnai aksi vandalisme dan perusakan sejumlah sarana Mapolda DIY, Ihsan mengklaim pihak kepolisian tetap melakukan pengamanan dengan kondusif.
“Kami imbau massa tidak terprovokasi, dan jangan bertindak anarkis,” tegas Ihsan.(rif/hda/hdy)